in

Kolaborasi Gamelan, Foley, dan Hardrock

Catatan tentang kolaborasi musik agar para amatir keluar dari zona nyaman mereka.

Sore itu saya mendapat kiriman musik dari seorang kawan. Semacam undangan untuk acara mereka, untuk ngopi sambil dengar musik kolaborasi gamelan dan hardrock. Mungkin intinya bukan di musiknya, melainkan di ngopi bareng. : )

Tulisan ini bukan komentar untuk kolaborasi itu. Tulisan saya ini semacam catatan untuk kawan-kawan yang mau kolaborasi seperti itu.

.. karena saya sering lihat kolaborasi instrumen yang dalam perpektif musikalitas saya, sudah gagal sejak awal.

Menetapkan Visi

Tetapkan visi musik yang jelas. Kamu mau apa? Sekadar eksperimen teknik, eksplorasi ide, bikin kebisingan di telinga, atau bikin alasan berkumpul?

Visi ini yang bikin orang bersatu, melihat cakrawala yang sama. Biarpun mungkin berdiri di atas kapal berbeda, atau masing-masing pegang peta, mereka menempuh titik-temu yang sama.

Tanpa visi yang jelas, permainan akan menjadi milik seseorang dan kebersamaan hanya sementara. Rentan hancur dan tenggelam.

Karakter Elemen Musik

Pahami karakter setiap elemen musik. Kalau kolaborasi gamelan dan hardrock, atau foley dan bebunyian lain, pahami karakternya.

Identifikasi peran masing-masing elemen musik: Mana yang akan berperan sebagai melodi, ritme, efek suara, dan energi?

Kamu bisa saja “subversive”, antikemapanan, dalam bermusik, atau menolak “status quo” permusikan — sekaligus jangan lupa, untuk apresiasi, pendengar kamu butuh pintu-masuk.

Mereka akan bertanya yang masih ada hubungannya dengan musik itu.

Bagaimana kamu memperlakukan melodi, ritme, harmoni, efek suara, dst. Adanya nada, skala, instrumen, tempo, dinamika, semua itu berasal dari sejarah panjang.

Kita tidak bisa memasuki rumah, tanpa pintu-masuk.

Kamu bisa bermain tempo kalau mengerti tempo. Kamu bisa bilang “ini eksperimental..” kalau tahu bagian mana yang mau kamu bongkar.

Amatir dan Zona Nyaman Bermusik

Kebanyakan pemusik, memilih berada di jalur amatir. Mereka bermusik karena suka. Dan tidak menyadari bahwa mereka berada di jalur amatir. Mereka memainkan hardrock karena bermain suka bermain hardrock. Mereka bermusik karena ingin berada di hardrock. Hanya suka hardrock. Belok ke mana saja, kembalinya ke hardrock. Tidak mau dengar dan mempelajari wawasan lain. Itulah amatir yang bikin kubangan bernama zona nyaman.

Zona yang sangat berbahaya dalam kreativitas. Zona yang tidak pernah siap untuk melakukan kolaborasi.

Untuk keluar dari zona nyaman, dengarkan suara lain, perspektif berbeda. itu sebabnya, saya sarankan untuk selalu belajar tentang suara dan musik, kalau perlu dari pandangan yang berbeda.

Eksplorasi Kombinasi Suara

Eksplorasi kombinasi suara. Ini nggak ada matinya. Bisa sangat lama.

Setiap hari saya merekam suara. Saya membuat “ambient music” dan melakukan eksperimen. Saya membuat museum suara di Android, yang berisi FPS (bukan lagi GPS) dan suara tempat saya singgah. Saya suka bermain frekuensi, editing, dan meneliti dampaknya bagi pendengar.

Singkatnya, eksplorasi suara dan musik itu nggak ada habisnya. Sangat menyenangkan. Jangan pernah lelah ketika ide kamu sedang terbentuk.

Cari Lebih Banyak Wawasan Bermusik

Tiktok penuh para pemusik yang berbagi rahasia, bagaimana mereka bisa bikin aransemen.

Para penggemar “loseless” dan “audiophile”, punya kerajaan sendiri yang menjaga telinga mereka, tidak mau mendengarkan lagu dengan kualitas pasaran. Mereka meninggalkan lagu yang dikompresi, kebanyakan desis, di bitrate 128, mereka tinggalkan itu.

Clean Bandit, yang bikin lagu “Rockabye”, menyukai instrumen analog. Mereka menceritakan bagaimana lagu Rockabye diaransemen. Clean Bandit jenius musik.

Sama seperti Belle Susoski, yang menyingkap sedikit sekali bagaimana lagu “Hold on” diaransemen dari “suara” dan “instrumen” etnis.

Eksperimen binaural, meditasi melalui suara, “mengatur” emosi dengan frekuensi, tidak pernah berhenti.

Sekarang, sudah ada teknologi yang bisa memainkan suara tumbuhan. Ada konektor dari tumbuhan ke peralatan yang berfungsi seperti oscilator, memperkuat modulasi, kemudian telinga manusia bisa mendengarkan suara tumbuhan itu. Usia pohon, besar kecil batang, dan jenis tanaman, mempengaruhi suara yang keluar.

Karakter Bunyi

Ketika kamu memilih instrumen etnis, misalnya, gamelan, kemudian kamu kolaborasi dengan hardrock, prosesnya tidak semudah yang dibayangkan orang.

Langkah pertama adalah mengenali karakter bunyi.

Arranger sering tergesa-gesa dengan menempatkan bunyi ini, kemudian diberi efek. Tidak jarang, peran bunyi instrumen etnis ini hanya untuk pengiring atau berperan di bagian lagu tertentu.

Modifikasi instrumen etnis, sesuaikan dengan permainan kamu.

Kita tidak harus polosan, memakai bonang seperti aslinya. Rekaman bonang perlu “disesuaikan” dengan genre musiknya. Seruling bisa diberi distorsi, agar energi musiknya berubah.

Pertimbangkan struktur dan pengaturan musik secara keseluruhan.Buat transisi yang tidak konvensional, misalnya.

Mengapa karakter instrumen ini perlu perhatian pertama? Karena instrumen ini memiliki “nuansa” dan “energi” masing-masing.

Perbedaan Skala

Coba kita pikirkan tentang skala. Ketika bunyi “bonang” dan “gitar elektrik” dipadukan. Bonang sebagai instrumen yang biasanya memainkan skala pentatonis, bermain bersama gitar yang sering di skala diatonis. Sense ini sudah berbeda.

Ketika permainan tidak mengenali karakter instrumen, hasilnya seperti yang sering kita lihat: skala pentatonis sering dipaksa hanya memjadi pelengkap atau direduksi menjadi “nada”. Kehilangan sense atau nuansa tradisional.

Kasus seperti ini sering terjadi. Warna suaranya gamelan, diperlakukan sebagai nada, kemudian masuk synthesizer, menggantikan melodi gitar atau bass.

Nuansa dan energi gamelan itu hilang.

Ketika suara bonang diganti dengan nada yang mirip, ketika pemusik bermain dengan synthesizer. Tempo dan ritme tetap. Dinamika dan emosi permainan, hilang. Fisik suara dan intensitas (pukulan, tekanan, gesekan), sudah berbeda. Tidak bisa diakali hanya dengan volume dan efek.

Inilah sebabnya, “kolaborasi” bukan hanya memadukan 2 hal yang berbeda.

Energi dan Manusia

Kolaborasi tidak harus menghilangkan energi bawaan instrumen itu. Bonang, seruling, itu dipilih karena energinya.

Kalau ada ensamble bambu, dimainkan tanpa intensitas, buat apa manusianya di situ?

Pukulan, tekanan, gesekan, itulah yang membedakan permainan manusia (pemusik) dengan synthesizer. Sekali lagi, kolaborasi sering gagal karena pemusik dan arranger tidak memahami karakter instrumen dan skala nada.

Harmony dan Melody

Sekarang, kita bicara tentang ketegangan harmony dan melody Kadang perlu pertukaran peran yang saling mengisi, dalam harmonisasi dan akord, misalnya: gitar listrik menjadi instrumen harmoni ketika bonang menjadi instrumen melodi. Atau sebaliknya. Gitar listrik lebih leluasa bermain solo dan improvisasi.

Efek gitar bisa memberi dimensi suara yang lebih kaya. Gitar bisa menambahkan ritme atau pola arpeggio yang melengkapi pola ritmis yang dimainkan oleh bonang. Gitar bisa menjadi agresif, tapping, agar permainan lebih hidup.

Gitar listrik dapat berfungsi sebagai alat akord yang mengisi ruang suara dengan pad harmoni yang melengkapi melodi bonang.

Cobalah untuk mencari akord-akord yang cocok dengan melodi bonang dan mainkan mereka dalam pola yang berulang-ulang untuk menciptakan pad harmoni yang kaya.

Kalau lebih suka harmoni, bisa memakai gitar dengan teknik arpeggio.

Eksperimen akord alternatif, seperti maj7, sus4, atau akord-akord dengan tambahan not-not tertentu, untuk menciptakan warna harmoni yang berbeda.

Dalam kolaborasi, ada ekspresi irama. Mainkan ritme yang berbeda pada gitar untuk menjaga harmoni yang konsisten dengan melodi bonang.

Eksplorasi Teknik

Ini sebenarnya tidak hanya pada bonang. Kita bisa eksplorasi teknik. Pengetukan, cara memukul, dan dipukul pakai apa, bisa menghasilkan nuansa berbeda. Pola ritme dan notasi juga perlu mendapatkan perhatian. Bonang menggunakan notasi gamelan, seperti “pangkon” dan “bung” yang menunjukkan penekanan dan penurunan volume suara. Sekali lagi, setiap instrumen memiliki karakter sendiri.

Berlatih 8 jam sehari itu sudah “rata-rata” untuk pemain yang sedang belajar teknik.

Singkatnya, jangan ada masalah “teknik” ketika sudah melakukan kolaborasi.

Foley di Telinga Evan

Di film “August Rush” (2007), kita.melihat jenius-musik Evan Taylor punya telinga ajaib, yang bisa mengaransemen suara di sekitarnya, menjadi orkestra. Telinga Evan mengubah bunyi dan suara di jalanan menjadi studio foley.

Foley adalah teknik produksi suara yang digunakan untuk merekam ulang suara efek yang tidak bisa direkam secara alami selama pengambilan gambar film. Foley bisa berasal dari suara keseharian.

Inilah hebatnya musik. Kita bisa memperlakukan suara orang berjalan, kalau kita dekat dengan mereka yang sedang berjalan. Merekam sendiri. Bukan browsing mencari stok musik suara orang berjalan. Bukan.

Musik itu bukan download, bikin “loop”, tanpa menyelami kebudayaan di balik suara orang berjalan. Suara orang mengaji, suara orang nembang, itu budaya, yang tidak bisa kita rampas.

Pemusik dan arranger bukanlah para pencuri kebudayaan, yang memilih versi rekaman realitas dan tepuk tangan di panggung.

Film menjadi hidup karena foley. Para pendengar merasakan “culture”, sejarah, karakter, karena kemampuan seniman foley untuk menghadirkan kembali bebunyian itu, tanpa kehilangan energi.

Dengarkan dengan “Telinga Saya”

Visi bermusik Evan adalah menghadirkan kembali keajaiban telinganya, agar orang tahu kedahsyatan bunyi dan suara yang mereka dengarkan sehari-hari. Seniman menggunakan indera, melihat apa yang tidak dilihat orang lain, mendengarkan apa yang tidak didengarkan orang lain.
August Rush punya telinga foley.

Belle Susoski memakai suara teriakan perang, instrumen etnis, dan bonang, untuk lagunya. Eksporasi kreatif, mixing dan mastering, kualitas audio yang optimal, itu proses kreatif yang tidak ada habisnya. Seperti memainkan filter, emvelope, dan modulasi pada electone analog. Rockabye memakai cara ini. Karakteristik suata, fleksibilitas, responsivitas, presisi dan kualitas, itu semua syarat utama jauh sebelum melakukan rekaman dan aransemen.

Tepatnya, tidak hanya “telinga”. Musik bukan sebatas permainan. Musik itu budaya, manusia, komunikasi, empati, seluruh indera, hati, teknik, pikiran. Jika musik berlaku demikian, bukan sekadar berhenti sebagai “file” dan “pertunjukan”, barulah kita bisa bilang bahwa musik adalah bahasa universal.

Kolaborasi itu tidak mudah. Kreativitas itu perjalanan panjang. [dm]

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.