in

Guru Agama Cabuli 15 Siswi SD di Cilacap, Organisasi Islam Perlu Turun Tangan

Ilustrasi (pixabay)

WONOSOBO (jatengtoday.com) – Kasus guru agama yang mencabuli 15 siswi SD di Cilacap telah mencoreng dunia pendidikan.

Menanggapi periwstiwa pencabulan guru SD terhadap 15 siswi tersebut, Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimon meminta organisasi Islam untuk ikut turun tangan.

Menurutnya, organisasi Islam perempuan seperti JP3M bisa membantu menyuarakan pendidikan. Antara lain dengan mengunggah konten-konten positif di media sosial.

“Di samping itu, bisa juga bergabung dengan BKOW (Badan Kerja Sama Organisasi Wanita) Jateng,” ucapnya saat memberikan sambutan pada acara Harlah ke – 6 Jam’iyyah Pengasuh Pesantren Putri dan Muballighah (JP3M) di Ponpes Al Mubarok Manggisan Kabupaten Wonosobo, Selasa (14/12/2021).

Menurutnya, dengan bergabung ke BKOW, bisa melakukan kontribusi yang lebih besar. Dalam organisasi BKOW, JP3M bisa menyisipkan ajaran Islam, dan menyampaikan bahwa pondok pesantren tidak hanya memikirkan kepentingan pondok pesantren, tapi juga memberi perhatian pada lingkungan di sekitarnya.

Lebih lanjut, Taj Yasin menilai, momentum ini bisa dimanfaatkan untuk membuktikan dan menyuarakan ajaran pondok pesantren yang murni. Pondok pesantren yang murni adalah yang mengedepankan akhlakul karimah dan syariat islam.

“Harusnya ini yang dimunculkan. Harusnya ini yang kita angkat. Sehingga orang-orang melongo ibaratnya. Oo.. ternyata pondok pesantren yang ada kasus perkosaan 14 santrinya ternyata bukan pondok pesantren ya. Oo… ternyata itu boarding school saja ya. Jadi harus dibedakan antara pondok pesantren yang benar-benar mengajarkan syariat, mengajarkan akhlakul karimah dan mana yang hanya abal-abal,” paparnya.

Jika persoalan seperti ini tidak direspon, berpotensi membuat masyarakat tidak percaya dengan pendidikan di pondok pesantren. Masyarakat menjadi fobia karena pondok pesantren tidak memberikan jaminan rasa aman dan nyaman untuk belajar agama.

“Kalau mereka (masyarakat) fobia dengan pondok pesantren, lalu bagaimana tanggungjawab kita sebagai masyarakat pesantren. Padahal kita ngertos (tahu) banyak pondok-pondok pesantren yang lebih bagus dari pondok-pondok pesantren yang saat ini dipromosikan masif,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.