in

Jejaring Krisis di Indonesia dalam Bingkai “Polycrisis” Adam Tooze

Satu gambar ini mengubah pandanganmu tentang krisis. “Polycrisis”, kata Adam Tooze, itu global dan sistemik. Tidak bisa kita atasi secara terisolasi.

Ketika Pilpres 2024 semakin hangat, banyak orang menaruh harapan pada perubahan. Masalah dipaparkan, solusi terbuka, janji digelar, dan semua orang ingin krisis terselesaikan. Masalahnya, krisis tidak hanya satu, saling-terkait, dan cara kita memandang krisis, menentukan kebijakan yang akan kita gunakan dalam mengatasi masalah.

Oktober 2022, saya baca opini Adam Tooze, “Welcome to the world of the polycrisis” di Financial Times. Kata “polycrisis” di FT menjadi “Year in a word”.Tadi sore saya search “adam tooze polycrisis”. dan membaca pemikiran Adam Tooze tentang cara kita memandang krisis.

Dengarkan lagi podcast Adam Tooze di Spotify, “Apa itu Polycrisis?”.

Ada satu gambar dari “Global Risks Report 2023” yang menggambarkan jejaring krisis yang kita hadapi bersama.

Gambar dari Global Risks Report 2023 yang menjelaskan jejaring krisis yang melanda dunia sekarang. (Source: World Economic Forum)

Image ini bisa menjadi gambaran, seperti apa “polycrisis” itu. Apa itu “polycrisis”?

Bagaimana Adam Tooze Menjelaskan Polycrisis

POLYCRISIS ARTINYA. Keadaan di mana berbagai krisis terjadi secara bersamaan dan interaksi antara mereka menciptakan dampak yang lebih besar daripada jika krisis-krisis tersebut terjadi secara terpisah. Krisis ini bisa mencakup, tetapi tidak terbatas pada, bidang ekonomi, politik, lingkungan, dan kesehatan.

Penyebab krisis tidak hanya satu, tetapi banyak dan beragam, termasuk perubahan iklim, ketidakstabilan politik, ketegangan ekonomi global, pandemi, dll. Menurut pendekatan ini, berarti, penjelasan bahwa akar masalah atau faktor penyebab krisis hanya satu hal atau satu kekuasaan, itu jelas salah.
Situasi polycrisis saat ini adalah fenomena yang relatif baru, artinya, saling-kait dan rumitnya krisis global saat ini belum pernah terjadi sebelumnya pada skala ini.

Tooze menggunakan ‘Krisenbilder’ untuk memvisualisasikan polycrisis. Ini adalah cara untuk memetakan dan memahami bagaimana berbagai krisis saling terkait dan saling mempengaruhi.

Dalam menghadapi polycrisis, Tooze menyarankan perlunya pendekatan yang lebih holistik dan terintegrasi. Kita tidak bisa melihat krisis tidak hanya sebagai masalah terpisah tetapi sebagai bagian dari sistem yang kompleks dan saling terhubung.

Gagasan polycrisis ini sangat relevan untuk pemahaman kita tentang dunia saat ini dan mendesak dalam konteks pengambilan keputusan dan kebijakan. Memahami polycrisis membantu pembuat kebijakan dan masyarakat umum dalam merespon tantangan global secara lebih efektif.

Singkatnya, gagasan polycrisis Adam Tooze menantang kita untuk memikirkan kembali cara kita memahami dan merespon berbagai krisis global, menekankan pada pentingnya pendekatan yang menyeluruh dan pemahaman yang mendalam tentang keterkaitan antar berbagai isu global.

Pemikiran Adam Tooze tentang Polycrisis

Berbagai krisis global, seperti perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi, konflik politik, dan kesehatan masyarakat, tidak berdiri sendiri tetapi saling berinteraksi. Interaksi ini menciptakan dampak yang lebih kompleks dan serius daripada krisis individu.

Dampak gabungan dari krisis-krisis ini lebih besar dibandingkan dengan penjumlahan masing-masing krisis. Krisis yang berbeda saling memperkuat dan menciptakan tantangan yang lebih sulit untuk diatasi.

Krisis perlu dipandang sebagai sistem, yang saling terhubung. Bukan sebagai serangkaian kejadian terisolasi. Menganalisis krisis harus secara holistik dan terintegrasi.

Tooze menggunakan istilah “Krisenbilder” atau “gambaran krisis” sebagai cara untuk memvisualisasikan dan memahami kompleksitas dan interkoneksi berbagai krisis. Ini membantu dalam pembuatan peta visual dari interaksi krisis.

Menurut Tooze, perlu ada respon dan strategi yang terintegrasi, di mana solusi untuk satu krisis harus mempertimbangkan dampak dan hubungannya dengan krisis lain.

Polycrisis sebagai fenomena global yang mempengaruhi negara dan masyarakat di seluruh dunia, menuntut kerjasama internasional dan pendekatan yang koordinasi.

Polycrisis menantang paradigma kebijakan dan pemikiran konvensional, memaksa pembuat kebijakan dan pemikir untuk meninjau kembali asumsi mereka tentang cara kerja dunia dan bagaimana menanggapi tantangan global.

Tooze menyoroti urgensi dan skala dalam menanggapi polycrisis.

Pendekatan pendekatan multidisipliner, yang menggabungkan wawasan dari berbagai bidang seperti ekonomi, ilmu politik, sosiologi, dan ilmu lingkungan, untuk memahami dan mengatasi krisis-krisis ini.

Konsep polycrisis menurut Tooze mengundang kita untuk memikirkan kembali bagaimana kita memahami krisis global dan menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih terkoordinasi dan komprehensif dalam meresponsnya.

Apa Arti Polycrisis bagi Negara Indonesia?

Sebagai negara yang berhadapan dengan kompleksitas geopolitik, ekologis, dan sosioekonomis yang semakin mendesak, Indonesia harus mempertimbangkan paradigma ‘polycrisis’ yang diadvokasi oleh Adam Tooze dalam menyusun kebijakan dan strategi nasional. Krisis yang kita hadapi saat ini—entah itu terkait dengan perubahan iklim, kerentanan ekonomi, ketidakstabilan sosial, atau tantangan politik—bukanlah fenomena yang terisolasi, melainkan serangkaian keadaan yang terjalin secara intrinsik dan memperburuk satu sama lain dalam pola yang kompleks.

Kebijakan publik dan inisiatif penelitian yang dikembangkan oleh para akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi harus mencerminkan pemahaman tentang interdependensi ini. Pendekatan yang terfragmentasi tidak lagi memadai dalam menghadapi tantangan multidimensi yang kini merentang di depan kita. Sejalan dengan konseptualisasi Tooze tentang ‘Krisenbilder’, kita harus mengadopsi kerangka kerja analitis yang memungkinkan kita untuk memvisualisasikan dan memetakan interkoneksi antar-krisis, sehingga dapat merumuskan solusi yang bersifat sistemik dan terkoordinasi.

Dalam konteks legislatif dan eksekutif, hal ini mengharuskan sebuah sinergi interdisipliner yang belum pernah terjadi sebelumnya, di mana kebijakan lingkungan, kesehatan publik, ekonomi, dan sosial tidak hanya saling mendukung tetapi juga diintegrasikan dalam strategi nasional yang koheren. Penanganan isu-isu seperti perubahan iklim tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan ekonomi dan sosial; begitu pula sebaliknya.

Dalam melangkah ke depan, Indonesia harus menerapkan kerangka kerja polycrisis ini, yang menuntut ketangkasan, kreativitas, dan keberanian intelektual untuk merancang dan mengimplementasikan kebijakan yang dapat merespons keseluruhan spektrum krisis ini secara efektif. Ini bukan saja merupakan tanggung jawab etis kita terhadap generasi saat ini dan yang akan datang, tetapi juga imperatif struktural dalam memastikan keberlanjutan dan ketahanan nasional di tengah tantangan global yang tak terelakkan.

Singkatnya, kalau kita sekarang mendengar orang berkata tentang solusi terhadap permasalahan yang terjadi di Indonesia, yang tidak melihatnya sebagai “polycrisis”, yang saling terkait (efek maupun cara menyelesaikannya), berarti tidak bisa melihat Indonesia dalam konteks global. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.