in

Instagram Mati, Sebentar Lagi (Influencer dan Selebgram Belum Tahu Ini)

Penyebab utama: algoritma buruk. Instagram mengandalkan iklan, namun pemakai lebih percaya ngiklan melalui influencer. Tidak ada inovasi yang berarti di Instagram. Kebutuhan pemakai terkait privasi dan kebebasan ekspresi, pelan-pelan mati. Milenial sudah jenuh dengan content Instagram. User engagement hanya 3%. Media sosial yang dulu punya traffic organik terbaik, sekarang menuju “pertumbuhan negatif”.


Pertumbuhan Negatif

Juni 2018. Instagram dapat 1 milyar pemakai.

Tahun 2019, terjadi penurunan 1 digit (menurut eMarketer) dan akan turun 1 digit lagi per tahun. Pertumbuhan menurun berarti.. Bisnis buruk. Investor lari. Konsumen pergi. Kalah bersaing melawan kompetitor. Tahun 2025, dipastikan Instagram akan mengalami pertumbuhan negatif.

Tahun 2025, pertumbuhan negatif di Instagram tidak bisa dikembalikan. Perusahaan ini diramalkan akan gulung-tikar jika tidak bisa menemukan inovasi. (Photo: emarketer)

Investor mereka cari peluang di tempat lain. Sebaliknya, Tiktok tumbuh 3 digit di sebagian besar pasar.

Instagram Tidak Melakukan Inovasi Berarti

Instagram lebih tepat disebut sebagai media sosial pencemburu. Setelah naik ke pundak raksasa Facebook, tidak ada inovasi berarti. Ketika Snapchat bikin Story dan swipe, yang kemudian ditiru Instagram dan WhatsApp, Instagram membuat IGTV. Pertumbuhan IGTV sangat nanggung dan mentah. Tidak menghadirkan fitur editing sebagus TikTok, tidak jelas mau dipakai untuk siapa.

Agustus 2020, Instagram mengulangi kecemburuan dengan menghadirkan Instagram Reels untuk membendung migrasi para pemakai TikTok. Reel menyediakan editor kreatif di sisi kiri, termasuk untuk membuat audio (Instagram menyediakan koleksi audio, seperti YouTube audio), Efek AR siap-pakai, Timer dan countdown timer, transisi, dan pengaturan efek kecepatan.

Menurut pemakai, apakah ini menarik? Ini Story dengan durasi lebih panjang. Kecemburuan Instagram agar orang tidak lari ke TikTok.

Instagram mundur karena ulah Facebook yang terlalu banyak iklan. Saya bosan dengan kurasi yang dibuat-buat, algoritma yang payah. Instagram ingin menyajikan yang terbaik untuk Beranda kamu, tetapi umpan saya penuh swipe iklan bersponsor, bukan pembaruan dari orang yang saya sukai. Iklan di Instagram lebih banyak berisi brand, merek, atau orang yang memakai akun pribadi untuk berjualan. Setelah Facebook membeli Instagram di tahun 2012, kata “influencer Instagram” nggak ada hentinya.

Content yang spontan telah berganti menjadi bidikan DSLR dan pemotretan profesional. Kualitas fotografi dikomidifikasi menjadi mata-uang. Foto yang “lebih berbicara daripada 1000 kata”, berubah menjadi testimonial dan deretan hashtag.

Sejak 2019, penurunan terjadi. Trust Insights melaporkan penurunan 45,6% brand engagement. Iklan, terlalu banyak iklan, membuat orang menjauh.

“Melawan” Influencer dengan Live Shopping Instagram

Pada bulan sama, Instagram baru secara resmi meluncurkan fitur belanja-langsung (live shopping) yang bisa disematkan di website, termasuk chat dengan penjual.

Facebook is bringing a Shop section to its app, while Instagram expands Live Shopping

Ini semakin memperjelas, bahwa Instagram memang ingin berfungsi sebagai pemasar merk. Bukan lagi mengutamakan pribadi anak-muda yang bebas.

TikTok justru menjadi favorit anak muda. Di antara TikTok, Instagram, dan Twitter, TikTok memiliki tingkat keterlibatan pengikut tertinggi. Mengapa?

TikTok lebih jelas: berlaga di video pendek, menahan perhatian 15 detik. Orang menghargai keaslian. Ini berarti.. Spontanitas. Film versi kamar kos. Nge-prank kawan. Tutorial mencetak dalam 15 detik. Tripod kamera darurat. Tanpa kurasi dan editing berlebihan. Beranda di TikTok disesuaikan dengan history dan pencarian. Komentar di TikTok, bagian yang sangat menarik. Mereka bebas berkomentar lucu, sarkastik, dan kadang terasa biadab. Tiktok memang penuh iklan, tetapi keterlibatan pemakai masih tinggi, mengutamakan content asli, dan tidak menenggelamkan pilihan pemakai.

Privacy Bermasalah: Facebook Mengakui, Instagram Memata-matai Pemakai

Pemakai asli TikTok tetap menggunakan TikTok dengan alasan mereka sendiri. GenZ mengerti, privasi adalah segalanya. Mereka tidak ingin dilacak. Mereka tidak suka wajah orang lain yang selalu muncul di Beranda karena iklan di Instagram. Belum banyak yang tahu, Instagram memata-matai pemakai dengan banyak cara, yang paling populer tentu saja, mengakses kamera tanpa izin. Facebook meminta maaf kepada para pemakai Instagram ketika ketahuan bahwa Instagram memata-matai pengguna melalui kamera.

Tingkat Keterlibatan Organik Hanya 3%

Angka yang sangat rendah dan tidak layak dipercaya untuk mengiklankan produk. keterlibatan organik di Instagram sekarang hanya 3%. 

The Era of the Instagram Influencer is DEAD and I Coudn’t Be Happier About It

Apa artinya angka itu? Kamu ingin membangun daftar email ke 1000 pelanggan, tetapi hanya bisa mengirim ke 30 pelanggan. 30 adalah 3% dari 1000 pemakai. Dan tidak ada janji pengembalian keuntungan. Sangat tidak masuk akal jika masih mau mengembangkan bisnis melalui Instagram.

Pemakai Lebih Suka Ngiklan Melalui Influencer dan Selebgram

Kalau kamu memiliki brand, manakah yang lebih kamu pilih: ngiklan di Instagram ataukah ngiklan ke influencer? Demi kepentingan bisnis Instagram, menjadi influencer di Instagram sudah sangat berat. Keterlibatan organik akan terus menurun sampai beralih ke iklan berbayar, bukan membayar influencer. Singkatnya, kesempatan terkenal, sangat berat di Instagram. Permainan influencer sudah berakhir. Tidak ada alasan mereka untuk bertahan, selain mendapatkan iklan dari pemakai lain.

Dan yang terjadi, agar pemakai mau memakai jasa Instagram, adalah dengan mengganjal influencer. Jangan heran kalau ngehit melalui Instagram tidaklah mudah. Kecuali, kamu sepopuler artis ternama. Keadilan hanya milik mereka yang terkenal dan berwajah cantik.

Milennial Sudah Jenuh dengan Content di Instagram

Orang sudah jenuh melihat potret cewek berkulit putih dengan caption “Senyumin aja..”. Pancingan palsu untuk mengedarkan #hashtag. Apartemen, suasana kolam renang, makanan, fashion, hal yang ada di mana-mana. Aplikasi untuk membuat story di Instagram sudah terlalu banyak beredar, sehingga apa yang terlihat hanyalah frame dan tipografi gitu-gitu aja. Orang sudah bosan melihat selebritas. Orang sudah jenuh membedakan produk mana yang dipakai “pahlawan bertopeng” mereka, dengan produk yang sedang diiklankan influencer. Orang sudah jenuh membedakan mana bot, mana akun bayangan, dan mana akun yang benar-benar manusia seperti mereka. Orang jenuh dengan jual-beli follower. Jika 10 juta influencer dari 1milyar+ pemakai bisa menyebut diri mereka influencer (dilihat dari jumlah follower), maka semua orang bisa menjadi influencer dengan cepat.

Kalau sekarang Instagram mengembalikan keadaan dengan mampu “menghapus” influencer gadungan dan bot, Instagram tetaplah seperti sekarang. Kejenuhan dan kegagalan memperbaiki algoritma.

Mau bukti? Lihat Beranda Instagram kamu. Terlalu banyak iklan. Saran hasil pencarian? Iklan. Kamu pernah chat inbox dengan kawanmu, tentang sepeda gunung, keluarlah content sepeda gunung di Beranda kamu. Instagram tidak perlu mengerti password dan data kamu. Instagram hanya perlu memfilter apa yang cocok dengan iklan mereka.

Content Instagram sekarang ini sudah mirip mailing list, email promo product. Persaingan siapa yang paling keren, kulit siapa yang paling putih. Fashion, makanan, traveling, dan produk. Iklan, iklan, dan lebih banyak iklan. Caption bukan lagi tentang “seni” dan “spontanitas” dari foto, tetapi sudah berlaku sebagai “produk” dan “menjadi orang lain”. Instagram yang semula personal menjadi impersonal. Akun lebih banyak berlaku sebagai brand, “calon” selebgram, dan bukan seseorang yang unik lagi.

Coba ketik salah satu nama tempat wisata. Bandingkan angle dan filter yang ada di hasil pencarian itu. Atau klik salah satu #hashtag. Nyaris sama.

Milennial tidak suka influencer yang dikurasi. Milennial tidak suka ilusi panggung dari kehidupan sempurna. Estetika Instagram terlalu homogen. Betapa membosankan melihat makanan yang ditata, wajah berfilter camera, pose “tanpa” tujuan. Filter sama. Pose sama. Sudut pengambilan camera sama. Tempat sama.

Terlalu banyak akun berisi kurasi content, seperti akun berisi foto-foto cantik, quote motivasi, dan lelucon plastis.

Milennial tidak lagi terpuaskan dengan dopamine. Permainan notifikasi dan folbek.

Orang-orang tua yang masih memakai Facebook, sedang senang-senangnya selfie, namun milennial sekarang, yang menyaksikan kelahiran Instagram, sudah malas melakukan tindakan itu. Mereka tidak mau lagi meniru Kim Kardashian untuk selfie menghadap cermin atau pura-pura “candid”.

Instagram Menjadi Mirip Facebook, Terlalu Banyak Fungsi

Instagram terlalu banyak fungsi. Instagram terhubung dengan Messenger, Story, Live, Video Chat, IGTV, Reels, dst. Instagram sedang mengalami mutasi genetis menjadi Facebook. Bedanya dengan Facebook hanya soal nge-group dan statusnya harus berupa foto/gambar. Fitur utama lain, hampir sama.

Medsos Terburuk untuk Kesehatan Mental

Majalah TIME menyebut Instagram sebagai medsos terburuk untuk kesehatan mental. Kalau tidak percaya apa kata Majalah TIME, coba lihatlah analisis berikut ini.

EFEK MEMAKAI INSTAGRAM. Lihat sisi kiri dan kanan. Lebih berat diselesaikan. (Photo: Miro)

Instagram adalah permainan perbandingan 24 jam 7 hari yang tidak bisa dimenangkan siapapun. Termasuk influencer dari selebritas yang sudah populer. “Bagaimana cara tampil secantik orang ini? Saya ingin produk ini. Saya ingin membentuk body seperti ini. Saya tidak bisa tidur.”. Instagram memicu kecemasan, depresi, kesendirian, sulit tidur, dan citraan tubuh (fisik). Pemakai Instagram, seperti kebanyakan pemakai medsos lain, menunggu reaksi orang lain, mudah terpicu notifikasi, merasa mendapatkan reward dari balasan orang lain.

Tahu apa penyebabnya? Algoritma yang kacau.

Konsep Story yang dibuat SnapChat pada tahun 2013, tadinya memakai prinsip kesementaraan, hal-hal lucu. Instagram mengadopsi ini dengan dengan menambahkan fungsi “Highlight” untuk mengelompokkan Story agar bisa terlihat lebih dari 24 jam.

September 2019. Instagram ingin memperbaiki keadaan dengan algoritma yang bisa diisi ulang, dari iklan kosmetika, dari pemakai yang berumur di bawah 18 tahun.

November 2019. Instagram tidak mampu memberikan ukuran selain Like, yang mulai diprotes pemakai, dan sempat menguji “penghilangan tombol Like” di Amerika. Influencer tidak rela. Hubungan antara Instagram dengan influencer, bisa kacau kalau tidak ada Like.

Manusia tidak beradaptasi demi pujian anonim dari orang asing sebagai sumber utama harga diri.

Instagram sangat menghambat pertumbuhan influencer, agar orang tidak ngiklan melalui influencer, tetapi langsung ke Instagram.

Tidak berhenti di sini saja. Instagram menerapkan lelucon pemeriksa fakta, berdasarkan pilihan pemakai.

Juni 2020 Instagram menerapkan fact checker untuk menilai keaslian foto. Fitur ini bukanlah tentang forensik foto digital, melainkan memberikan penilaian apakah suatu foto itu asli atau manipulasi. Apa yang terjadi ketika penilaian foto diserahkan berdasarkan suara terbanyak? Musuh utama fitur ini, bukan tukang bikin hoax, melainkan para seniman fotografi.

Apa yang Kamu Inginkan Ketika Memakai Aplikasi Media Sosial?
Pemakai selalu memilih. Apakah aplikasi ini bisa membuat saya lebih ekspresif dan bebas? Itu artinya, privacy harus terjaga dan jangan banyak peraturan. Seberapa cepat saya bisa terkenal? Media sosial tidak bisa dipisahkan dari narsisme dan keinginan ngehit. Bisakah aplikasi ini membuat saya kaya? Bisa mencari uang tambahan, dambaan semua orang. Sayang sekali, Instagram tidak bisa memenuhi 1 dari 3 permintaan itu.

Kecantikan Instagram sudah pudar. Algoritma penuh iklan. Sekali pernah membuka akun berisi jilbab cantik, yang muncul iklan jilbab dan wajah yang hampir sama. Scroll terus ke bawah, kamu melihat Beranda seperti sedang berada di salah satu Board di Pinterest yang kamu buat.

Gempuran TikTok

Tiktok memberikan nilai berbeda. Tiktok menjadi kesempatan untuk terkenal. Viewer video di Tiktok, dalam bilangan B (billion, milyar) dan M (million, juta) sudah sangat biasa.

Tiktok menghadapi serangan kritik, dengan jawaban nyata. Ketika TikTok dianggap sebagai video iseng untuk anak-anak, TikTok memberikan penjelasan, bahwa aplikasi ini untuk pengembangan skill, terutama anak-anak dan milennial. Misalnya, ketika seseorang berbakat memainkan gitar, ia bisa dubbing video dengan permainan gitar. TikTok tempatnya menyampaikan sesuatu yang singkat, to the point, nggak banyak bicara.

Ketika COVID-19 datang dan pemakai “belajar dari rumah”, TikTok mengadakan program #EduTok yang bukan sekadar permainan #hashtag tetapi sungguhan menggandeng pendidik dan akun-akun berisi pendidikan. TikTok memberikan uang untuk mereka. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.