in

Keris Dapur Sempaner Era Kerajaan Pajajaran Laku Rp 50 Juta

SEMARANG (jatengtoday.com) – Sebuah pusaka kuno, keris berjenis dapur sempaner yang dipercayai diciptakan pada masa Kerajaan Pajajaran dibeli oleh seorang pengunjung Pameran dan Bursa Tosan Aji di Pendopo Balai Kota Semarang, Selasa (16/10/2018). Keris tersebut dimahari Rp 50 juta.

“Terjual satu pusaka keris jenis dapur sempaner. Pamornya sodo sak ler atau sodo lanang, dimahari Rp 50 juta. Itu pusaka dari masa Kerajaan Pajajaran,” kata Ketua Panitia Pameran dan Bursa Tosan Aji Semarang, Imam Santoso.

Meski demikian, ia menjelaskan pameran yang berlangsung 16-18 Oktober 2018, mulai pukul 08.30 – 19.00 tersebut tidak terfokus transaksi jual beli. Tetapi pameran ini bertujuan untuk melakukan edukasi. Terutama ke generasi millenial.

“Ada keris yang dimaharkan atau dijual, ada keris yang hanya dipamerkan saja. Terutama jenis pusaka singitan, pusakan turunan atau pusaka keluarga,” katanya.

Tosan Aji sendiri meliputi banyak pusaka kuno. Tidak hanya keris, tapi juga ada pusaka kancip untuk membelah, kemiri untuk pengolahan tembakau, pedang, mata panah, kapak, kudi, dan lain-lain.

Sebelumnya, pameran dan bursa Tosan Aji bertemakan “Menguak Tabir Misteri Tosan Aji dalam Pergulatan Millenial” tersebut dibuka oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi. Selain itu, sejumlah pejabat penting seperti Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Abiyoso Seno Aji, dan Kajari Kota Semarang Dwi Samuji turut menghadiri acara tersebut.

Hendi sapaan akrab Hendrar Prihadi diberi cinderamata sebilah keris bernama “Nogo Siluman”. Hadiah tersebut diserahkan oleh Ketua Komunitas Pebursa Tosan Aji Nusantara, Sudharto.

“Keris atau Tosan Aji merupakan peninggalan budaya Jawa yang telah ditetapkan dan diakui oleh lembaga internasional UNESCO. UNESCO ikut menetapkan keris sebagai cagar budaya dan harus dilestarikan. Keris tidak hanya sebagai senjata, tapi bagian budaya bangsa,” katanya.

Menurut kepercayaan orang Jawa, kata Hendi, seorang laki-laki bila tidak memiliki keris, maka dia bukanlah laki-laki sejati. “Kalau Pak Camat lemarinya belum ada keris, beli keris. Ra ndelok apik po elek bentukke tapi sing penting larang (Tidak melihat bagus atau jelek, yang penting harganya mahal),” ujarnya sembari bercanda. Hendi juga meminta agar pameran Tosan Aji ini menjadi agenda rutin di Balai Kota Semarang. (*)

editor : ricky fitriyanto

Abdul Mughis