in ,

Gerai Robot Chatting UMKM, Kampanyekan Belanja di Warung Tetangga

SEMARANG (jatengtoday.com) – Masih dalam rangka mendongkrak geliat ekonomi masyarakat melalui Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Semarang, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Semarang, Bambang Suranggono mengaku akan terus melakukan sejumlah inovasi untuk mendorong UMKM.

Salah satunya program Gerai Robot Chatting UMKM yang terintegrasi 16 kecamatan di Kota Semarang. Bambang menjelaskan, Gerai Robot Chatting UMKM ini mendorong agar masyarakat belanja di warung tetangga.

“Sebetulnya ini menindaklanjuti permasalahan adanya banyak warga yang masih kesulitan mengakses teknologi aplikasi internet. Maka kami kembangkan ada robot asisten yang secara otomatis mencari pelaku UMKM hingga ke level RW di 16 kecamatan,” terang Bambang, Sabtu (4/7/2020).

Dia menjelaskan, Gerai Robot Chatting UMKM ini menggunakan konsep sederhana dengan memanfaatkan WhatsApp (WA). “Jadi, warga bisa membuat toko online dengan cara ber-WA ria. Ini untuk mensukseskan program belanja di warung tetangga,” katanya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga membuat market place dalam bentuk aplikasi yang diberi nama “Gulo Asem”. “Aplikasi ini menjadi katalog elektronik lokal market. Anggota kami batasi dulu untuk UMKM Kota Semarang. Mereka diberi pasar yang sudah pasti. Misalnya dinas-dinas di Pemkot Semarang. Misalnya butuh snack untuk keperluan rapat dan seterusnya,” ujarnya.

Berbagai program terkait pengembangan UMKM tersebut menjadi inovasi maintenance data bernama Program Gerakan Terintegrasi Koperasi dan Usaha Mikro (Gerai Kopi dan Mi). “Setiap UMKM di 16 kecamatan di Kota Semarang bisa mendaftarkan secara online, nanti masing-masing mendapatkan akses untuk masuk ke aplikasi Gulo Asem (Gerai Usaha Mikro Lokal Online Asli Semarang) yang bisa didapatkan di playstore. Dagangan UMKM akan ada di situ. Baik jenis olahan pangan maupun kriya, fashion dan sebagainya. Syaratnya cukup dengan mendaftarkan UMKM,” terangnya.

Pemanfaat teknologi ini juga menjadi alternatif solusi bagi warga agar tetap bisa menjalankan bisnisnya selama masa penyesuaian new normal. Kondisi ini memaksa warga untuk melakukan aktivitas usaha dari rumah dan bisa menjangkau wilayah pemasaran yang luas.

“Kami juga memasilitasi warga yang kesulitan mengakses teknologi dengan pelatihan dan pendampingan,” katanya. (*)

editor : tri wuryono