in

Konspirasi di Balik Hamburger

Hidup berubah berawal dari makanan.

Kamu boleh bilang, “Ini konspirasi global..”. Bukan berarti kamu pasti benar. Bukan berarti, dalam semua hal, “ini” yang kamu maksud tadi sepenuhnya konspirasi.

Hamburger itu konspirasi, kalau mindset kita konspirasi.

Hamburger terjadi karena konspirasi. Hamburger terbuat dari roti, sayuran, daging, keju, dan saos. Hujan turun, rumput tumbuh, dimakan kambing atau sapi, ada koki, kendaraan untuk membeli hamburger, dan sekitar 5000 kata yang berhubungan agar “hamburger” terjadi. Hamburger ada dengan didahului adanya bumi, manusia, dll. agar terjadi hamburger yang sedang saya makan sekarang.

Kita tidak tahu pasti, kapan ada sapi pertama kali ada di muka bumi, terlepas kamu percaya evolusi atau tidak. Namun kita mengalami “sapi”, melihat sapi, dan tahu kalau kebanyakan manusia doyan daging sapi di dalam hamburger.

Tidak salah kalau orang membuat cerita tentang “ini konspirasi”, tetapi betapa beratnya kalau setiap hal kita pikirkan -sebagai- konspirasi.

Saya percaya, konspirasi itu ada, tetapi belum tentu yang sedang saya hadapi sekarang selalu konspirasi.

Media tempat saya bekerja juga suka konspirasi, mereka sering melempar rumor kemudian merencanakan issue tertentu menjadi running (berita beruntun, beberapa hari). Kalau tidak ada perencanaan, melibatkan banyak orang, tidak ada berita.

Pesawat luar angkasa, yang diceritakan di berita tentang konspirasi, bentuknya kuno, biasa-biasa saja. Berbeda dengan pesawat yang difantasikan dalam film fiksi-ilmiah.

Konspirasi tersaji sebagai “cerita”. Tidak jarang, orang menganggap informasi seperti prasmanan, comot sana-sini, sajikan dalam 1 piring kemudian nikmati.

Cara belajar sejarah juga demikian, sering dicampur-campur. Kawan saya pernah bertanya, “Siapa Raja Terakhir kerajaan Majapahit?”. Saya mengerti, arah pembicaraannya akan ke Brawijaya V dan kerajaan setelah Majapahit. Dia memakai sejarah model “prasmanan”, dari mengumpulkan informasi sana-sini, kemudian mengatakan kalau Raja Pertama kerajaan Majapahit adalah Raden Wijaya dan Raja Terakhir adalah Brawijaya V. Menurut versi sejarah yang diverifikasi, dari peninggalan kitab dan prasasti, apa yang dipercaya kawan saya itu nggak benar. Dia benar karena memilih percaya kalau itu benar.

Ini terjadi karena dia tidak tahu apa itu metodologi sejarah, apa kata Negarakertagama dan Pararaton tentang raja-raja Majapahit, serta tidak tahu apa kata prasasti Majapahit. Jadinya, ia pilih pintasan: browsing di Google, dengar kata orang, pilih yang cocok, kemudian kembangkan menjadi suatu benang merah -tentang- Majapahit.

Hampir sama seperti kasus konspirasi tadi. Mereka percaya dan mengikuti suatu peristiwa besar di dalam pikirannya, suatu “niskala”, kemudian apa-apa dihubungkan dengan cerita tersebut, tanpa melakukan disiplin verifikasi yang ketat. Hasilnya, prasangka.

Konspirasi atau bukan, ada kebenaran di dalam hal-hal yang kita alami.

Kita bisa menikmati hamburger dengan beban berat, dengan menghubungkan 5000 kata yang membentuk hamburger, atau tidak memikirkan apa-apa tentang hamburger. Kebenaran yang terjadi: kalau kamu makan hamburger yang bergizi, manfaatnya tentu bagus bagi tubuh. Saya tidak suka saos pedas. Harga 15K dapat ukuran segini, membuat saya senang. Kebenaran seperti ini, yang saya alami, melampaui pikiran saya tentang konspirasi.

Kamu mau bilang COVID-19 konspirasi atau tidak, sedikit atau banyak berita tentang itu, yang jelas ada kebenaran di dalamnya. COVID-19 adalah penyakit yang sedang mengubah dunia.

Besok lebih penting. Reaksi kita mau seperti apa, memilih menjadi bagaimana, itulah kebenaran yang sedang terjadi. Hidup saya sekarang, berjalan dengan “kebenaran” yang saya alami. Hidup saya tidak dibentuk dengan cerita konspirasi.

Perspektif tentang konspirasi itu baik, selagi data yang masuk tidak berdasarkan dugaan dan logika semata.

Seandainya kita mau lebih ilmiah, misalnya, melihat apa saja yang membentuk hamburger, mungkin akan lebih “mengubah hidup” kita. Mengajak anak kecil menilai, apa saja yang ada di balik makanan ini, mendiskusikan mengapa pecel perlu kita pertahankan atas nama ketahanan pangan dan kesehatan, agar setiap hari kita bisa konsumsi sayuran organik. Itu lebih bermanfaat daripada bicara konspirasi dari perspektif “dugaan”. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.