in

Industri Vape Disebut Bantu Petani Jual Tembakau yang Tak Terserap Pabrik Rokok

SEMARANG (jatengtoday.com) – Komunitas vaper menyebut industri vape atau rokok elektrik justru bisa membantu petani tembakau. Pasalnya, liquid atau cairan yang digunakan di vape hanya memerlukan sari tembakau berupa nikotin.

“Jadi industri rokok elektrik ini bisa mengakomodir produk tembakau petani yang tidak bisa diserap semuanya oleh industri rokok konvensional,” jelas Ketua Bidang Produksi Asosiasi Persolan Vaporizer Indonesia (APVI), Eko Prio HC saat menjadi pembicara di Freedom for Vape, Sabtu (11/1/2020) malam.

Selama ini, katanya, pabrik rokok konvensional hanya akan menerima tembakau dari petani yang kualitasnya benar-benar baik. Karena memang bahan utamanya adalah daun tembakau yang dikeringkan. Berbeda dengan liquid.

Berdasarkan laporan dari Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia, akibat musim tanam yang buruk di tahun 2019 membuat 10.000 ton tembakau terbuang sia-sia karena tak layak jual.

Eko berspekulasi, jika produksi liquid di tahun 2019 mencapai 30 juta botol, artinya bisa menyerap 2.592 ton tembakau. Sehingga, jika di tahun 2020 produksinya ditingkatkan, tentu semakin banyak tembakau yang dibutuhkan.

“Bayangkan itu, kalau bisa berkembang, maka 10.000 ton tembakau tadi yang hanya menjadi sampah bisa kita manfaatkan menjadi hal yang bernilai tinggi,” tegasnya.

Menurut Eko, hal itulah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. “Ini sebenarnya objektivitas yang perlu dilihat bahwa industri vape justru akan membantu masyarakat kalangan bawah,” bebernya.

Hal senada juga diungkapkan Ketua Penasehat Asosiasi Vaper Indonesia (AVI), Dimasz Jeremiah. Menurutnya, selama ini pemerintah ingin melarang masyarakat untuk merokok karena disebut berdampak buruk pada kesehatan.

Tetapi di sisi lain, pemerintah juga kasihan terhadap petani tembakau jika rokok benar-benar ditekan konsumsinya. “Maka ini win-win solution. Pemerintah harusnya mendukung,” jelasnya.

Dia berpendapat, kalau Indonensia berani mendeklarasikan sebagai produsen rokok konvensional terbesar di dunia, maka harusnya juga berani menjadi produsen terbesar rokok baru yang risiko penyakitnya lebih rendah. (*)

 

editor : ricky fitriyanto