SEMARANG (jatengtoday.com) – Wakil Ketua DPRD Kota Semarang Mualim mengakui hingga saat ini situasi pandemi masih mempengaruhi tersendatnya aktivitas masyarakat. Namun demikian, roda ekonomi harus tetap didorong agar mampu melewati masa sulit ini.
Masyarakat secara personal harus ‘pandai-pandai” menata manajemen waktu dan kreativitas, termasuk mengatur manajemen keuangan. “Kami mendorong masyarakat memanfaatkan setiap fasilitas umum yang disediakan pemerintah. Baik fasilitas kesehatan, pendidikan, maupun transportasi umum,” kata Mualim, Senin (19/10/2020).
Dikatakannya, pelajar, mahasiswa maupun pekerja misalnya bisa memanfaatkan layanan Bus Rapid Transit (BRT) yang dikelola pemerintah. Selain murah, faktor kenyamanan dan keamanan sejauh ini telah diperhatikan. “Sehingga masyarakat bisa lebih hemat. Selain itu juga untuk meminimalisasi kepadatan lalu-lintas di perkotaan,” katanya.
Apalagi, lanjut dia, saat ini BRT Trans Semarang telah berupaya menyediakan banyak rute untuk menjangkau wilayah pinggiran. Meskipun belum sepenuhnya bisa menjangkau ke pelosok-pelosok perkampungan maupun perumahan. “Pengguna BRT jelas akan menghemat pengeluaran dibanding menggunakan kendaraan pribadi,” katanya.
Namun demikian, Mualim meminta agar masyarakat tetap menjaga protokol kesehatan dalam setiap aktivitas sehari-hari. “Tidak hanya masyarakat, pengelola BRT harus menjaga protokol kesehatan secara disiplin. Jangan sampai malah memunculkan klaster baru penyebaran Covid-19,” imbuhnya.
Plt Kepala BLU UPTD Trans Semarang, Hendrix Setiawan mengatakan, pihaknya telah menerapkan protokol kesehatan sejak 17 Maret 2020 sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. “Diberlakukan bagi karyawan maupun pengguna layanan BRT Trans Semarang,” katanya.
Protokol kesehatan tersebut di antaranya wajib memakai masker, mengecek suhu tubuh petugas dan calon penumpang dengan thermo gun, thermal camera, serta melakukan penyemprotan disinfektan baik di halte maupun ke seluruh armada.
“Selain itu, kami juga menyediakan tempat cuci tangan di halte transit dan halte keberangkatan, termasuk menyediakan hand sanitizer di bus maupun halte,” terangnya.
Selama masa pandemi, lanjut dia, operasional BRT mengacu aturan pembatasan kegiatan masyarakat (PKM) Kota Semarang. “Maka kami membatasi kapasitas penumpang menjadi 50 persen dengan mengurangi tempat duduk dan pegangan tangan,” katanya.
Namun demikian, pihaknya memastikan kualitas pelayanan tetap maksimal. Saat ini, lanjut dia, Trans Semarang melayani masyarakat di Kota Semarang dan sekitarnya dengan 8 koridor dan 3 rute Feeder. Delapan koridor tersebut yakni Koridor 1 (Mangkang – Penggaron), Koridor 2 (Terboyo – Sisemut), Koridor 3 (Pelabuhan – Elizabeth), Koridor 4 (Cangkiran – Stasiun Tawang), Koridor 5 (PRPP – Meteseh), Koridor 6 Universitas Diponegoro (UNDIP) – Universitas Negeri Semarang (UNNES), koridor 7 (Terboyo – USM – Balai Kota), Koridor 8 (Cangkiran – Gunungpati – Simpang Lima). Selain itu, angkutan penyambung yakni Feeder 1 rute Ngaliyan – Madukoro, Feeder 2 Bangetayu – Kaligawe, Feeder 4 BSB – UNNES.
“Tarif Trans Semarang yakni Rp 3.500 untuk umum, dan Rp 1.000 untuk pelajar/mahasiswa, pengguna KIA, lanjut usia dan veteran. Kami juga menyediakan pembayaran non tunai,” katanya. (*)
editor: ricky fitriyanto