in

Iklan sebagai Pintasan [Pendirian] Media

Sejak 20 tahun yang lalu, banyak media “hancur” karena mimpi tentang iklan yang berdatangan dari traffic tinggi. Meraih iklan, bukan strategi yang tepat, jika..

Media berisi klik iklan, sepintas menjanjikan: buatlah traffic tinggi, klik tinggi, maka iklan akan membayar kamu. Buat web network, keuntungan akan lebih tinggi lagi. Sejak 2003, 20 tahun yang lalu, janji AdSense sangat menjanjikan. Ada yang mendulang sukses, ada lebih banyak yang hancur.

Sekarang, skema bisnis klik-iklan, sudah menjadi “metode” bisnis. Alasan media sungguhan dan media demi-iklan berdiri, banyak yang kejar iklan terprogram seperti ini.

Media sosial, tempat orang berkumpul, yang menjadi salah-satu sumber traffic, menjanjikan klik-iklan.

Banyak biaya dikeluarkan untuk mengelola media sosial: comment, share, subscribe, follow. Jual-beli akun hantu, menaikkan “social proof” kepada pengiklan offline.

Persaingan semakin tinggi. Verifikasi Dewan Pers menjadi lisensi mewah untuk menarik iklan offline. Asosiasi Media Saiber, membuat jejaring media online yang katanya “lebih menguntungkan” dibandingkan AdSense. Birokrasi tidak ribet, checklist administratif sangat ribet.
Iklan AdSense dan sejenisnya, maupun iklan offline (terutama dari pemerintah, BUMN, dan swasta-terpilih), tetap saja mengandalkan “social proof” dari media sosial.

Masalah “organic traffic” dan kemunculan di mesin pencari, menjadi bagian-langsung dari bisnis iklan.

Tanpa iklan, media mati.

Pekerjaan bertambah. Mengakali mesin-pencari. Menebak algoritma. Bermain long-tail keyword. Muncul di Google News. Membuat “social calendar”. Aplikasi desain instan, termasuk editing video, dengan segala macam tips dan trik untuk “nomor satu” di search engine dan Beranda media sosial, menjadi keahlian berbayar tinggi.

Kebutuhan klasik, tetap muncul.

Media adalah rumahmu, rumah para pembaca. Tidak bisa kamu biarkan satu ruangan diberikan untuk orang lain menempelkan banner dan memakai ruangan itu, dengan syarat dan ketentuan mereka, hanya agar rumahmu mudah ditemukan orang. Kamu memiliki otoritas lebih dari itu. Semestinya, kamu yang menentukan peraturan di rumahmu itu.

Pelanggan “sekarang” tidak membawa pelanggan “baru”.
Media tumbuh dari perbincangan, bukan dari “jenis iklan” yang mereka jual.
Media sosial berkembang karena orang-orang baru, berdatangan, membawa kawan lain, dan melakukan aktivitas sosial di sana. Keuntungan utama, ada pada perusahaan seperti Meta, X, YouTube, dan Tiktok. Bukan untuk media dan konsumen.

Ingat: jika suatu produk itu gratis dan menaikkan skala, maka kamulah produknya.

Selama prinsipmu adalah “menyebarkan beria”, distribusi link, dan promosi kepada “orang asing”, maka kesulitan akan semakin berdatangan.

Kuantitas memang penting. Bisa untuk membangun kerajaan “keyword”, namun itu melelahkan, terutama jika berbentuk straight-news.

Tujuan suatu media berdiri, hampir semuanya, memiliki tujuan “ideologis”. Mau membangun nilai, membuat perbedaan, dan berkelas.

Kenyataan: berita yang tuntas dan memberikan perspektif kepada pembaca, agar lebih cerdas, justru yang bertahan lebih lama. Yang nggak kaleng-kaleng.

Owner media, selalu ingin medianya menjadi perbincangan sungguhan di warung kopi sampai seminar di hotel.

Ini berlaku untuk berita yang kritis, tidak singkat, dan opini yang memberikan perspektif utuh kepada pembaca.

Bukan berita berisi acara, peristiwa acak, pernyataan 1 narasumber, product knowledge yang mendidik orang selalu menjadi konsumen, serta melanggengkan “status quo”.

Media yang berhasil menjadi perbincangan, bukanlah media yang punya gimmick atau hype, bukan karena kamu punya ciri berbeda dari media lain, atau karena media itu gratisan.

Mereka membincang media kamu karena menaikkan status mereka (dari belum menjadi tahu, dari biasa menjadi pintar, dari ragu menjadi pasti), bergabung dengan kerangka berpikir yang membuat hidup mereka berubah.

Jangan banyak berharap masalah-masalah ekonomi, sosial-politik, dan keuangan dapat terselesaikan, jika kebanyakan media online masih seperti sekarang.

Apa sebenarnya yang pembaca cari? Signifikansi.

Ada banyak orang yang rela menutup iklan lebih dari 5 kali dalam 1 halaman, menyelesaikan recaptcha, menunggu pewaktu-mundur sebelum download, dan loading halaman lambat, karena satu alasan: mereka ingin mendapatkan content yang signifikan, yang benar-benar mereka cari, demi membuat hidup mereka menjadi lebih baik.

Bukan yang membenamkan diri mereka ke tengah iklan dan “social proof” yang mengubah “manusia” menjadi “angka” sekian K. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.