in

JPO Rusak, Warga Pilih Menyeberang Jalan Meskipun Harus Bertaruh Nyawa

SEMARANG (jatengtoday.com) – Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Jenderal Sudirman, Kota Semarang, sudah lama rusak. Padahal, fasilitas tersebut menjadi jalur penyeberangan aman yang biasa digunakan oleh para siswa.

Karomatul Hidayah, siswi SMA N 6 Semarang mengaku enggan menyeberang lewat JPO karena kondisinya sudah tidak terawat. Ia takut jika sewaktu menyeberang, salah satu kayu yang menjadi pijakan keropos dan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Mending lewat situ (sambil menunjuk jalan raya tempat kendaraan berlalu-lalang). Lagian JPO-nya sudah rusak,” ujarnya, Jumat (1/2/2019).

Siswi SMPN 1 Semarang, Anida Zulfa, yang mau menyeberang bersama teman-temannya juga memilih lewat jalan raya daripada harus melalui JPO. “Nggak pengen aja, mending lewat sini,” paparnya.

Pantauan di lokasi, kondisi JPO memang terdapat kerusakan di beberapa bagian. Seperti atap, semuanya sudah tidak ada karena keropos termakan waktu. Beberapa paku juga ada yang mau terlepas sehingga membuat pijakan jembatan bergoyang saat dilewati.

Meskipun begitu, Tumini yang sehari-hari menyeberangi JPO tersebut berpendapat lain. Menurutnya, jika para siswa tak mau menyeberang lewat sini bukan karena kondisinya yang rusak, melainkan karena jaraknya yang terbilang cukup jauh.

“Memang banyak anak-anak yang tidak mau lewat (JPO) sini. Tapi mungkin itu gara-gara males, soalnya agak jauh jaraknya,” bebernya.

Namun, Tumini yang merupakan warga Perumnas Krapyak, tidak menampik akan kondisi JPO yang cukup memprihatinkan. Dia berharap agar fasilitas umum tersebut bisa segera diperbaiki, sehingga pengguna JPO bisa merasa nyaman.

“Kalau bisa ya diperbaiki. Soalnya ini kalau hujan kan repot, pasti kehujanan. Mau pakai payung juga susah, kan anginnya kencang karena posisinya di atas jalan raya,” ucap Tumini.

Kondisi serupa juga dapat ditemui di JPO Pasar Karangayu. Sebagian atapnya bolong-bolong karena keropos serta kayu yang dibuat titian bergoyang ketika diinjak. (*)

editor : ricky fitriyanto