in

Pakai Google Keep dalam 3 Bulan Saya Tulis 115 Artikel

Google Keep free. Yang rahasia, cara saya menulis catatan. Kalau mencatat tidak membuatmu produktif, baca ini.

(Credit: z_wei)

Kita jarang diberi pelajaran mendalam tentang bagaimana sebaiknya membuat catatan di sekolah dan di perkuliahan.

Notetaking system yang saya pakai, hasil modifikasi dari sistem Cornell University. Sedangkan mindmap, yang paling pas menurut saya model yang ditawarkan Elon Musk. Saya ulas 2 sistem tersebut di Workshop Manajemen Media Online.

Mengapa Orang Tidak Suka Mencatat?

Mungkin itu perilaku yang berasal dari disonansi kognitif. Pikiran mengajak diri kita membohongi diri-sendiri. Kita melakukan perilaku destruktif, mem-bully diri-sendiri, sudah pasti karena di masa depan kita butuh catatan, tetapi malas membuat catatan. Kita mencari pembenaran, merasa rasional, dengan sampaikan alasan, “Saya ingat, tidak perlu saya catat.”, “Saya malu menuliskan catatan”.

Alasan sama terjadi ketika orang tidak mau berolah raga, atau merokok, atau memberikan saran pentingnya hidup sehat namun perilaku mereka tidak sehat. Katakan kepada diri kita sekali lagi, “Saya tidak mau lari dari keinginan baik yang berguna bagi masa depan saya. Sebaiknya saya menuliskan catatan. Saya tidak bisa andalkan pikiran dan kenangan saya untuk mengingat sesuatu nanti.”.

MANFAAT MENCATAT. Mencatat.. Bermanfaat nanti. Tidak salah kutip. Tahu apa yang pernah kamu ingat. Mudah dibuka kembali sebagai bukti-tindakan. Mendalami pekerjaan lebih terarah. Tahu di bagian mana kita masih lemah. Merawat kenangan. Pohon pengetahuan yang semakin membesar. Pikiran kedua. Sesuatu yang akan dikenang orang lain tentang kita. Dan kamu bisa tambahkan manfaat lain, di sini..

Mengapa Saya Mencatat dengan Google Keep

Karena Google Keep membuat saya produktif. Google Keep ampuh. Kamu bisa tulis catatan sebanyak yang kamu mau. Sisipkan image (asalkan bukan webp), animasi .gif, buat checklist, tambahkan label (semacam tag atau keyword), ganti warna background, atau pasang reminder di catatan.

Sejak Januari 2022 sampai 11 April ini, saya menulis 129 catatan, 62 artikel opini di Jateng Today, dan 52 tulisan di Sakjose. Semua hasil proses dari Google Keep.

Aplikasi yang berbayar, yang menjanjikan produktivitas, lebih banyak kontraproduktif. Mereka loading lama, susah dipakai, dan tidak seperti selembar kertas yang siap ditulisi dengan cepat. Google Keep sebaliknya. Simple, loading cepat, search bagus, dan bisa membuatmu ingin selalu buka-kembali catatanmu untuk kamu perbaiki atau tambah.

Google Keep memiliki 1 kelemahan: tidak bisa terapkan markdown dan styling. Kamu tidak bisa buat subheading H1-6, bold, italic, underline, tidak bisa. Yang bisa hanya link. Ini mirip Notepad untuk text only.

Semua fitur ini bisa kamu coba sendiri. Asalkan punya akun Google (atau PlayStore), kamu bisa langsung pakai Google Keep.

Download Google Keep

Google Keep untuk Android:
https://play.google.com/store/apps/details?id=com.google.android.keep

Google Keep versi browser (tanpa install):
https://keep.google.com

Saya memperlakukan Google Keep seperti Tumblr.

Kalau ada quote bagus, atau artikel premium yang ingin saya clip sebagian, saya proses dulu di Graph. Setelah itu, oper ke Google Keep.

Klasifikasi, Label, Membuatmu Tidak Kreatif.

Biarkan Berserakan.

Saya tidak selalu memberikan label di catatan. Sepertinya, itu ide bagus. Membuat catatan, diberi klasifikasi, apalagi jika berupa bahan hasil browsing atau riset. Dengan label, kita bisa temukan-lagi catatan dengan mudah. Itu bagus, kalau catatanmu hanya berisi content dari luar. Saya content creator, yang setiap hari harus menulis artikel. Jadi, saya menolak untuk membuat label di setiap tulisan saya.

Alexander Graham Bell punya prinsip “prompt berbasis lokasi”. Bell membuat ruangan berbeda untuk pekerjaan berbeda. Ruangan tempat Bell melakukan riset, tidak boleh disentuh orang lain. Sama seperti Leonardo Da Vinci yang memiliki studio dengan meja besar, di mana ia biarkan catatan berserakan. Tanpa label.

Jika kamu bikin pengarsipan dan sekadar mengumpulkan bahan dari luar, label memang penting. Perpustakaan memakai klasifikasi persepuluhan John Dewey, web memakai category dan tags. Tetapi tidak jika saya (atau kamu) mau memakai Google Keep sebagai tempat kolaborasi ide.

Gunakan Catatan untuk Memicu Kreativitas.

Bukan untuk merekam ide terbaik milik orang lain. Saya tidak browsing untuk mengambil ide orang lain. Saya memakai Google Keep untuk memicu kreativitas. Inilah tujuan utama saya. Catatan adalah titik, begitu banyak titik, yang akan saya hubungkan (begitulah sistem kerja kreatif: menghubungkan titik). Orang kreatif hanya melihat sesuatu, mereka merasa “bersalah” ketika kamu bertanya, “Bagaimana cara kreatif”. Ide untuk digabungkan. Itulah nilai dari ide. Jika kamu terapkan “harus” ada label, itu hanya pas jika catatan kamu hanya mengumpulkan.

Waktu kamu bisa habis hanya untuk mengumpulkan, merekam-ulang ide orang lain, yang kamu anggap menarik.

Saya berikan contoh yang sangat umum. Coba buka laptop kawan kamu, atau milikmu sendiri. File apa saja yang ada di sana? Berapa persen content buatan sendiri? Kebanyakan, mereka mengumpulkan: download film, ebook, artikel, sampai dibuat partisi, folder, begitu rapi. Bagus. Sekali lagi, kalau fokus utama kamu hanya mengumpulkan ide terbaik dari luar.

Memberi label akan membatasi kreativitas kamu. Sebelum berpikir tentang ide kamu sendiri, ketika melihat bahan-bahan itu, pengetahuan kamu sudah terkotak ke dalam sistematika bernama folder dan label. Kamu mencegah suatu bahan keluar dari kotaknya.

Solusi kalau mau kreatif: hubungkan, jangan klasifikasikan.

Andalkan Warna dan Search

Google Keep punya fitur “search” (pencarian) sebagus Google, karena ia produk Google. Dari 129 catatan yang saya buat per Januari 2022, saya hanya perlu ketik 1 kata, tanpa enter, semua catatan sudah keluar semua. Ini seperti meninggalkan semua mainan di atas meja Leonardo Da Vinci, kemudian tinggal ambil dengan cepat.

Saya memakai pembeda berupa warna background. Warna kuning, khusus untuk “daftar” yang selalu saya update. Misalnya, daftar tulisan saya. Setiap hari saya update. Warnya gray untuk catatan yang tidak akan saya share. Ini isinya pekerjaan, tips yang work namun rahasia pekerjaan saya. Warna hijau untuk percakapan atau content yang boleh dibaca publik alias tidak rahasia. Biru untuk catatan yang berisi baris-baris ampuh terkait topik yang sering saya geluti, seperti: tips menulis, komunikasi, remote working, dll. Ini seperti “pelajaran” untuk diri-sendiri. Selebihnya, catatan lain, saya biarkan putih. Aforisme, link, ringkasan buku, apa saja saya biarkan putih.

Jika suatu catatan sudah menjadi artikel dan di-publish, langsung saya hapus. Hasil publikasi artikel itu saya screenshot dengan Awesome Screenshot, kemudian saya cantumkan link artikel, sebagai arsip. Ini saya lakukan setiap hari.

Cara Kamu Mencatat Mungkin Salah

Kamu mencatat agar bisa simpan detail penting? Saya juga. Apakah kamu tidak bisa ingat semua yang kamu catat? Saya juga pernah seperti itu.

Mencatat itu membebaskan bandwith mental kita. Otak kedua. Kadang kita sering pilih memotret nomor telepon orang, atau screenshot, kemudian kita simpan, agar tidak perlu meningatnya. Kita merekam, bukan menulis-ulang apa yang ingin kita ingat. Kita mencatat (dan Save) karena tidak mau ribet mengingat-ulang.

Setiap tugas, sekecil apapun, menciptakan “loop” (pengulangan) terbuka, menjadi “aplikasi yang berjalan di balik layar” pikiran kita.

Mari lihat proses orang mencatat. Saya singkat. Ini cara kebanyakan orang dalam mencatat: (1) Menemukan ide berharga; (2) Buka aplikasi catatan; (3) Menulis catatan, menyimpan gambar, dan setelah itu memasukkan ke folder atau menambahkan keyword untuk klasifikasi. Biar rapi? Bagus. (4) Kemudian kamu aktivitas lain, seperti biasa. Otak terasa merdeka, ketika apa yang penting sudah kamu catat dan Save.

Terus, apakah setelah itu kamu buka catatan tadi? Atau menunggu “kebutuhan” (biasanya mendadak, ketika ada masalah) baru membuka catatan tadi. Kita sering mencatat tetapi tidak jelas kapan akan kita buka.

Buka Kembali, Update, dan Hapus Jika Perlu

Itulah masalahnya. Kamu jarang buka-kembali catatan tadi. Kamu tidak berinteraksi dengan apa yang ingin kamu ingat, yang sudah kamu kemas begitu mudah. Kamu biarkan apa yang pernah kamu ingat. Catatan kamu perlakukan seperti flashdisk, di mana kita jawab pertanyaan orang, “Tenang, aku punya catatan yang aku simpan.”. Kita mencatat, seringnya karena malas mengingat-kembali.

Kamu baru tahu, paham, dan ingat, jika meluangkan waktu untuk menghubungi catatanmu lagi.

Itu sebabnya saya perlakukan Google Keep (tempat saya mencatat), seperti scrap book, semacam Tumblr (kalau kamu pernah buat) di mana saya scroll, saya ingat, dan sesekali ada gambar bergerak agar catatan saya seperti buku ajaib. Saya suka melihatnya setiap kali buka Android, buka laptop, buka MacBook. Catatan ini sesuatu yang selalu saya buka.

Banyak Aplikasi Pencatat Bikin Orang Tidak Produktif

Saya tidak mencatat untuk membuat pemakaman ingatan.

Google Keep cepat. Saya sering dalam keadaan “harus segera mencatat” ketika ide datang. Google Keep tidak rumit seperti Evernote, Obsidian, Notion, dan aplikasi lain yang tidak intuitif. Google Keep mirip blocknote yang bisa langsung kamu buka dan tulis sesuatu di sana. Tanpa gangguan.

Apa yang Perlu Kamu Catat

“Jenis Informasi Apa yang Kamu Butuhkan untuk Pekerjaanmu?”. Itu pertanyaan pertama. Tentang pekerjaan.¬†Sesuaikan dengan pekerjaanmu. Pastikan kamu akan buka lagi.

Saya punya daftar “jenis” catatan yang saya pakai untuk pekerjaan kreatif.

  1. Daftar Nama Klien, Masalah Mereka, dan Cara Saya Atasi Masalah Mereka. Salah satu informasi yang saya suka adalah daftar nama client, masalah mereka, dan bagaimana saya punya cara mengatasi masalah mereka.
  2. Ketakutan. Selain itu, saya punya catatan ketakutan. Saya suka ide Tim Feriss, “Definisikan ketakutanmu, jangan terlalu fokus pada tujuanmu.”. Benar. Saya sering menghadapi ketakutan dengan cara ilmiah: Define, Prevent, Repair. Definisikan ketakutanmu. Lakukan pencegahan. Perbaiki, agar tidak takut lagi. “Masalah” bisa menghasilkan “banyak solusi”. Catatan seperti ini yang selalu saya update dan membuat saya ingin membuka catatan saya lagi.
  3. Kamu Salah. Ini tempat saya mempertanyakan realitas, mengakui kesalahan dan kebodohan saya, merevisi pemahaman, dan menertawakan diri-sendiri.

Kita tidak bisa prediksi masa depan, tetapi kita bisa mengerti masalah paling awal, jika rajin mencatat,

Selalu Bertanya Sebelum dan Selama Mencatat

Sebelum mencatat, gunakan metode Socrates untuk bertanya.

  • Apakah informasi ini bagus dan membangun pengetahuan saya menjadi lebih kuat?
  • Apakah informasi ini harus saya save?
  • Bisakah saya ringkas saja?
  • Bagaimana kalau jadikan catatan ini “siap-pakai”, agar bisa saya masukkan ke dalam tulisan?

Saya bisa buat sepadat mungkin, atau menjadi kalimat lain dengan bahasa saya sendiri, atau saya berikan anotasi yang justru merevisi pendapat ini.

Saya tidak segan-segan menghapus apa yang saya catat jika sudah expired, out of date, atau bertentangan dengan temuan terbaru.

Kalau kamu baca proses kreatif Ernest Hemingway dan Charles Bukwoski, serta orang-orang kreatif lain (termasuk Elon Musk dan Steve Jobs), mereka kreatif dengan langkah awal sama: membiarkan ide mengalami inkubasi, pematangan di pikiran. Ide yang berkecamuk dan “sangat mengganggu”, membuat mereka gelisah, ingin tahu, sampai dalam aktivitas apapun mereka pikirkan ide itu. Pada saat inilah, mencatat bisa menjadi hal kreatif. Buka kembali catatanmu. Update dan revisi kalau perlu. Hapus jika tidak layak menjadi gagasan. “Jangan lupa” bisa kamu atasi dengan “terlibat” dengan catatan kamu.

Mungkin kamu sangat suka membaca suatu topik. Addicted. Begitu buka browser, kamu cari topik itu. Semacam konsumerisme, menuruti kelaparan informasi, dan terhibur karena terus membaca informasi yang kamu suka. Apakah kamu hanya seperti memutar ulang lagu kesukaanmu? Lagu yang sama. Atau seperti memanggil penyanyi untuk menyanyikan lagu-lagu kesukaanmu? Informasinya berbeda, sumbernya sama. Ini adegan “mengenang”, “mengambil”, dan “reuse”. Mencatat, kadang seperti itu.

Sebisa mungkin, jangan asal mengumpulkan informasi dari topik yang kamu suka. Cari, ambil yang terbaik (untuk masa depan), kemudian peras. Nikmati setetes demi setetes. Campur dengan minuman lain. Proses kreatif itu penggabungan, menghubungkan titik demi titik menjadi sebuah “gambar”.

Untuk Kepentingan Penelitian dan Referensi, Pakai Aplikasi Ini..

Untuk mengumpulkan referensi, jangan pakai Google Keep. Tidak cocok.

Saya memakai RainDrop. Aplikasi ini jarang diulas, namun sangat sakti. Raindrop adalah pengelola bookmark. Bayangkan, kamu sedang meneliti untuk menulis topik “Manfaat teknologi blockchain untuk kemanusiaan”. Kamu membuat outline, apa saja yang perlu kamu bahas. Kemudian kamu browsing. Setiap item di outline tadi, kamu cari. Jika ketemu URL bagus, kamu bisa save dalam 1 folder, kemudian kamu beri tag sesuai outline yang kamu buat.

Sedangkan untuk mengumpulkan dan menggabungkan bahan, seperti ketika membuat paper, essay, atau makalah, kamu bisa pakai OneNote Web Clipper. Bisa juga dengan Research Note (Beta).

Saya lebih rekomendasikan 2 aplikasi itu daripada memakai Obsidian atau Notion yang pemakaiannya sangat ribet.

Detail pemakaian aplikasi OneNote Web Clipper dan Research Note (Beta)

Menulis Makalah Online dengan OneNote Web Clipper

Riset Online dengan Research Note (Beta)

Jangan remehkan pentingnya mencatat. Sampai datang masalah dari masa depan dan pelajaran datang terlambat, mungkin baru kamu akan mencatat. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *