in

Korupsi Proyek Pelabuhan Batang, Terdakwa Divonis 4 dan 5 Tahun Penjara

Majelis hakim menyatakan kedua terdakwa telah terbukti melakukan korupsi secara bersama-sama.

Majelis hakim Pengadilan Tipikor Semarang menyidangkan kasus korupsi Pelabuhan Batang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Sidang korupsi proyek pembangunan lanjutan fasilitas Pelabuhan Batang memasuki tahap akhir. Dua orang yang menjadi terdakwa divonis hukuman berbeda.

Terdakwa Hariani Octaviatiningsih selaku pejabat pembuat komitmen (PPK) proyek tersebut, divonis 4 tahun penjara.

“Menghukum terdakwa Hariani Octaviatiningsih dihukum 4 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider 3 bulan penjara,” ucap Ketua Majelis Hakim Judi Prasetya, Senin (8/1/2024).

Sementara terdakwa lain, Muhammad Syihabudin selaku pelaksana proyek Pelabuhan Batang dihukum pidana penjara selama 5 tahun serta denda Rp500 juta.

Terdakwa Syihabudin juga dibebani membayar uang pengganti kerugian negara senilai Rp3,3 miliar. Apabila tidak dibayar maka harta bendanya akan dilelang untuk menutupi kerugian negara, jika tidak cukup akan diganti pidana kurungan 2 tahun dan 6 bulan.

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menyatakan kedua terdakwa telah terbukti melakukan korupsi secara bersama-sama dengan memperkaya diri sendiri dan orang lain.

Pada saat menjalankan proyek yang menggunakan APBN tahun 2015 tersebut, terdapat perubahan yang tidak sesuai kontrak di mana kualitas dan kuantitas berbeda. Namun, perubahan metode dan biaya itu tidak dilaporkan dan tidak ada perubahan kontrak secara tertulis.

Akibatnya, negara mengalami kerugian dari nilai proyek Rp25,5 miliar yang dimenangkan kontraktor PT Pharma Kasih Sentosa itu. “Ada selisih antara pembangunan dan realisasi anggaran. Akibat perbuatan para terdakwa terjadi kerugian Rp12,4 miliar,” ungkap Judi.

Vonis tersebut lebih rendah dibanding tuntutan jaksa. Sebelumnya Hariani dituntut 8,5 tahun penjara dan denda Rp500 juta. Sedangkan Syihabudin dituntut 9,5 tahun penjara dan denda Rp 500 juta dan uang pengganti Rp9,2 miliar. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar