in

Kecepatan Informasi dan Kehancuran Para Ahli

Para ahli menjadi tidak dipercaya karena media mengutamakan kecepatan, minim kualitas. Setelah popularitas dan monopoli, “kualitas” informasi berada di urutan ketiga.

(Image: MikeShots)

Setiap detik, mengalir informasi, dibagikan, menjadi apa yang diketahui semua orang. Melalui Google, yang membantu orang untuk menemukan informasi (atau tepatnya, diarahkan ke sana), sehingga orang tahu, ibukota Indonesia sekarang adalah Jakarta. Benar. Lampu merah di traffic light artinya “berhenti”, kendaraan tidak boleh melintas.

Pada sisi lain, banyak orang bisa salah. Aksara Jawa punya 20 huruf. Salah, Kamu boleh protes kalau belum mengerti. Kemudian, setelah mengerti “yang sebenarnya” (yang sesuai informasi terbaik), orang memilih untuk mengandalkan kepintaran ahli.

Faktor expertise (keahlian) menjadi faktor yang menentukan, menurut Google, untuk meranking suatu content. Seorang ahli memiliki entitas yang berhubungan dengan keahlian yang dia miliki.

Entitas, seperti suatu titik (keyword) yang dicari orang, lalu terhubung dengan cabang-cabang lain, di sekitar keyword itu. Ketika kamu mengetik “kota lama semarang” di google, entitas ini berhubungan dengan hal lain, seperti pertanyaan: apakah masuk Kota Lama Semarang bayar? kota lama semarang isinya apa? kenapa disebut kota lama semarang? kota lama Semarang masuk kecamatan apa? dst.

Seorang ahli bukan hanya tahu tentang masalah ini, bukan hanya menang mendapatkan informasi lebih dahulu. Seorang ahli punya dedikasi. Waktunya, untuk masalah ini.

Masalahnya, ada ahli lain yang berbeda pendapat.Non-ahli hanya bisa memilih, mau mengikuti pendapat ahli yang mana.Para ahli, sekali lagi, lebih tahu masalah yang sedang mereka hadapi. Mereka berada di dunia ilmiah di mana cara mereka memandang realitas (dan masalah) sangat berbeda dari orang-orang non-ahli.

Sri Mulyani berani berbeda pendapat, membuat keputusan dan tindakan, terkait utang Indonesia, sekaligus menjelaskan kepada publik. Sri Mulyani ahli masalah ekonomi. Ternyata, Sri Mulyani benar karena expert dan bisa mengalahkan mereka yang protes.

Imajinasi orang berkata begitu, para ahli bisa berpendapat berbeda, yang tampak tidak masuk akal (tidak selalu sama dengan pendapat publik). .

Ada banyak ahli di sekitar suatu permasalahan. Ada yang terukur dari bidang yang dia tekuni, ada yang pintar karena pengalaman, dan gelombang bisa turun-naik.

Para ahli berhadapan dengan “teori-sementara”, verifikasi eksperimen, sortir data, dan melihat hubungan dengan sains lain.

Kapan para ahli bisa kalah?¬†Mereka kalah ketika berhadapan dengan kecepatan informasi. “Kalah” di sini bukan berarti mereka salah.

Publik bukan-ahli, menikmati sistem, mekanisme, tanpa merasa perlu mengerti detail bagaimana cara-kerja masalah di sekitarnya. Ini contoh yang lebih mudah: Aplikasi Play Store yang tertanam di Android, bagaimana cara kerjanya? Bagaimana Facebook bisa mengubah cara kita berkomunikasi? Orang tidak perlu mengerti detail. Mereka hanya tahu, sistem itu “work”, bisa berjalan. Entah bagaimana caranya. Memikirkan jalannya sistem itu kerjaan para ahli.

Pada masa pandemi COVID-19, ketika banyak korban, para ahli menghadapi masalah di laboratorium, yang tidak sepenuhnya bisa dimengerti publik non-ahli. Dan mereka sering disalahkan.

Orang-orang bertanya, “Ke mana orang-orang pintar? Mengapa vaksin baru, tidak segera diberikan?”.Mereka tidak tahu apa yang sedang dihadapi para ahli, yang sedang berbeda pendapat, tentang cara menangani masalah. Yang termudah adalah komplain. “Katanya, Indonesia banyak orang pintar, mengapa keadaannya seperti ini?”. Atau dengan tingkat asumsi lebih tinggi, “Mereka pintar, ahli, tetapi tidak untuk rakyat.”. Mudah sekali komplain, bukan?

Hal sama terjadi, ketika pemerintah China melarang aktivitas dan penambangan cryptocurrency tahun 2021.Ketika kita bertanya kepada non-ahli, yang tidak mengerti perdagangan dollar, emas, dan cryptocurrency, mereka tidak pedulikan itu. Mereka merasa, ekonomi mereka tidak berkaitan dengan perdagangan saham.

Jawaban sebaliknya, sering kita dengarkan.Komplain, menyalahkan, mempertanyakan. Tidak jarang: menganulir prestasi dengan menutup mata terhadap pekerjaan para ahli.

Apa yang terjadi ketika orang yang non-ahli menghadapi perbedaan pendapat di antara para ahli? Mereka akan mencari hukum di balik masalah yang mereka hadapi.

“Hukum” tidak sama dengan “teori”.Hukum melampaui teori. Hukum lebih tetap, sedangkan teori mudah berubah. Apel jatuh ke tanah, berkaitan dengan hukum gravitasi. Pesawat bisa terbang, memakai teori fisika.

Selain mencari hukum, publik non-ahli lebih suka mencari referensi dari pendapat umum. Yang paling banyak, cenderung mereka ikuti.Kebenaran menjadi “voting”, yang memiliki suara terbanyak, yang dianggap menjadi pemenang, yang layak didengarkan.

Ide-ide kontrarian sangat penting, untuk menilai keputusan para ahli.Yang “terbanyak” berpeluang “menang” karena dianggap sebagai suara mayoritas. “Banyak” terjadi karena kecepatan produksi dan distribusi.

Popularitas suatu content, akhirnya mirip voting di suatu forum. Yang paling banyak acungkan jari, itulah pilihan yang menang. Yang menetapkan apa yang semua orang tahu.

Kecepatan dan monopoli, bisa merusak kualitas informasi.

Redaksi media, memiliki editor (penyunting) yang pekerjaannya menentukan apresiasi yang akan terjadi. Jika dia membiarkan teks apa adanya, tanpa editing ketat, hasilnya bisa disinformasi, misinformasi, dan menjauhkan publik pembaca. Menghancurkan jembatan komunikasi antara ahli dan pembaca.

Pada sisi lain, kualitas berita dan opini yang bagus, tidak selalu mengandalkan kecepatan.Liputan mendalam dan panjang, lebih berkesan dan masuk di pikiran pembaca. Nilai retensi tinggi. Berbeda dengan straight news dan berita iklan yang terkesan datar, temporal, dan sekejap hilang dari perhatian.

Informasi membutuhkan verifikasi, validasi, cross-check, double cross-check, terutama pada isu-isu sensitif seperti kriminalitas, kebijakan politik, informasi kesehatan, dan keputusan finansial.

Yang menang, sekali lagi, mereka yang menjaga “kecepatan” dan “monopoli”.

Kualitas, bisa jadi berada di urutan ketiga. Seiring waktu, orang akan mempertanyakan dan membalik kepercayaan mereka, jika kualitas berada di urutan ketiga. Kepercayaan publik bisa hilang.

Banyak media yang cepat-tayang dan distribusi mereka lebih masif karena gencar menebar iklan. Kualitas buruk.

Mereka memilih untuk mengemas-ulang suatu content demi apa yang semua orang tahu. Beda kemasan, menang cepat, dan distribusi masif, sudah menjadi penguasa di pasar uang informasi.

Kalau seorang selebritas, atau influencer media sosial bekerja sama dengan media, dalam bentuk advertorial, yang dibutuhkan media, pembaca tidak bisa protes dengan content yang mereka terima.
Kecuali: media punya cara mengemas content itu menjadi menarik. Hal yang sama, terjadi pada pemerintah, kantor-kantor yang punya divisi humas, maupun perusahaan.

Jika mereka memang memasang iklan berbentuk berita, namun media tidak bisa membuat kemasan menarik, yang diterima publik pembaca adalah content yang hampir sama di mana-mana. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.