in

Jangan Anggap Remeh Bisnis Kopi, Bisa Jadi Penyelamat Resesi

Salah satu bidang UMKM yang dapat terus bertahan di tengah gempuran ekonomi adalah komoditas kopi.

Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat saat paparan dalam forum diskusi Dengar Pendapat Masyarakat di Semarang. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Berbisnis kopi tidak boleh dianggap remeh. Jika dikelola secara maksimal, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) kopi bisa menjadi penyelamat di tengah ancaman resesi.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam forum diskusi Dengar Pendapat Masyarakat di Kota Semarang, Rabu (7/12/2022).

Lestari mengungkapkan, tumpuan ekonomi nasional pada bidang UMKM ini terbukti ketika terjadi krisis selama pandemi Covid-19. UMKM mampu menghadapi tantangan dunia baru.

Berdasarkan data, lebih dari 99% usaha yang termasuk golongan UMKM menyumbangkan sekitar 61% dari pendapatan bruto Indonesia dengan menyediakan 97% lowongan pekerjaan bagi masyarakat.

Salah satu bidang UMKM yang dapat terus bertahan di tengah gempuran ekonomi adalah komoditas kopi.

Menurut Lestari, komoditas kopi di Indonesia sangat menjanjikan. Tercatat 96% perkebunan kopi di Indonesia dikuasai oleh 1,3 juta petani dan lebih dari 2.950 kedai kopi dikuasai oleh anak muda dan pelaku ekonomi kreatif.

“UMKM sangat banyak dan itu menyerap tenaga kerja yang jumlahnya tak sedikit, yang pasti menelurkan industri-industri turunan lain yang berhubungan dengan teknologi,” bebernya.

Kepada ratusan anak muda yang mengikuti diskusi ini, Lestari mengingatkan pentingnya meningkatkan kreatifitas serta metodologi berpikir yang terukur dan sistematis untuk membuka lapangan kerja.

“Anak muda masih memiliki tenaga dan tentunya support sistem yang bisa memulai sesuatu yang baru. Industri kreatif saat ini merupakan ruang kerja atau media baru yang harus kalian tekuni dan bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi semua,” tegasnya.

Diskusi ini juga menghadirkan dua pengusaha kopi dari Kota Semarang, salah satunya Abdul Walid.

Walid menegaskan, 29 dari 35 kabupaten di Jawa Tengah merupakan penghasil kopi meskipun masih menjadi penghasil kopi terendah secara nasional mengingat minimnya lahan.

Kabupaten Temanggung merupakan penghasil kopi terbanyak yang menyumbangkan 40% kopi dari Jawa Tengah.

“Untuk arabika nomor satu dari Temanggung, Wonosobo, dan Banjarnegara. Temanggung setiap tahunnya memanen sekitar 12.000 ton kopi terbagi menjadi 10.000 arabika dan 2.000 robusta,” tambahnya.

Usaha kopi dari hulu ke hilir ini membutuhkan proses yang panjang serta menyerap tenaga kerja yang tidak sedikit. Tingginya permintaan pasar terhadap berbagai produk kopi ini diharapkan dapat menjadi penyelamat bangsa dari ancaman resesi global.

Pengusaha kopi lain yang juga pemilik KnK Coffee and Resources Agung Kurniawan mengungkapkan, trend kopi saat ini banyak dipengaruhi oleh mata uang dunia.

“Kebutuhan kopi di Indonesia 60% larinya ke ekspor. Jadi market dunianya berkembang seperti apa nanti market lokalnya kejar-kejaran terus. Untuk sekarang harga kopi sedang tidak terkontrol jadi roasteri-roasteri kecil lumayan kesusahan karena biayanya itu sendiri,” jelas Agung.

Kesuksesan yang diraihnya saat ini merupakan hasil dari konsistensi serta kolaborasi dengan petani kopi di berbagai daerah hingga menjadi toko kopinya saat ini rujukan coffee shop di Kota Semarang. (*)

editor : tri wuryono 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *