in

Wujudkan Ketahanan Pangan dengan Budi Daya Sukun

Saat musim panen, satu pohon sukun bisa menghasilkan 50–60 buah.

Muhammad Breta Rahmadi menunjukkan salah satu pohon sukun yang ada di halaman rumahnya. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Muhammad Breta Rahmadi tampak sedang merawat pohon sukun yang ada di halaman rumahnya. Di perkampungan sempit tempat dia tinggal memang banyak pohon sukun.

Pria yang akrab disapa Mamad itu bercerita, pohon-pohon sukun di Kelurahan Peterongan RW VI, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang tersebut sudah tumbuh sejak ia masih kecil.

Konon ayahnya mendatangkan bibit pohon sukun dari Jawa Timur. Buahnya unggul, berbentuk bulat besar, isinya berwarna kuning matang, dan memiliki rasa yang manis.

Saat musim panen, satu pohon sukun bisa menghasilkan 50–60 buah. Meskipun harus diakui, sementara ini pohon yang berbuah banyak masih bisa dihitung jari.

Keluarga Mamad biasanya memanfaatkan buah sukun untuk dijadikan keripik dan getuk sukun. Namun, ia baru mengolah dalam jumlah terbatas, hanya untuk konsumsi pribadi.

Lambat laun, pohon sukun semakin produktif. Mamad pun berinisiatif untuk mengomersialkan keripik sukun buatannya. Ada keripik berbentuk bulat lebar, ada pula yang dibuat menyerupai steak.

“Keripik sukun itu tahan lama, bisa sampai satu bulan. Biasanya kami bungkus kecil-kecil, jual sendiri di warung, yang beli ya warga-warga sini sama orang lewat,” tutur Mamad saat ditemui di kediamannya, Kamis (30/12/2021).

Untuk olahan getuk belum dijual karena tidak bisa bertahan lama layaknya keripik. Getuk sukun lebih pas untuk dijual bersama jajanan pasar. Jadi dibuat, dijual, dan dimakan pada hari yang sama.

“Sebenarnya yang suka getuk sukun ya banyak. Kan jarang ada yang buat. Getuk ini seperti nasi, pokoknya kalau sudah makan getuk ya males makan nasi, soalnya pasti kenyang,” kata Mamad.

Kampung Keripik Sukun

Gapura menjadi tanda lokasi Kampung Keripik Sukun di Kelurahan Peterongan Kota Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)


Keberadaan pohon sukun di kampung yang dipimpin Mamad dipandang menjadi peluang untuk mewujudkan ketahanan pangan lokal. Peluang itu ditangkap oleh Kelurahan Peterongan.

Akhirnya, lokasi tersebut pada lima tahun lalu diresmikan sebagai Kampung Keripik Sukun dalam program kampung tematik yang digulirkan Pemerintah Kota Semarang.

Kampung ini digelontor dana Rp200 juta. Dana digunakan untuk memperbaiki akses jalan, mempercantik kampung, membangun dua gapura selamat datang di Kampung Keripik Sukun, hingga pemberdayaan masyarakat lewat pelatihan.

Pihak kelurahan menggelar pelatihan pengolahan buah sukun dengan mendatangkan pakar kuliner. Pesertanya mayoritas ibu-ibu PKK RW VI Kelurahan Peterongan.

Dari situ masyarakat setempat baru tahu bahwa sebenarnya buah yang memiliki tekstur daging yang berserat dan empuk ini tidak hanya bisa diolah menjadi keripik dan getuk.

Mereka bisa membuat buah sukun menjadi beragam kuliner, seperti donat sukun, brownis sukun, hingga piza sukun. Bahkan, buah yang disebut orang Eropa sebagai “buah roti” ini dapat diolah menjadi sayur lodeh.

“Itu kami baru tahu. Setelah pelatihan ya dipraktikkan bareng-bareng di rumah saya. Termasuk mbuat piza sukun. Cuma yang paling laku memang keripik,” ujar Mamad yang menjadi Koordinator Kampung Keripik Sukun.

Olahan sukun khas kampungnya dijual hingga ke luar kota. Kata Mamad, pihaknya sempat kewalahan melayani pembeli. Sebab, permintaan pasar tinggi tetapi bahan baku buah sukun masih terbatas.

Gerakan Tanam Pohon Sukun

Pada awal November 2021, Pemerintah Kota Semarang melakukan gerakan menanam 6.100 pohon sukun. Pohon yang dapat tumbuh setinggi 30 meter ini ditanam secara merata di ratusan kelurahan pada 16 kecamatan kota ini.

Kelurahan Peterongan yang memiliki Kampung Keripik Sukun mendapat jatah 50 pohon. Bibit pohon sukun itu ditanam di sepanjang jalan kampung yang terbilang padat penduduk.

Menurut Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, penanaman ribuan pohon sukun merupakan program jangka panjang. Pasalnya pohon sukun dengan tinggi 2 sampai 3 meter itu baru dapat berbuah sekitar 3 tahun ke depan.

Diharapkan, pohon sukun bisa dijaga dan dirawat bersama-sama. Sehingga kelak dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Sukun dipilih karena budi daya pohon ini dapat dikatakan cukup mudah. Pohon sukun merupakan salah satu tanaman yang dapat tumbuh di berbagai kondisi tanah, meskipun kebanyakan tumbuh di daerah tropis.

Pohon sukun memiliki daun lebar bersusun berselang-seling. Pohon ini bisa menghasilkan banyak oksigen dan dapat menjadikan Kota Semarang semakin adem.

Berdasarkan penelitian, penanaman pohon sukun juga dapat dijadikan sebagai upaya pencegahan longsor serta banjir. Sebab, sukun memiliki akar yang kuat, mampu menyerap air, dan menahan tanah.

Wali Kota mengungkapkan, alasan yang lebih mendasar dari penanaman pohon sukun ini sebenarnya karena buahnya yang kaya akan manfaat. Progam ini merupakan salah satu upaya mewujudkan diversifikasi pangan.

Pengganti Beras

Pengurus Kampung Keripik Sukun sedang mengolah buah sukun. (istimewa)


Kota Semarang sebagai Ibu Kota Jawa Tengah kini dipadati gedung-gedung tinggi dan kawasan perumahan. Lahan pertanian sangat terbatas, karena lebih memprioritaskan sektor perdagangan dan jasa.

Data dari Badan Pusat Statistik Kota Semarang menunjukkan, luas panen padi di Kota Semarang periode Januari–Desember 2020 sebesar 4.086 hektar. Adapun produksi dalam periode itu sebesar 13,08 ribu ton beras.

Kota Semarang sebagai wilayah metropolitan dengan luas 373,7 km persegi ini terbilang minim lahan pertanian. Parahnya, alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian masih terjadi dari tahun ke tahun.

Konversi lahan berdampak pada menurunnya hasil pertanian, termasuk padi. Meskipun begitu, nyatanya mayoritas penduduk masih mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok.

Dinas Ketahanan Pangan Kota Semarang menyebut, prakiraan kebutuhan beras pada tahun 2019 mencapai 191.185 ton pertahun dengan rata rata kebutuhan per bulan 15.000–20.000 ton.

Angka itu tentu timpang dengan produksi padi Kota Semarang. Selama ini ketersediaan beras dipenuhi dari produksi sendiri, stok bulog sub Divre Semarang, dan dari kota/kabupaten sekitarnya.

Artinya, Kota Semarang sudah saatnya untuk tidak mengandalkan nasi sebagai makanan pokok. Hal itu yang mendorong Pemerintah Kota Semarang mewujudkan diversifikasi pangan, untuk mendapatkan keragaman pangan yang dapat dikonsumsi masyarakat.

Berdasarkan hasil analisis Pola Pangan Harapan (PPH) tahun 2019, Kota Semarang masih kurang dalam konsumsi umbi-umbian, sayur dan buah, serta protein hewani.

Wakil Wali Kota Semarang Hevearita G Rahayu saat ditemui di Kota Lama mengaku sepakat bahwa makanan pokok tidak harus nasi. Bahkan, ia sudah diinstruksikan oleh Ketua Pengarah BPIP untuk menanam tanaman pendamping beras.

“Semarang sudah ada gerakan menanam sukun. Ini adalah salah satu menu pendamping beras. Sukun mengandung karbohidrat tinggi, bisa untuk pengganti beras,” ucapnya.

Direktorat Jenderal Holtikultura, Kementerian Pertanian dalam laman resminya mengungkap, buah sukun memiliki kandungan karbohidrat dan protein yang lebih tinggi di banding bahan makanan lain, seperti ubi, ketela pohon, maupun kentang.

Bahkan kandungan karbohidrat pada buah sukun setara dengan kandungan karbohidrat yang terdapat pada beras. Meskipun begitu, kandungan kalorinya rendah, jadi cocok untuk menu diet sehat.

Sukun memiliki kandungan nutrisi yang cukup lengkap, baik vitamin maupun mineral. Di samping itu, buah sukun juga mengandung beberapa zat fitokimia penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh.

Belum Maksimal

Guna mendukung program diversifikasi pangan, diperlukan pemanfaatan bahan makanan lokal yang tinggi energi dan protein. Salah satunya adalah buah sukun. Sayangnya pemanfaatannya sebagai alternatif makanan pokok belum dimaksimalkan.

Padahal produksi buah sukun di Indonesia cukup tinggi. Jika melihat data Kementerian Pertanian, produksi sukun di negara ini terus meningkat dari 35.435 ton pada tahun 2000 menjadi 92.014 ton pada 2007.

Sejarawan JJ Rizal yang pernah menulis artikel panjang tentang politik pangan nasional berkata, leluhur bangsa Indonesia dalam periode yang panjang itu ternyata jauh lebih progresif.

Dia mencontohkan pernyataan Presiden pertama RI Ir Soekarno yang mengajak untuk mencari bahan pokok yang setara dengan beras. Soekarno merumuskan politik kedaulatan pangan untuk menuju swasembada pangan (bukan swasembada beras).

Masyarakat Indonesia Timur yang biasa memakan sagu tak perlu beralih ke beras. Justru ia harus menjaga perkebunan sagu tetap lestari. Begitu pula dengan daerah lain yang didorong mempertahankan makanan lokal.

Pendiri Komunitas Bambu tersebut mendukung penuh progam Pemerintah Kota Semarang yang sedang menggalakkan penanaman ribuan pohon sukun sebagai upaya menyediakan bahan makanan pendamping nasi.

“Bertahap, kita harus beralih ke diversifikasi pangan. Mengonsumsi makanan yang lebih beragam. Itu kunci menuju ketahanan pangan dan menyelamatkan Indonesia ke depan,” tegas Rizal saat ditemui di Semarang, Jumat (24/12/2021).

Menurutnya, masyarakat tidak bisa diajak secara drastis beralih dari nasi. Melainkan perlu memberikan alternatif dengan cara politis: elit-elit memperkenalkan bahwa ternyata kita bisa kombinasi makan selain nasi. (*)

editor : tri wuryono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.