in ,

Kisah Kakek-Nenek Habiskan Sisa Usia di Pulau Terpencil

JEPARA- Meski tak setenar Pulau Karimun Jawa, nama Pulau Panjang memang terbilang sudah tidak asing di telinga masyarakat Jawa Tengah. Pulau seluas kurang lebih 7 hektar di Kelurahan Ujung Batu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ini memang tidak dihuni penduduk secara resmi.

Di bibir pulau terdapat pasir putih dan dikelilingi laut dangkal berair jernih. Pemandangan terumbu karang yang diam membisu di dalam air menjadi pesona eksotisme Pulau Panjang.

Sedangkan di daratan pulau merupakan hutan tropis, dominasi pohon Randu Kapuk, Asam Jawa, Dadap, serta Pinus. Selebihnya semak-semak, perdu dan hewan-hewan liar.

Pulau tersebut hanya berjarak kurang lebih 1,5 mil laut atau 2,4 km sebelah barat Teluk Awur Pantai Kartini, Jepara. Terbilang terpencil, karena akses transportasi menuju pulau tersebut hanya bisa ditempuh menggunakan perahu.

Pulau ini juga telah menjadi bagian tujuan wisatawan di Jepara. Tersedia transportasi kapal motor atau perahu wisata bahari dengan merogoh kocek Rp 20 ribu per-orang. Perjalanan bisa ditempuh kurang lebih 20 menit sembari menikmati pemandangan hamparan laut.

Meski tidak dihuni oleh penduduk resmi, tetapi ada pasangan suami-istri kakek-nenek yang hampir 50 tahun menetap di pulau kecil tersebut. Mereka adalah Mbah Karmin, 80, dan Ratening, 75. “Saya hanya menjaga hutan di pulau ini,” katanya.

Sepanjang hidupnya, ia mengaku tidak memiliki pekerjaan selain menjaga hutan liar di Pulau Panjang. Hanya hidup berdua dengan istri tercintanya di rumah mungil yang terbuat dari kayu. Sehari-hari mereka membersihkan hutan sembari mengais rizki dengan mendirikan warung kopi. Pembelinya adalah wisatawan yang menyambangi pulau tersebut. “Tidak ada penduduk lain,” katanya.

Pulau tersebut memang tidak dihuni oleh penduduk. Dia mengaku tidak memiliki tujuan lain selain ikhlas menjalani hidup di manapun berada. “Tidak ada tujuan apa-apa. Ini panggilan hati, lebih dekat dengan tuhan. Umur manusia siapa yang tahu, manusia hanya butuh ikhlas,” katanya.

Dulu, ia mengaku mencari nafkah sebagai nelayan menggunakan perahu kayu buatan. Lantas ia singgah di pulau tersebut hingga akhirnya menetap. Kadang, bisa berbulan-bulan mengarungi lautan. Sejak masih muda, ia memang terbiasa melaut hingga berbulan-bulan. “Tidak takut sama sekali, hidupnya memang di laut. Mengarungi lautan, adanya hanya hamparan air, langit, dan tuhan,” ungkapnya.

Ikan hasil tangkapannya dijual di daratan Jepara, kemudian kembali lagi ke pulau tersebut. Rutinitasnya dijalani hidup sebatangkara dijalani tanpa beban. Dulu, pulau tersebut masih sangat sepi. Tetapi sekarang terbilang sudah ramai wisatawan.

Termasuk dibangun kantor Departemen Perhubungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Distrik Navigasi Kelas II Semarang. Ada lima petugas yang kerap menginap di kantor tersebut. Sejak adanya kantor tersebut, Pulau Panjang juga memiliki penerangan listrik dengan menggunakan genset.

Karmin mengaku mendapat izin dari pihak Pemerintah Kabupaten Jepara untuk tinggal di pulau tersebut, bertugas membersihkan hutan. “Tidak digaji, hanya diperbolehkan tinggal,” katanya.

Untuk setok bahan-bahan makanan isi warungnya, ia kulakan secara bertempo di Kota Jepara dengan menggunakan perahu kayu miliknya. “Kadang seminggu sekali ke Jepara untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras dan lain-lain,” katanya. (Abdul Mughis)

Editor: Ismu Puruhito