in

Kasus Meninggalnya Disabilitas di Semarang, Pengasuh Disebut Tak Punya Niat Membunuh

Menurut Broto, jangan sampai niat baik seseorang untuk menolong digeser menjadi pelaku kejahatan dengan dalih ada unsur kelalaian.

Ibu (berambut putih) dan bibi (jaket pink) dari tersangka menjelaskan duduk perkara meninggalnya disabilitas di Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)
Ibu (berambut putih) dan bibi (jaket pink) dari tersangka menjelaskan duduk perkara meninggalnya disabilitas di Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Seorang pengasuh di tempat penitipan anak berkebutuhan khusus di Kota Semarang, Ethanya Widyatmiko segera disidang atas kasus meninggalnya anak disabilitas bernama Richi Kurniawan.

Bibi dari Ethanya, Diana Debby Astuti menyebut tidak ada niatan membunuh korban. Sebaliknya, Ethanya sebenarnya berniat membantu korban yang didapati tergeletak tak sadarkan diri di kamar mandi.

Diana berani menyampaikan keterangan tersebut karena ia juga berada di lokasi kejadian. Bahkan Diana turut membantu membawa korban dari depan kamar mandi hingga parkiran mobil untuk diantar ke rumah sakit.

“Ethanya narik bagian pundak, saya ndorong bagian kaki karena korban beratnya lebih dari 80 kilogram. Jarak antara kamar mandi dan parkiran hanya 10 meteran, itu pun kami mbawanya berhenti-berhenti,” cerita Diana, Senin (13/5/2024).

Diana yang sama-sama pengasuh di yayasan penitipan disabilitas tersebut, memastikan tak ada tali atau barang sejenisnya yang digunakan untuk menjerat leher korban sebagaimana analisis penyidik.

“Saya tahu pasti tak ada tali atau barang apapun (yang sejenis). Waktu itu keadaannya panik, hanya satu kata: menyelamatkan. Pokoknya bagaimana caranya membawa (korban) ke rumah sakit,” imbuh Diana.

Daisy Estha selaku ibu dari Ethanya mengaku kaget setelah mengetahui anaknya ditetapkan menjadi tersangka. Menurut dia, buah hatinya selama ini tulus merawat anak disabilitas di yayasan yang ia kelola.

Anaknya sudah mengasuh korban sekitar 20 tahun. “Saya tahu betul, tidak ada niat dari anak saya membunuh,” ucap Daisy sembari menitikkan air mata.

 

Tim kuasa hukum tersangka kasus meninggalnya disabilitas di Semarang memaparkan analisis hukum perkara kliennya. (baihaqi/jatengtoday.com)
Tim kuasa hukum tersangka kasus meninggalnya disabilitas di Semarang memaparkan analisis hukum perkara kliennya. (baihaqi/jatengtoday.com)


Kedepankan Asas Praduga Tak Bersalah

Pihak tersangka meminta pendampingan kepada tim hukum Broto Hastono & Assocites. Broto Hastono mengharapkan penegak hukum untuk menerapkan asas praduga tak bersalah.

Apalagi, katanya, berdasarkan keterangan yang ia dapat, dalam kasus ini tidak ada niatan dari tersangka untuk membunuh korban. Menurutnya, jangan sampai niat baik kliennya digeser menjadi pelaku kejahatan dengan dalih ada unsur kelalaian.

“Saya khawatir ke depan masyarakat enggan menolong orang lain yang celaka karena takut tindakannya dianggap menyebabkan hal fatal,” kritiknya.

Kuasa hukum lainnya, Sukarman alias Karman menerangkan, kasus kliennya akan mulai disidangkan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang pada Kamis (16/5/2024).

Saat ini timnya baru mendapatkan berita acara pemeriksaan (BAP) terdakwa dan hasil rekontruksi versi penyidik. “Berkas perkara komplit termasuk visum dan BAP saksi-saksi akan kami minta secepatnya,” ujarnya.

Ke depan, kata dia, perlu menghadirkan ahli untuk menganalisis apakah riwayat korban yang autis dan mempunya riwayat epilepsi berpotensi menyebabkan korban meninggal dunia secara mendadak.

“Perlu diungkap pula apakah korban meninggal pada saat ditemukan oleh terdakwa di kamar mandi dalam kondisi tidak bergerak atau meninggal pada saat di rumah sakit,” tegasnya. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar

Tinggalkan Balasan