in

Junianto: Tresno Kuwi Larang Regane

Junianto tak ingin hanya sekadar numpang lewat di PSIS Semarang.

Komisaris PSIS Semarang, Junianto bersama puteri tercinta. (foto: Instagram @anto_van_java)

CINTA memang mahal harganya, ada pengorbanan yang harus dibayarkan. Cinta pula yang mengantarkan Junianto menuju klub kebanggaannya, PSIS Semarang.

Junianto kini semakin lekat dengan PSIS Semarang sejak dirinya menjadi salah satu pemilik saham klub berjulukan Laskar Mahesa Jenar tersebut. Padahal, dulunya dia hanya seorang penggemar yang harus bersusah payah mengumpulkan rupiah demi bisa mendukung tim kesayangannya.

Dalam akun Instagram miliknya, Junianto berkisah bagaimana perjuangannya mencari kayu untuk dijual agar bisa menyaksikan PSIS Semarang berlaga di Senayan Jakarta tahun 1987 dalam laga final melawan musuh bebuyutannya, Persebaya Surabaya.

Junianto remaja yang kala itu masih kelas 2 SMP akhirnya bisa merasakan kepuasan luar biasa karena PSIS Semarang menjadi juara lewat gol tunggal Saiful Amri.

Setelah 34 tahun berlalu, pria kelahiran 10 Juni 1972 tersebut menjadi sosok penting bagi PSIS Semarang. Sejak 10 Juni 2021, Junianto resmi menjadi pemilik saham terbesar kedua setelah AS Sukawijaya atau Yoyok Sukawi.

“Sampai sekarang saya tetap penggemar, pendukung, suporter PSIS Semarang. Ada kepuasan tersendiri ketika kemudian saya bisa membangun klub yang saya cintai ini,” kata Junianto saat dihubungi jatengtoday.com, Minggu (26/12/2021).

Sosok yang akrab disapa Anto ini mengungkapkan beda kepuasan yang bisa dia rasakan saat ini. Sebagai Komisaris PSIS Semarang, dia mengaku puas ketika mampu mewujudkan keinginan suporter Mahesa Jenar.

“Saya ini juga siap menampung aspirasi suporter. Ketika mereka ingin PSIS Semarang mendatangkan pemain tertentu, saya akan langsung komunikasikan dengan manajemen dan pelatih,” ucapnya.

Dukungan Keluarga

Kisah Junianto yang berjodoh dengan PSIS Semarang juga tidak terlepas dari dukungan orang-orang terdekat. Namun, Anto mengakui bahwa sempat muncul ‘penolakan’ dari anak-anaknya.

Maklum saja, Junianto dan keluarga cukup lama bermukim di Surabaya yang identik dengan Persebaya. Itu juga yang membuatnya harus beradu argumentasi dengan putera keduanya, Fardhan Nandana Ramadhan yang kelak menjadi Manajer PSIS Semarang.

“Kenapa PSIS, kenapa bukan Persebaya atau yang lainnya? Saya cuma bilang ‘Le tresno kuwi larang regane’ (Nak cinta itu mahal harganya),” kata Anto ketika meyakinkan anaknya soal keputusan membeli saham PSIS.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Semarang, Junianto merasa terpanggil untuk ikut membesarkan klub di kota ini.

Maka ketika dia membangun Charlie Hospital Kendal, Anto pun mencoba mencari cara agar bisa bertemu dengan Yoyok Sukawi. Singkat cerita, keinginannya tercapai yang ditandai dengan kesepakatan Charlie Hospital sebagai sponsor PSIS Semarang di Liga 1 2020.

Kerja sama tersebut sebenarnya tidak berjalan sesuai harapan karena kompetisi hanya berlangsung singkat dan dihentikan akibat pandemi Covid-19. Bukannya kapok, Junianto justru semakin termotivasi untuk membesarkan PSIS Semarang.

Sampai akhirnya Junianto bersama Wahyu Agung Group membeli saham PSIS Semarang. Dasar sudah cinta, prosesnya juga tidak terlalu rumit. Dukungan dari istri tercinta, semakin memantapkan dirinya.

“Istri saya sempat tanya, kok gak ditawar? Saya bilang gak tega. Mas Yoyok ini ibaratnya sudah berdarah-darah untuk membesarkan PSIS, mosok ya tega nawar,” ucap Junianto.

Target Go Public

Junianto tak ingin hanya sekadar numpang lewat di PSIS Semarang. Sebagai pebisnis, dia sudah menyiapkan sejumlah rencana untuk membawa klub Kota Lunpia semakin berprestasi.

Training ground dibangun di Kendal dan Demak. Bus mewah yang menjadi penunjang transportasi Wallace Costa dkk juga sudah diwujudkan.

Junianto (dua dari kiri) bersama jajaran pengurus PSIS Semarang. (foto: jatengtoday.com)

Ayah tiga anak ini berjanji membawa PSIS Semarang go public dengan melakukan penawaran saham perdana (initial public offering/IPO). Harapannya, pendanaan tim semakin kuat. Junianto pun bercita-cita ingin membangun stadion untuk PSIS Semarang.

“Semua itu butuh proses, ada tahapan yang harus kita lewati. Ibarat saya beli motor, saya perlu cek dulu kondisinya, apa saja yang harus diperbaiki dan lain sebagainya. Karena itu pelan-pelan saya mempersiapkan PSIS sampai waktunya tepat untuk IPO,” kata Junianto.

Dia optimistis PSIS Semarang bisa mengikuti jejak Bali United yang sudah lebih dulu melakukan IPO. Anto melihat besarnya potensi bisnis di sektor olahraga, khususnya sepakbola.

“PSIS ini punya suporter yang sangat besar, market value-nya juga terus meningkat. Ada Stadion Jatidiri yang megah, tol ada dan aspek pendukung lainnya. Kombinasi ini akan menghasilkan kekuatan luar biasa,” ujarnya.

Maka cukup beralasan ketika Anto memberikan kepercayaan kepada putera keduanya, Fardhan Nandana dengan jabatan Manajer PSIS Semarang. Dia berharap Mahesa Jenar bakal semakin berkembang dengan pengelolaan bisnis yang tepat.

Anto memberi contoh Raffi Ahmad yang mengakuisisi Cilegon United atau Atta Halilintar dengan PSG Pati-nya. “Artinya ke depan sepakbola akan makin maju bersama anak-anak muda,” kata dia.

Tapi, Junianto tak mau gegabah untuk secepatnya melakukan IPO meski saat ini sudah ada teman-teman sesama pengusaha yang sudah indent saham. Dia ingin PSIS dikenal lebih luas melalui prestasi di kompetisi.

“Ayo sama-sama kita bangun PSIS Semarang dengan cara kita masing-masing agar semakin berprestasi dan dicintai,” tutupnya. (*)

 

 

 

Tri Wuryono