in

Aku Rindu Internet yang Dulu

Pengalaman menggunakan internet yang dulu, sebelum semua dikuasai negara dan perusahaan komersial.

Aku rindu internet yang dulu. Ketika belum ada.. Privacy Policy. Term of Services. DCIM. Kebijakan Cookies. Open Graph. Twitter Cards.
Tombol klik Like, Comment, Share.. dan Subscribe.

Waktu itu, menjadi seorang pengguna.  berarti.. Kehormatan. Masa ketika tarif 10 ribu untuk pemakaian 2 jam, (atau 10 ribu untuk 6 jam, khusus malam hari). Belum ada telemetri Microsoft. Tidak ada pendeteksi klik. Ketika itu, saya dan para pengguna lain, bukan statistik iklan. Tindakan saya tidak diklasifikasikan. Penghitungan retensi masih belum terjadi. Domain belum diukur dengan ranking, backlink, dan spam score.

Waktu itu, peradaban internet untuk publik, masih awal. Suara modem dial-up. Koneksi lambat 128 kbps. Ketegangan menunggu halaman loading sambil bercerita. Membaca halaman statis. Menelusuri link. Mengikuti pesona nickname. Memahami cara kirim email (saya baca 3 buku panduan email). Memgarsipkan percakapan. Anonimitas masih mewah. Punya 2 email itu keren.. Kita rela pakai email sulit dengan angka, karena kita sangat ingin pakai email itu. Hnaya agar tidak dikenal dan nyaman memakainya.

Menemukan suatu domain atau URL, seperti bertemu goa di tengah hutan, atau menemukan mutiara di tengah lautan. Saya menjadi penjelajah. Bergabung di milis dan forum, berisi pemgetahuan baru. Chat text only di mIRC di Dalnet, membuat private room, nge-flood, kena banned, akill, itu semua kesenangan.

Berinternet waktu itu tentang energi pengetahuan, pengalaman. Bukan utilitas, fungsi, penugasan. Bukan project perusahaan besar yang ingin cari uang dari aktivitas kita.

Sebelum Pyra membuat Blogger, yang kelak dibeli Google, sudah ada Geocities, dengan static html, dan gambar .gif yang berkedip, masih menjadi tempat ekspresi identitas yang bebas. Sampai sekarang, saya masih simpan arsipnya.

Pengalaman berinternet, waktu itu, belum mengalami standarisasi. Content masih berserakan. Belum kena semantic dan algoritma. Kita masih bercerita tentang serunya alamat yang kita temui. Rahasia yang belum dibuka kawan kita.

Itulah masa ketika saya bergabung di forum, yang menjelaskan cara pakai Windows yang tidak pernah saya temukan di tempat lain. Informasi yang berharga, tidak diulang di sana-sini. Ketika orang menulis karena harus menulis. Belum ada iklan pop-up, berlangganan newsletter, belum ada copywrite yang mendandani content busuk menjadi perulangan tanpa inti.

Dunia internet waktu itu berisi pandangan berbeda. Pertarungan masih anonim. Identitas masih dihormati. Media sosial belum menjadi TKP tempat orang dilaporkan dengan screenshot dan bukti video asli. YouTube belum menjadi tempat hujatan visual dna penerapan fitur aplikasi editing dan marketing.
Internet bukan tempat menakutkan di mana kesalahan sedikit saja dipamerkan.

Internet sekarang sudah dikuasai korporasi besar. Identitas penentang negara, dengan mudah ditemukan. Leak menjadi pelucutan identitas.

Internet sudah menjadi milik negara. Milik perusahaan-perusahaan besar. Modem dan aplikasi belum ditanam spy. GPS masih menjadi kemewahan “mencari jejak”, bukan untuk term kriminalitas.

Internet sekarang sudah berbeda. Dipartisi. Dipantau. Disensor. Dioptimalkan. Dinetralkan. Diamankan. Diratakan. Diteliti. Perusahaan-perusahaan komersial, memakai pengguna Internet sebagai konsumen, dengan prediksi perilaku, pemetaan preferensi, pelabelan. Milenial, Gen Z, adalah pelabelan kelas dan generasi konsumen. Foto dan video penuh filter. Kita berhadapan dengan realitas refernsial, yang difilter, disajikan dengan template.

Web kehilangan heterogenitas. Ekspresi yang subversif, berubah menjadi konformitas, yang rata. Internet menjadi gang-gang garang, yang dipenuhi tulisan dan peraturan di kanan-kiri, “Anda sopan, kami segan”.

Tata-tertib menjadi pengawasan, kemudian pengawasan menjadi kesadaran kolektif. Eksploitasi data. Dark psychology berjalan di depan mata. Campaign produk menjadi manual bertahan hidup. Pengguna yang menganggur, diajak menjadi adversaries bagi perusahaan komersial. Influencer memenuhi mimpi milenial dan Gen Z.

Otonomi dan privasi, yang konon dihormati, begitu kata spammer dan iklan, sudah berganti menjadi kenyamanan dan konektivitas. Kita mengorbankan yang rahasia dari privasi kita (keyword, wajah, klik, perilaku) dan kita serahkan kepada “perusahaan” yang memberi kita hal-hal gratisan, karena kitalah produk mereka yang sebenarnya.

Kita tidak lagi melihat generasi baru dilahirkan dengan perbedaan agama, politik, dan geografi. Kita melihat mereka mengalami predesrinasi sebagai konsumen. Komoditas. Tenggelam di pasar yang tak terlihat. Memasuki ruang gema, di mana mereka mencari yang-sejalan, satu preferensi.
Sikap pasif. Konformis sejati.

Kecepatan. Kuantitas. Scroll tanpa-henti. Produksi konten tanpa henti. Notifikasi. Konsumsi. FoMo.

Twitter, Facebook, Reddit, tidak lagi menjadi tempat pertemuan bagi perbedaan, melainkan kompromi dan kesamaan. Menyerah pada Web 3.0 yang ternyata sentralistik.

“Monetisasi” adalah double-coin term untuk “prioritas”.

Percakapan bermakna, berubah menjadi tulisan “percakapan bermakna”. Diskusi organik menjadi rating dan jumlah share.
Internet tidak lagi punya halaman depan (front page). Tidak ada forum tempat bebas bicara.
Menonton, klik, invite, membuat content, semua berujung pada monetisasi. Invasi iklan menjadi imperialisme di kamar tidur, yang kita izinkan. Penegakan kebijakan. Kontroversi dan subversi menjadi fashion.

Saya selalu bersedih mengingat video Aaron Schwarz, pendiri Reddit, ketika ia di usia balita, bertanya kepada kawannya, “Aku bisa mengirimkan pesan ke orang yang berjarak jauh. Aku mengirimkan email. Maukah kamu aku ajari cara menulis email?”.

Saya punya mental seperti itu. Mengamggap internet tempat kita membuat perbedaan, hidup yang lebih baik. Sampai sekarang, pekerjaan saya berhubungan dengan dunia informasi.
Kita kehilangan pengalaman belantara bernama internet. Kita kehilangan internet yang berupa belantara pengalaman.

Saya memakai Wordstar, Windows 3.11, Aldus PageMaker (yang kelak menjadi Adobe InDesign). Saya menyaksikan kelahiran Google, kejayaan Yahoo! dan MSN. Saya rajin menyunting Wikipedia. Saya membaca Ecyclopedia of Encarta. Membuka rak filsafat University of Pennsylvania sejak 2002. Membuat bot mIRC. Saya mengikuti majalah 29a, menyaksikan kedahsyatan virus DOS, LoveLetter, Melissa, sampai ransomware. Saya mengikuti perkembangan media sosial dari versi alay sampai versi blockchain.
Dan saya kehilangan sensasi memakai internet dengan rasa seperti dulu.

Saya masih punya akun media sosial aktif. Tidak lelah menciptakan perbedaan bagi dunia sekitar saya, dengan mengajakan bagaimana menulis dan bekerja di dunia informasi.

Saya tidak berada di hype dan kepalsuan interaksi. Saya masih bekerja dengan internet, berbicara dengan anak saya, dan membuat perbedaan, dengan internet.

Saya pencipta dan pemimpi. Saya ikut menjadi satu titik berkedip yang menjalankan internet.

Saya tidak benci internet. Saya benci sistem yang tidak memanusiakan manusia di internet, yang sering kita rayakan.

Saya sangat rindu internet yang dulu. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.