in

Jürgen Habermas Tidak Mengerti Keadaan Media Sekarang

Pendapat terbaru Jürgen Habermas tentang hubungan penguasa, media, dan ruang publik.

Jurgen Habermas dalam pidato di usia ke-90. (Image: DW)

Internet, menurut Jürgen Habermas, “.. jutaan ruang obrolan yang terfragmentasi.” Dia katakan itu hanya di catatan kaki “Political Communication in Media Society“, tahun 2006, ketika media sosial raksasa belum seperti sekarang.

Habermas kemudian menulis tentang internet dan ruang publik, dan dampaknya terhadap wacana publik, di terbitan terbaru. Internet, menurut Habermas, “.. caesura dalam perkembangan media dalam sejarah manusia yang sebanding dengan pengenalan percetakan”, selain itu, “.. inovasi yang sama pentingnya” dengan penemuan pengetikan yang bergerak”, dan “revolusi ketiga dalam teknologi komunikasi” yang hasilnya adalah “ pembubaran batas-batas global” sebagai “aliran komunikasi spesies kita yang banyak omong telah menyebar, dipercepat dan menjadi jaringan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia dan, secara retrospektif, di semua zaman sejarah dunia.”

Habermas mengatakan itu di buku The Gutenberg Parentthesis: the Age of Print and Its Lessons for the Age of Internet yang akan terbit Juni 2023. Tulisan Habermas tentang pemikiran terbarunya ini berada di balik paywall mahal ($351,83), masuk di edisi khusus jurnal ilmiah Sage Publishing, berjudul “Reflections and Hypotheses on a Further Structural Transformation of the Political Public Sphere“.

Habermas telah lama mencari pembuktian dari ruang publik. Habermas mengimajinasikan, “.. ruang publik borjuis yang menengahi antara rakyat dan negara muncul dalam wacana kritis, rasional dan inklusif di kedai kopi dan salon di Inggris dan Eropa. Masalahnya adalah, debat itu jauh dari inklusif.”

Nancy Fraser, pemikir feminis, mengkritik teori ruang publik Habermas, “.. bahwa konsepsi borjuis tentang ruang publik hanyalah sebuah cita-cita utopis yang belum terwujud; itu juga merupakan gagasan ideologis pembela maskulin yang berfungsi untuk melegitimasi bentuk aturan kelas yang muncul.” Apakah gagasan tentang ruang publik merupakan instrumen dominasi atau cita-cita utopis?

Maskulinitas menjadi gagasan “modern”. Maskulinitas beroperasi dalam bentuk kekuasaan yang memusat, untuk mempertahankan kekuasaan.

Habermas percaya, modernisme sebagai project yang belum selesai, sepintas tampak optimistis ketika mengimajinasikan ruang publik di internet, yang menjadi “.. medium baru tampaknya akhirnya mengumumkan pemenuhan klaim egaliter-universalis dari ruang publik borjuis untuk memasukkan semua warga negara secara setara.”

Habermas mendambakan ruang publik tunggal dan ideal, sekaligus selalu meratapi hilangnya harapan itu, ketika melihat ruang publik di internet tidak seperti yang dia harapkan. Banyak orang punya mental mirip Habermas, dan kita sering dengarkan.

“Kami berharap, media sosial bisa menjadi tempat menyampaikan aspirasi dan bicara tentang kemajuan bersama..”. Kita sering dengar harapan (atau pengkondisian politis) seperti itu. Dan kecewa.

Ruang publik internet menjadi ruang gema, menghilangnya, milik swasta (bukan negara) dan publik.

Habermas tidak mengerti cara kerja jaringan, sangat normal jika dia kecewa ketika ruang tunggal ideal itu tidak terjadi. Inilah internet, tempat banyak komunitas, publik, institusi, dan pasar imajiner yang tumpang tindih yang bersaing untuk mendapatkan kekuasaan dan perhatian melalui debat, hak istimewa, dan protes.

Michael Warner mengusulkan kontrapublik di mana “.. beberapa publik ditentukan oleh ketegangan mereka dengan publik yang lebih besar.”

Gambaran Habermas tentang publik yang masih bercokol di setting Abad ke-19, tidak lagi jelas di masa internet tumbuh. Ada kontrapublik yang bersaing: nasionalis, petani, elit perempuan, kelas pekerja, dll.

Habermas memandang ruang publik online terurai menjadi: “ruang publik yang bersaing” dan “ruang gema terlindung.”.

Pendapat Habermas belum bergeser dari tahun 1962 ketika ia menyesali kerusakan yang ditimbulkan media massa pada ruang publik pertamanya di kedai kopi. Makalah Habermas yang sekarang, menyesali digantikannya media massa oleh media sosial dan pengaruhnya terhadap ruang publik barunya di internet. Habermas masih bermimpi tentang media massa kekuasaan untuk membentuk opini publik.

Menurut Habermas, “Fungsi media profesional adalah memproses secara rasional masukan yang diumpankan ke ruang publik melalui saluran informasi partai politik, kelompok kepentingan dan lembaga humas, dan subsistem masyarakat, antara lain, serta oleh organisasi dan intelektual masyarakat sipil.”

“Komunikasi publik yang dikendalikan media massa adalah satu-satunya domain di mana kebisingan suara dapat menitik menjadi opini publik yang relevan dan efektif.”

Pandangan Habermas, mirip orang humas dari pemerintah yang ingin punya media sendiri, ingin mengendalikan opini publik, dan menjaga kekuasaan. Habermas secara eksplisit mengatakan tentang perlunya “staf profesional yang memainkan peran penjaga gerbang.” Prosesnya begini: insitusi memberikan input, publik menerima output, melalui media.

Selain tidak mengerti cara kerja jaringan internet, Habermas tidak melihat kenyatan tentang media sekarang. Peran media sekarang bukan lagi membentuk opini publik, tetapi mendengarkan opini publik. Media suka meneruskan apa kata kekuasaan, sebatas kerjasama dan iklan. Media lebih suka memperlihatkan apa yang sedang terjadi sekarang, dengan kecepatan tayang dan distribusi. Tujuan media bukan untuk mengarahkan pandangan penguasa kepada publik, sebaliknya, media lebih suka mengarahkan kebutuhan, keinginan, dan tujuan warga negara kepada mereka yang berkuasa.

Yang perlu dibentuk bukanah opini publik. Yang perlu dibentuk adalah kebijakan terhadap kebutuhan opini publik.

Kita melihat sering ada poling, melalui media, sebagai proxy untuk menciptakan persaingan opini publik. Media A menampilkan hasil Calon X melampaui Calon Y. Media B bisa berkata sebaliknya. Terlepas dari metodologi yang mereka gunakan, hasil poling seperti ini membawa bias, mempertanyakan lembaga survei, dan di sisi lain menghapus citra biner bahwa ini kekuasaan dan ini opini. Justru suara seperti inilah yang perlu ada di internet. Inilah zaman ketika orang bisa mempertanyakan secara langsung dan didengarkan. Inilah zaman ketika orang bisa menuding terjadinya ketidakadilan (dalam sisi tertentu) dengan pemberitaan yang lebih faktual dan obyektif.

Habermas terlalu sinis menanggapi zaman ini. Habermas dan orang-orang tua yang tidak mengerti perkembangan zaman, melihat ini sebagai kehancuran demokrasi. Dia menyesali ungkap pendapat yang tanpa tanggung jawab, “Hari ini, janji emansipatoris yang agung ini ditenggelamkan oleh hiruk-pikuk sunyi di ruang gema yang terfragmentasi dan tertutup sendiri.”

Internet memang bising, dan kebisingan internet tidak bisa dikelola oleh media sepenuhnya, apalagi sendirian.

Kebisingan di internet membutuhkan penyaringan agar orang bisa membedakan mana “noise” dan mana “signal”. Bukan dengan membuat aturan dan penyeragaman.

Habermas masih berada di mental analog dan membayangkan media online sebagai bentuk digital dari media cetak. Habermas tetap seperti 60 tahun lalu, ketika menginginkan demokrasi yang ditopang oleh inklusi dan wacana publik sebagai “persaingan untuk alasan yang lebih baik”.

Habermas sudah terlalu tua untuk bicara tentang ruang publik di zaman internet. Setidaknya, dia masih optimis tentang masa depan media yang lebih baik. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.