in

Menulis dengan Kecerdasan Emosional

Konsep kecerdasan emosional yang rumit itu, bisa kita terapkan ke dalam tulisan.

Pertanyaan saya siang ini, “Bagaimana cara menulis -dengan- kecerdasan emosional?”. Sebelum menjawab “bisa” atau “entah”, saya mempertanyakan kembali, benarkah “emosional” itu penting dalam tulisan?

Copywriting, penulisan yang membujuk orang untuk bertindak atau membeli, memakai faktor “emosi” manusia. “Emosi” dan ketidaksadaran justru pemegang peran terpenting dalam keputusan orang.

Ketika seorang pembicara kharismatik (versi para penggemar mereka) berbicara di podcast atau YouTube, seberapa sering audien lakukan verifikasi? “Trust” datang dari emosi, bukan penalaran.

Google memainkan emosi pemakai.

Google punya strategi mendistribusikan iklan dengan mengalihkan keputusan tak-sadar milyaran pemakai Google. Dalam sehari, setidaknya, ada 150 momen mikro, yang membuat orang secara tak-sadar membuat keputusan. Mau pesan kopi atau teh? Lewat jalan ini atau itu? Jadi beli atau tidak? Iklan anorgaik menanamkan kegelisahan. Countdown timer, click-bait, dan sebagian besar aplikasi adalah pintu menuju iklan, tempat orang-orang secara tak-sadar mempercayai sesuatu, memilih sesuatu, dan “membeli”. Setidaknya, dengan perhatian dan waktu mereka. Google menguangkan kegelisahan ini, dengan mengendarai emosi pemakai untuk membujuk mereka.

Saya menulis tentang strategi iklan Google ini:
Strategi Iklan Google Mengalihkan Keputusan Tak-Sadar Milyaran Pemakai

Jadi, ketika faktor emosi digarap dengan baik, tulisan akan lebih persuasif dan membuat orang tergerak — secara sadar ataupun tidak.

Bagaimana caranya?

Tentukan dulu, apa saja karakteristik dari kecerdasan emosional. (1) Kesadaran diri (self awareness); (2) Pengaturan diri (self regulation); (3) Motivasi; (4) Empati; dan (5) Ketrampilan (skill).

Setelah kamu tentukan, karakteristik tersebut kita terapkan dalam tulisan.

Kesadaran Diri (Self Awareness)

Aplikasi tidak memiliki perasaan. Kita perlu mendesain yang membuat orang terbujuk dan merasakan interaksi. Lihat Google. Ketika ia ingin menampilkan iklan (Google hidup dari iklan!), ia membujuk pemakai dengan pertanyaan, “Apakah Anda ingin menampilkan saran sesuai pengaturan pribadi?”.

Pemakai merasa memiliki otonomi, meskipun yang terjadi adalah penayangan iklan. Jika nanti pemakai tidak suka dengan tampilan iklan, mereka akan menerima pertanyaan, “Mengapa Anda tidak menyukai iklan ini?”.

Saran beralih. Sampai pemakai tidak merasa terbujuk sama sekali. Membangun kesadaran diri dalam desain, berarti memberikan pilihan dengan tidak mengacaukan pesan. Berikan opsi terperinci.

Bagi desainer, menyadari bagaimana yang tidak tampil dalam pilihan akan mempengaruhi pengalaman, jauh lebih menantang. Emosi menyebar. Cermin manusia. Jika seseorang menganggap antarmuka (interface) itu “emosional”, mereka akan rasakan emosi itu. Desain yang baik, membuat orang merasa terhindari dari ancaman. Tidak menciptakan kepanikan.

Coba bandingkan 3 pesan berikut ini:

Aplikasi X dari pemerintah: “Data yang Anda masukkan salah! Tidak bisa kami proses. Periksa lagi.”

Aplikasi Y dari media sosial: “Selangkah lagi. Anda akan menjadi yang pertama, yang membaca informasi terbaik dari kami, langsung di inbox..”.

Mana yang kamu pilih?

Prakternya dalam menulis..

Beritahukan pembaca, konsekuensi negatif jika suatu masalah tidak terselesaikan.

Orang sudah tahu “ini masalahnya”, namun mereka belum bertindak karena mereka belum menyadari “apa yang terjadi jika..”. Terutama hal-hal negatif.

Tulisan rasional berkata, “Ini dia, akibat negatif dari iklan yang kamu biarkan di Android”. Memberikan data. Ini masih belum efektif. Kuncinya, ada pada “self awareness”. Buat pesanmu “pribadi” untuk orang yang sedang membaca. Ini bisa kita turunkan dalam bentuk paragraf yang menuturkan cerita tentang seseorang yang harinya hancur karena asal klik iklan. Diikuti dengan pertanyaan, “Coba periksa Android kamu..” atau “Ini tampilan yang ada di hape saya..”. Mereka akan membandingkan dan melihat ke diri sendiri, “Oh, ternyata saya mengalami ini.”. Ketika diikuti dengan penjelasan tentang konsekuensi negatif jika masalah ini dibiarkan, orang akan menyimak tulisan kamu sampai selesai.

Tulisan “emosional”, mengatakan dengan cara seperti ini:

“Pernahkah terlintas dalam pikiran kita, apa yang terjadi jika kita mendadak sakit dan harus dirawat di rumah sakit, sementara kita tidak punya uang untuk membayar biaya pengobatan?”

Kalimat seperti ini sering mengetuk kesadaran diri seseorang.

Regulasi Diri (Self Regulation)

Perangkat lunak pada dasarnya netral, dirancang untuk memahami kemungkinan pilihan dengan hasil logis yang sesuai kondisi. Manusia, pemakai, bisa menilai hasil itu. Intensitas tidak dapat diukur. Berapa harga keputusan yang kamu buat, dari bawah-sadar, tidak bisa kita nilai dengan uang. Kesalahan 1% yang tidak ditangani dengan baik, yang dibuat dari aplikasi, bisa menjadi 5 juta kesalahan jika dipakai 5 juta orang.

Desainer (programmer) dan penulis, bisa melihat reaksi orang, tetapi tidak bisa melihat ekspresi orang. Reaksi terukur dengan angka, dari angka diuraikan menjadi kalimat dan penilaian.

Betapa sering kita diminta melakukan sinkronisasi kontak tanpa tahu konsekuensi negatif dari fitur tersebut? Begitu pemakai klik “Sync” atau “Okay”, yang terjadi adalah beredarnya kabar dan kiriman pesan bahwa “seseorang ini” sedang install aplikasi X.

Bagaimana penerapannya ketika kita menulis? Berikan opsi berbeda-beda. “Kamu bisa memilih ini.. atau ini.. Sesuaikan..”.

Berikan pengaturan berbeda. Mana saja yang boleh, apa konsekuensinya, dan pembaca ingin mengatur dengan cara bagaimana.

Motivasi

Bagaimana bisa seorang penulis memahami motivasi pembaca? Caranya, dengan mengubah perspektif (cara-pandang). Pilih 5-7 orang dengan pandangan dan latar belakang berbeda-beda, agar bisa memahami beberapa jenis pemakai.

Sebelum menulis, buatlah gambaran dan perkiraan, siapa yang akan membaca tulisan ini. Bukan siapa orangnya, tetapi mereka memiliki motivasi apa?

Yang paling mudah dan tepat adalah “selesaikan masalah”. Tulisanmu bernilai jika menyelesaikan masalah yang membuat pembaca tidak bisa tidur.

Dengan kata lain, pahami “perilaku” pembaca, apa “masalah” mereka, dan mereka ingin mencapai apa.

Orang ingin bisa membaca buku dengan cepat dan mengingat isinya (tidak mudah lupa), agar mereka bisa dapat nilai tinggi di perkuliahan, atau tampil keren karena sudah baca buku yang terkenal itu. Seperti itulah motivasi. Sehingga, kamu akan dapat banyak pembaca jika tulisanmu tentang bagaimana membaca buku dan tetap ingat isinya.

Tips lain, anggaplah tulisanmu sebagai suatu surat untuk seorang teman. Kamu tahu mengapa ia harus membaca tulisanmu.

Empati

Tulisanmu kamu sudah bagus, menurutmu. Dicari orang, menurutmu. Yang mengecewakan, ternyata orang tidak menggunakan sebagaimana yang kamu harapkan.

Empati merasakan “pengalaman” orang lain, dari sudut pandang mereka. Tanpa empati, tulisan hanya seperti tulisan lain. Empati menuntut kamu melepas sepatu, bertelanjang kaki, ketika menceritakan seperti apa rasanya berjalan tanpa alas-kaki. Empati tidak memotret dari jauh. Empati lebih banyak mendengarkan cerita orang lain.

Dalam menulis, kita bisa terapkan empati dengan satu cara: ceritakan berdasarkan pengalaman dan keahlianmu. Bukan apa pendapatmu.

Benarkah kamu pernah ke sana? Benarkah yang terjadi sama seperti dalam berita, atau ternyata lain?

Empati berbicara tentang “pengalaman saya”, yang jika diterjemahkan pengalaman itu menjadi 3 ungkapan: 1. “Saya pernah ke sana..”; 2. “Saya ingin..”; dan 3. “Saya rasakan..”.

Gunakan indra sepenuhnya. Ceritakan sebagaimana kamu sedang bercerita kepada kawanmu. Itulah yang membuat orang “percaya” bahwa kamu menulis dengan tangan pembaca, bicara dengan lisan pembaca, dan mendengarkan apa yang didengarkan pembaca yang mengerti ceritamu.

Kemampuan Orang

Pikirkan reaksi orang ketika terjadi skenario terburuk. Buatlah prioritas (yang ini lebih penting dibandingkan yang lain). Desainmu mau apa? Uji asumsi. Jujur dalam menilai. Hargai kemampuan seseorang (dalam memakai aplikasi). Berikan fitur yang membuat orang merasa “bisa” melakukan ini.

Jadikan setiap tulisan sebagai jembatan ke arah perbaikan hidup dan kenaikan “status”. Buat orang lebih keren dibandingkan yang kemarin.

Ceritakan betapa mudahnya melakukan ini. Tunjukkan bahwa langkah-langkah yang perlu mereka lakukan ini mudah sekali. Dua kali klik. Atau buka link ini.

Mengutip hasil penelitian, membuat orang merasa pintar. Berikan quote yang paling relevan, link terpercaya, pendapat paling terbuka, dst. Buat mereka percaya diri bahwa informasi yang kamu berikan ini bisa membuat mereka “lebih mampu”.

Ayo kita menulis lagi, dengan kecerdasan emosional. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.