in

Fotografi dan Recording Video dengan Android (Bukan untuk Pemula)

TINGKAT KEDALAMAN. Bisa diciptakan dengan menetapkan perbedaan ketajaman, warna, dan pencahayaan. Pada foto, terutama landscape (pemandangan), selalu harus dibedakan antara bagian foreground (paling dekat), middleground (tengah), dan background (terjauh).

Summary

  • Rahasia kesaktian aplikasi Open Camera dan Camera FV-5
  • Cara memilih dan mengamati lokasi sebelum shooting dan recording video
  • Apa saja yang perlu disiapkan sebelum berangkat ke lokasi?
  • Setup kamera dan persiapan framing
  • 7 Teori komposisi dasar dalam fotografi Android
  • Kapan, bagaimana, dan mengapa kamu perlu melanggar “rule of thirds”
  • Lebih detail tentang “sense of depth” dalam fotografi Android
  • Pengaturan EV (exposure value) ke manual dan cara menguncinya
  • Trik memakai 1 kamera seperti memakai 2 kamera
  • Catatan tambahan sebelum memulai shooting dan recording video

Siapkan Konsep Sebelum Recording Video

Jangan otw tanpa konsep. Kecuali kamu hanya mau jalan-jalan, mencari ide, tanpa target, dan bersedia membuang energi dan waktu. Mau live-report atau mau liputan, ya harus pakai draft, konsep. Mau bikin film, ya harus pakai script. Jika tidak, akan ada pembengkakan biaya dan menghabiskan waktu. Minimal punya “shoot list“, daftar yang berisi lokasi dan apa yang mau di-shoot. Konsep live-record dan pembuatan script film, tidak dibahas dalam tulisan ini.

Pakai Aplikasi Foto dan Recording Video Terbaik

Aplikasi bukanlah segalanya, tetapi bisa membantu mendapatkan kualitas terbaik, memudahkan pekerjaan, dan membuat recording (dan editing) lebih efisien.

Berikut ini 2 aplikasi terbaik untuk foto dan video recording di Android.

Open Camera

Open Camera itu free dengan fitur mengungguli aplikasi premium:

  • Auto-stabilize dengan hasil “mantap”, bisa kamu coba shooting sambil berjalan, tanpa goyang.
  • Exposure compensation/lock, antibanding. Fungsinya, kalau warna dan kecerahan sudah kamu atur, tinggal “lock” (kunci) agar saat kamera digeser tidak terjadi perubahan warna.
  • Kalau mau “timer” untuk merekam sendiri dari kamera belakang, bisa memakai suara (bukan hanya detikan) dengan delay yang bisa diatur sendiri.
  • Guide lebih lengkap: mau 9 grids, golden mean, cross-hair, matrix, bisa semua. Ada opsi menambahkan tanggal dan waktu di video, termasuk koordinat GPS, ataupun custom text.
  • Support external microphone.
  • HDR bukan asal HDR. Terdapat kemampuan auto-alignment, ghost removal (agar yang menonton foto/video kamu, tidak mengira ada hantunya), dan exposure bracketing.
setting hdr di open camera
HDR dengan pengaturan tepat, bisa memperjelas “jarak” obyek dan ketajaman warna. (Foto: OpenCamera)
  • Manual focus bisa berdasarkan jarak, support manual ISO, exposure time, WB temperature, burst, dll. *) Mau dipakai untuk foto macro, pementasan teater, luar ruangan, fotografi olah-raga, bisa semua.
  • Support format RAW (DNG) files. Kalau bisa ambil format RAW, lebih mudah untuk editing, misalnya memakai Adobe Lightroom CC 2018.
  • Slow motion video, dan hasilnya lembut, tanpa patahan.
  • Noise reduction dan optimasi jangkauan dinamis, dengan hasil keren. Bagi sebagian orang, NR (noise reduction) lebih disukai daripada HDR.
Noise Reduction (NR) berhasil dalam banyak kasus, terutama jika kamu memakai tripod, tanpa menggerakkan kamera, dalam 1 adegan. (Foto: OpenCamera)
Kemampuan Noise Reduction (NR) yang mantap dari Open Camera. (Foto: OpenCamera)
  • Support Mi Band 2 dan Amazfit Selfie.
  • Ukuran file foto/video sangat kecil.
  • Tidak perlu upgrade dan tanpa iklan. Ini aplikasi memang sengaja free dengan fitur kelas premium.
  • Kalau kamu pengembang aplikasi, kamu bisa lihat source code aplikasi Open Camera ini untuk kamu kembangkan sendiri.
setting hdr di open camera
HDR dengan pengaturan tepat, bisa memperjelas “jarak” obyek dan ketajaman warna. (Foto: OpenCamera)

Camera FV5

Camera FV5 punya fitur yang menarik untuk foto dan recording video:

  • Interface paling mirip DSLR.
  • Exposure bracketing dari 3-7 frame, pause unlimited, dan pergeseran EV custom. Camera FV-5 punya fitur exposure bracketing bawaan. “Bracketing” berarti mengambil beberapa gambar dengan beberapa parameter dan exposure berbeda. Pada kamera DSLR fitur ini disebut “BRK” atau “AEB”. Exposure bracketing berguna ketika meng-capture foto tanpa perlu mengukur nilai exposure yang tepat, dan ketika memotret area terang dan gelap dalam 1 frame. Camera FV-5 menjelaskan tutorial
  • Punya intervalometer untuk membuat video timelapes (biarpun timelapse ini bracket atau HDR, tetap bisa!), dan stop-motion.
  • Bisa long exposure (biasanya dipakai untuk menampilkan jejak-cahaya kendaraan pada night photography) sampai 30 detik!
  • Pengambilan format .jpeg, true 16-bit RAW dalam format .DNG (semoga kamera kamu support untuk fitur ini), dan lossless PNG langsung pakai kamera. Dengan fitur ini, editing lebih mudah.
  • Manual shutter speed dari 1/80000 sampai 2. Sekali lagi, yang penting kamera di Android kamu sudah support untuk fitur ini.
  • Seluruh fitur kamera bisa diakses dari volume key: utuk pengaturan EV, ISO, temperatur warna, dll.
  • Mau manual EV dan ISO bisa, mau dikunci (setelah pengaturan manual) juga bisa. Ada fitur AF-L (autofocus lock) yang berguna kalau malas mengatur. Cara ini sering dipakai untuk memfokus obyek X yang sedang bergerak-gerak. Tinggal klik AF-L maka foto/video yang kamu ambil, sudah autofocus.
  • ViewFinder di screen bisa menampilkan live RGB histogram, 10 garis-bantu komposisi.

Yang penting, pahami konsep dan peristilahan dalam fotografi dan video. Paling mudah, bisa simak tutorialnya di YouTube, kemudian coba foto dan rekam video sebanyak-banyaknya.

Periksa Ini Sebelum Berangkat

Sebelum berangkat ke lokasi, pastikan:

  • Bawa tripod dan microphone. Jika tidak punya tripod, gunakan piranti seadanya. Misalnya, taruh kamera di atas meja. Yang penting, posisi kamera stabil. Jika masih nggak bisa lagi, latihan menstabilkan kamera.
  • Microphone (audio clip-on) itu penting terutama jika live-report dan untuk mereduksi noise di sekitar lokasi, untuk memudahkan editing.
  • Periksa battery, kalau bisa pada saat berangkat selalu dalam kondisi power 100%. Bawa powerbank dan charger.
  • Pastikan punya kapasitas-simpan yang cukup untuk shooting. File video itu besar, terutama pada recording 4K atau foto RAW. Setidaknya, untuk pengambilan 10 menit, dengan kualitas tinggi, kamu harus sediakan ruang kosong di penyimpanan, sekitar 1.5 GB. Sedangkan untuk pengambilan foto RAW, per foto bisa mencapai 20MB. Pindahkan dulu foto dan file ke laptop, bisa memakai ShareIt (untuk memindahkan file dari hape ke laptop).
  • Siapkan transportasi, logistik, akomodasi, air minum, dll. Biaya dan kebutuhan perjalanan itu penting, sekalipun kamu berangkat sendirian.

Memilih dan Mengamati Lokasi

Memilih Lokasi

Bagaimana cara saya memilih lokasi yang keren?

Lokasi shooting yang keren itu:

  • Cocok dengan konsep recording kamu. Ini pilihan nomer satu. Sesuaikan dengan konsep atau script.
  • Punya view (pemandangan, tampilan) yang keren. Cari ini kalau mau pamer tempatnya atau konsepnya berwisata. View yang keren, sudah terlalu klise.
  • Tidak punya visual noise (gangguan tampilan), misalnya: warnanya “kacau”, “texture” nggak kuat (jika kamu mau close-up). Terlalu banyak mengakali, akan membuat shooting lebih lama. Lebih baik menjelajahi daripada mengakali. Namun, jangan cepat menyerah.
  • Bisa dipakai untuk mencoba bermacam-macam angle dengan hasil keren. Tempat yang bisa menghasilkan gambar bagus ketika kamu mencobakan beberapa teknik capture, seperti: manual focus, close-up, medium shot, wide angle, dolly, dutch angle, dll. Paling tidak, teknik pengambilan yang sesuai dengan konsep recording kamu, “masuk” semua di lokasi itu.
  • Bisa focus ke obyek dengan mudah. Cek dulu tempat itu pada pengaturan kamera ke autofocus dan manual focus.
  • Noise suara minimal. Noise suara lebih sulit diakali daripada noise background. Kalau noise suara, editing lebih berat. Jika tidak bisa tidak, kamu bisa reduksi dengan memakai mikrofon.
  • Nggak banyak gangguan manusia. Bukan berarti sepi. Cari tempat yang mudah dikondisikan. Termasuk gangguan bagi kru. Tidak jarang, kru mendapatkan gangguan ketika memasuki tempat yang terlalu menarik. Selesaikan pekerjaan dulu, baru kemudian jalan-jalan.

Ada banyak tempat seperti ini di Semarang, misalnya di sekitar Tugu Muda Semarang.

Location Scouting

Lakukan “location scouting”, kenali lokasi lebih dekat dan lebih akrab, jangan terburu-buru ambil foto apalagi upload. “Location scouting” itu semacam pengamatan awal, jangan sampai foto atau video kamu sudah ada yang pernah buat sebelumnya. Kalau ada #hashtag, cari berdasarkan hashtag. Lihat, foto apa saja yang ada di situ. Tujuannya, agar fotomu tidak sama dan bisa mencari sudut-pandang berbeda.

Bagaimana Caranya “Location Scouting”?

  • Pertanyaan dalam “scouting”: “Apakah saya bisa melakukannya di lokasi ini?” Misalnya: close-up dengan manual focus, medium shot, dll. Coba lakukan sesuai konsep foto dan recording video kamu. Buka script film kamu, segera coba dulu satu per satu. Jika script tanpa keterangan angle kamera, segera coba sebelum aktor bermain.
  • Coba buka akun media sosial kamu atau search di Google, cari informasi tentang tempat itu. Misalnya, sedang di Gedung Monod Diphuis, ketik saja di search: “kota lama semarang“. Akan terlihat seperti apa foto-foto yang sudah ada di sana.
  • Kalau belum masuk peta, berarti kamu masih bebas bikinnya. Waspada kalau tempat itu sudah ngehit. Kalau belum ada di peta, kamu bisa klaim tempat itu, melalui Google Map atau Facebook Place. Tempat yang sudah ngehit, berarti banyak pesaing. Besar kemungkinan, banyak orang sudah ambil gambar di situ.

Mulai Fokus ke Script, Atur Kamera, Siapkan Framing

  • Buka script atau shootlist yang sudah kamu buat. Coba perhitungkan, adakah kesulitan pengambilan gambar nanti. Jika ada kemungkinan lebih bagus, mungkin script perlu diubah mendadak di lokasi, setelah location scouting.
  • Setup kamera. Setelah menyiapkan kamera dan menentukan pakai aplikasi mana, mulailah setup kamera.
    Sesuaikan dengan fitur dasar yang dimiliki oleh kamera Android kamu. Aplikasi tidak bisa menyulap kemampuan sebatas 720p ke 1080p. Selama setup kamera dengan aplikasi, pahami pemakaiannya. Mau ambil “raw”? Resolusi HD atau 4K? Autofocus atau manual focus? Coba semua fitur dan pastikan kamu bisa melakukannya dengan benar dan cepat. Periksa light-meter, tonal warna, exposure value, ISO, dan focal length.
  • Pasang tripod. Tidak ada tripod, tidak masalah, yang penting posisi kamera stabil. Tujuan memasang tripod ini, untuk menyesuaikan pengambilan angle. Misalnya, kalau mau medium shot, atau wide shot, jelas bagian atas-bawah atau kanan-kirinya. Aktifkan stabilizer jika tidak pakai tripod. Angle seperti dolly (kamera menjauhi obyek statis) itu butuh sambil-jalan, jadi aktifkan stabilizer.
  • Jangan ada gangguan. Aktifkan “mode pesawat” (flight mode), agar tidak ada gangguan selama shooting. Kalau mau tidak ada SMS masuk, lakukan panggilan ke *#*#4636#*#* kemudian off. Lakukan pada SIM1 dan SIM2. Jangan lupa mengaktifkan lagi setelah shooting selesai.
  • Aktifkan garis-bantu (guideline) pada kamera. Fungsi garis-bantu ini untuk mengatur komposisi dalam pengambilan gambar, terutama jika mau mendapatkan “garis horizontal” yang benar-benar “rata”, pada pengambilan “medium shot” dan “wide angle”.
  • Bersihkan lensa kamera. Kalau mau untuk self-recording dari kamera depan, bersihkan juga. Ini sepertinya sepele, tetapi sering dilupakan sebelum shooting.
  • Apakah sudah horizontal? Pastikan shot-level kamu benar-benar dalam posisi horizontal. Coba lihat bangunan atau laut atau jalan, kemudian sejajarkan dengan guide-line horisontal di hape kamu. Hasil yang nggak horizontal, menjadi masalah dalam komposisi.
  • Pastikan aktor tahu bagaimana menatap kamera. Posisikan lensa kamera tepat di bawah “eye level” (mata aktor) saat recording adegan. Agar aktor menatap tepat di kamera nanti, gunakan rumus ini: jika memakai kamera belakang, tatap di bagian atasnya lensa kamera, sedangkan jika menggunakan kamera depan, tatap pada lensa kamera.
  • Pasang audio clip-on (microphone) kemudian uji dulu kualitas dan volume suara.
  • Lakukan pengujian adegan. Tidak harus dilakukan aktor. Bisa orang lain. Director (sutradara) bisa sambil mengarahkan, nanti seperti kira-kira acting-nya.
  • Amankan area. Jangan sampai “bocor”, yaitu, adanya obyek, adegan, suara, dll. yang seharusnya tidak masuk ke dalam frame tetapi ada.
  • Jika kamu merekam diri-sendiri untuk YouTube, jangan posisi tepat di tengah frame. Gunakan teori komposisi selama memotret atau melakukan recording video.

Fotografi dan Video Recording

Komposisi (Posisi, Fokus: Kamu Melihat ke Mana?)

Komposisi berarti pengaturan dan penyusunan obyek. Biarpun pakai kamera high-end yang bisa capture obyek pada resolusi tinggi dan tajam, kalau komposisinya jelek, tidaklah menarik.

Video ini menjelaskan bagaimana menerapkan teori komposisi fotografi dalam perfilman.

Rule of Thirds (Aturan Sepertiga)

Ini “aturan” komposisi yang paling umum dalam komposisi fotografi. Anggap saja frame terbagi menjadi 9 kotak. Tempatkan obyek yang mau difokuskan, tepat pada garis pertemuan yang membentuk 9 grid itu. “Rule of thirds” menempatkan obyek foto pada #titikpertemuan garis-bantu, atau membiarkan obyek #mengalir dari bagian satu ke bagian lain, atau menggunakan hanya (maksimal) 75% dari seluruh area.

rule of thirds dalam fotografi
RULE OF THIRDS. Bayangkan setiap frame terbagi menjadi 9 kotak. Biarpun ada banyak model grid, tetapi ini yang paling dasar dalam komposisi fotografi.

Pastikan mengaktifkan #garisbantu (guide lines) pada kamera Android kamu. Garis bantu, selain untuk kepentingan komposisi, juga untuk memastikan bahwa kamera kamu sudah benar-benar rata-air alias horisontal. Walaupun ini bisa dilanggar, tetapi sering dilupakan. Cari bangunan tegak atau permukaan air laut, ratakan atau sejajarkan dengan garis bantu. Kalau perlu, gunakan tripod.

menampilkan view finder
Garis-bantu di kamera Android berfungsi untuk mengatur penempatan obyek di dalam frame. Fokuskan pada pertemuan garis. Jika fokusnya pada 2/3 bagian, biarkan 1/3 kosong. “Peraturan sepertiga” merupakan peraturan komposisi paling dasar dalam fotografi. Dan boleh dilanggar.

Yang paling #menarik bagi mata, ada pada pertemuan garis, dengan perhitungan seperti ini:

PENERAPAN ATURAN-SEPERTIGA. Fokuskan obyek di garis pertemuan. Garis bantu, selain untuk kepentingan komposisi, bisa untuk memastikan bahwa kamera sudah dalam posisi benar-benar horisontal (rata-air).

Contoh penerapan dalam fotografi:

paling disukai di grid kamera
Tergantung pada situasi (adegan) dan teknik pengambilan, namun bagian kiri lebih banyak disukai sebagai area fokus.

Contoh penerapan saat memotret

Saya Perlu Melanggar Peraturan

Mengapa tidak? Sama sekali tidak dilarang, asalkan mau melakukan eksperimen dan bagaimana kamu “perlu” melanggar peraturan itu. Termasuk dalam peraturan komposisi di atas.

Video ini menjelaskan kapan, mengapa, dan bagaimana “peraturan sepertiga” dalam fotografi perlu diganti dengan komposisi yang lain.

Golden Mean

Selain “aturan sepertiga”, ada aturan “golden mean”. “Golden mean” berpirinsip bahwa semua obyek dalam jagat raya ini berada dalam aliran dan memiliki “ratio” perbandingan. Baca sendiri teorinya tentang “golden mean” dan bilangan fibonacci.

Ini adalah contoh penerapan komposisi “golden mean

Hasil pengaliran obyek, seperti dalam gambar ini:

Keteraturan dan aliran obyek, bisa dituangkan dalam “golden mean”.

Panduan komposisi dalam fotografi milik Belfot dan penjelasan Sheldon School tentang “peraturan sepertiga” dalam fotografi, perlu dibaca lebih dalam dan terus dicoba setiap kamu memotret atau recording video.

Symmetry

Kesamaan bagian kanan-kiri, atau atas-bawah, atau diagonal-atas dengan diagonal-bawah. Simetri selalu bagus. Pengambilan gambar di lorong Lawang Sewu, rel kereta api, dari balik jendela di dalam rumah, bisa menghasilkan simetri yang bagus. Bahkan wajah kelihatan cantik, salah satu faktornya, karena terdapat simetri yang kuat. Semakin simetris, semakin bagus. Gunakan simetri, dengan fokus obyek tepat di tengah, jika dan hanya jika obyek ini benar-benar penting dalam adegan.

Bentuk dan Leading Line (Garis Penuntun)

Setiap foto memiliki “sketsa” maya, kadang tak-terlihat, yang menampilkan garis penuntun sederhana, yang menjadi pengarah mata, menuntun kepada obyek. Foto lengkung danau dan perahu yang tampak dari kejauhan, itu mengesankan kurva (garis lengkung) dan titik.

Temukan “leading-line” (garis penuntun) di dalam obyek foto.

Leading line memberikan kesan adanya “movement” (pergerakan), menuntun mata agar mengarah pada obyek yang hadir di dalam foto. Sederhanakan bentuk obyek menjadi bentuk yang sangat sederhana, misalnya: lingkaran, segitiga, beberapa garis, dst. Ini sebabnya, foto jalan (yang diambil dari tengah jalan), foto rel kereta-api, kelihatan selalu menarik. Ada garis atau bentuk semu di sana.

Kompleksitas yang sudah direduksi menjadi bentuk sederhana, seperti dalam silhouette, atau one-line design, bisa membuat apresian lebih berfantasi dan menambahkan gagasan apa saja dari dalam pikiran.

Headroom

Berikan “ruangan” untuk kepala. Kalau di atas kepala tidak ada ruangan lagi, maka aktor atau model menjadi seperti berada dalam ruangan sempit. Tetapi jangan gunakan teknik sinetron yang terlalu sering memasukkan semua aktor ke dalam 1 frame. Ini justru tidak “bercerita”. Ada kalanya menggunakan teknik close-up (CU) atau extreme close-up (XCU), dan ini berarti tidak mungkin menampilkan seluruh kepala. Di sini, perlu mengarahkan “mata” aktor atau model, agar kelihatan ia sedang apa: berpikir, menatap ke arah lain, atau sedang berbicara dengan orang yang tidak tampak wajahnya di kamera. Gunakan teknik ini untuk menjelaskan aktor atau model sedang berada di ruangan apa dan dalam situasi bagaimana.

Sense of Depth (Kedalaman: Warna, Ketajaman, Pencahayaan)

Kalau komposisi berurusan dengan pengaturan susunan obyek dalam frame, maka “sense of depth” berkaitan dengan warna, ketajaman, dan pencahayaan.

Foto atau video yang bagus, bukan sekadar gambarnya tajam, tetapi harus punya “sense of depth”. Apakah foto atau videomu sudah memiliki rasa tentang kedalaman?

Depth of Field (Kedalaman)

Ini bisa dimainkan dengan manual focus dan hyperfocal. Manual focus berarti hanya fokus pada 1 atau 2 obyek, selainnya tampak lebih blur, sedangkan hyperfocal lebih rumit lagi: fokus kepada lebih dari 1 obyek. Jadi, dalam pengambilan gambar, tidak harus selalu autofocus. Kadang perlu ada obyek atau benda yang sengaja lebih fokus dari sekitarnya, misalnya adegan surat yang tertinggal atau panggilan tak terjawab.

TINGKAT KEDALAMAN. Bisa diciptakan dengan menetapkan perbedaan ketajaman, warna, dan pencahayaan. Pada foto, terutama landscape (pemandangan), selalu harus dibedakan antara bagian foreground (paling dekat), middleground (tengah), dan background (terjauh).

Foreground, Middle, Background

Foto memiliki “sense of depth”, kalau memperhatikan FBM. foreground (depan), middle (tengah), dan background (belakang). Foto selfie sering terlihat jelek karena mengabaikan “middle” (bagian tengah).

Portrait, Jangan Landscape

Ini masalah “tantangan”. Untuk foto bagus dalam format “landscape” itu lebih mudah, tetapi lain masalahnya jika fotonya berformat portrait (vertical), namun bukan selfie. Format “portrait” (vertical), sering kita temui pada tampilan “serius”, misalnya: pintu, cover buku, foto ektp, majalah, dll. Format “portrait” itu format default pada smartphone. Cobalah format “portrait”, tanpa crop, untuk mencoba mendapatkan kedalaman foto.

Perspektif dan Sudut Pandang

Perspective” artinya “cara pandang”. Dalam foto yang mengandalkan perspektif, ada “titik-lenyap” dan “point of view” (sudut-pandang) fotografer. Kalau pakai “perspective”, foto akan memiliki sudut-pandang yang tak-biasa. Sebuah jalan, rel kereta api, orang yang berdiri menonton karnaval, gedung dan rumah berjajar, semua itu bisa menghasilkan perspektif. Perspektif menyatakan “jarak” (jauh-dekat), posisi (saya di sini), dan bisa dikombinasikan dengan teknik lain.

Cari 2 titik-hilang, kalau bisa, dan gunakan sudut-pandang berbeda.

Foto drone itu menarik, salah-satunya karena memakai sudut-pandang berbeda dari biasanya.
Pikirkan mana titik-lenyap dan pilih sudut-pandang berbeda.

Frame dalam Frame. Teknik ini sering dipakai dalam foto dan video di Instagram. Konsepnya mudah: “Hadirkan frame lain di dalam foto”. Jika dalam fotomu ada bingkai atau yang terkesan sebagai bingkai, maka foto lebih terasa memiliki “kedalaman”. Itu sebabnya, foto yang memperlihatkan sebagian pintu, lorong, jendela, mengintip dari lubang-kunci, atau dari balik kaca, biasanya menarik. Foto bayangan di dalam mata seseorang, atau foto orang sedang melihat cermin (melihat bayangannya sendiri), itu juga mengesankan ada bingkai lain di dalam foto.

DoF dan Wide Angle

Sudut pengambilan-foto yang lebih lebar, bisa menampilkan kedalaman. Pelajari “depth of field” (DoF). Sayangnya, teknologi fotografi Android belum banyak menyentuh ke depth of field dan wide angle.

Layer (Lapisan)

Foto kelihatan memberikan kesan kedalaman, kalau ada “layer” (lapisan). Misalnya: foto pegunungan, yang menampilkan bagian terdekat dengan fokus dan kontras tinggi, sementara gunung yang lebih jauh kelihatan lebih cerah. Layer membuat orang berimajinasi tentang jarak.

Layer bisa lebih terasa jika fotografer memainkan “DoF” (Depth of Field): aperture, focal (atau hyperfocal), dan ISO. Prinsip “layer” kadang disebut dengan “overlapping” (tumpang-tindih).

Layer juga bisa dikesankan dengan pemisahan warna. Itu sebabnya dalam kamera, ada “safe color”, di mana kita bisa memilih untuk “menyelamatkan” (ini berarti: memilih) warna tertentu dan membiarkan lainnya dalam format grayscale.

Natural Light dan Shadow (Cahaya Alami dan Bayangan)

Temukan pencahayaan alami dan bayangan. Sudah pasti, kalau obyek memiliki “shadow” (bayangan), berarti ada “lighting” (pencahayaan), yang berarti kedalaman. Gunakan pencahayaan, jangan terlalu gelap. Jika dalam ruangan gelap, setidaknya ada cahaya ambient. Gunakan penerangan tambahan jika diperlukan. Hanya jika darurat: kamu bisa memakai hape lain dengan mengaktifkan “torch light”, posisikan agak jauh, dan sesuaikan.

Atur EV ke Manual, Kemudian Lock

Bagian ini sering dilupakan dalam recording video: mengatur EV (exposure value) ke manual, kemudian lock.

Atur kualitas foto atau video pada 16:9, minimal 1920×1080 pxl, dan kualitas 1080p. Ini sudah cukup untuk video YouTube berkualitas HD. Kamu bisa memakai resolusi 4K namun tidak harus. Ukuran file 4K sangat besar, apalagi nanti jika melakukan editing.

Atur exposure ke manual, kemudian “lock”. Lakukan ini pada 1 adegan yang sama. Tidak perlu repot. Gunakan Open Camera atau Camera FV-5, atur exposure ke manual, kalau sudah ketemu pengaturan tepat: klik tanda kunci. Selesai. Tinggal shooting dan recording video.

Mengapa EV (Exposure Value) Perlu Diatur ke “Manual”?

Setting autoexposure (AE) berarti ketajaman dan “texture” dalam foto/video selalu berubah. Lighting juga berubah, ini juga berarti warna dan intensitas warna (hue, saturation) ikut berubah.

Setelah nilai exposure (EV, exposure value) dalam 1 frame dan 1 adegan kamu temukan, lock EV itu. Pengambilan video di dalam ruangan ataupun di luar ruangan, sebaiknya pakailah “manual EV”. Inilah sebabnya, kamu perlu memakai aplikasi perekaman-video yang punya fitur “lock” pada pengaturan EV.

Hanya 1 Kamera, Seperti Memakai 2 Kamera

Bagaimana memakai 1 kamera untuk 1 adegan dengan beberapa angle berbeda?

Cara ini sering dibutuhkan pada adegan dialog yang memakai teknik “cut to”. Dialog “cut-to” adalah 2 atau 3 orang yang berdialog, namun memakai angle yang berubah-ubah, tidak hanya dari 1 posisi kamera.

Misalnya, adegannya begini: Tamu berdiri di depan pintu, mau berbicara dengan Tuan Rumah yang berdiri di pintu.

Setidaknya, ada 2 angle dalam adegan ini: dari posisi Tamu (berarti Si Tamu membelakangi kamera dan wajah Tuan Rumah kelihatan) dan dari posisi Tuan Rumah (yang kelihatan di frame, wajah Si Tamu).

Caranya: Posisikan kamera di angle 1 (dari depan pintu) kemudian minta Tuan Rumah berdialog. Semua dialognya ia selesaikan. Kemudian, posisikan kamera di angle 2 (dari dalam rumah) kemudian selesaikan dialog Si Tamu. Beri catatan untuk editing bahwa nanti ini mau dipotong selang-seling, dan ditampilkan bergantian (dialog). Dengan cara seperti di atas, 1 kamera yang kamu pakai seolah-olah menggunakan 2 kamera.

Mulai Shooting dan Recording

Semua sudah siap? Mulai lakukan perekaman, ambil gambar. Pada saat ini, perhatikan selalu tentang komposisi.

Tidak jarang, adegan yang sudah direkam, perlu diulang. Sebisa mungkin, ulangi langsung.

Kapan adegan sebaiknya diulang?

  • Jika bisa diulang. Misalnya, hanya membutuhkan acting manusia, tanpa keterlibatan property mahal atau moment yang harus menunggu berjam-jam.
  • Terlalu banyak “noise“, “bocor”, perubahan warna (dan hal-hal lain yang memberatkan proses editing).
  • Kesalahan yang menurut sutradara perlu diulang.

Perhatikan perubahan yang terjadi pada pencahayaan, jika pindah lokasi. Ini bisa karena cuaca, pencahayaan berbeda, waktu berbeda, dll.

Catatan Tambahan

Saya tidak menyarankan pemakaian presets (pengaturan bawaan) dengan aplikasi. Apalagi presets itu sampai melakukan perubahan pada warna dan pencahayaan dengan main filter. Bandingkan foto atau video kamu dengan obyek asli yang kamu capture, lihat seperti apa warnanya. Cobalah pada waktu berbeda, perhatikan bagaimana kamera kamu memperlakukan cahaya pagi (cahaya natural), lampu ruangan, dan malam hari. Pemakai Android lebih sedikit yang berani bermain di street photography di malam hari, karena mereka jarang melakukan eksperimen untuk memotret di malam hari di luar ruangan.

Sekali lagi, kekuatan gambar bukan hanya pada ketajaman kamera dan pemakaian aplikasi, tetapi pada caramu memperlakukan obyek. Kelak, setelah kamu memotret, kamera itu hampir tidak disebut dalam foto atau video kamu, tetapi, foto atau video itu mengajak orang lain “mengulangi” moment pengambilan foto atau video yang telah kamu lakukan.

Ambil foto atau recording video secara “mentah”, tanpa melakukan perubahan berlebihan dengan filter. Editing akan lebih menyenangkan. Hasilnya juga lebih keren.

Belajarlah menyiasati kamera, rajin melakukan “location scouting”, dan jangan menyerah pada hasil. Kamu dapat mengikuti keberhasilan orang-orang terkenal yang punya “gaya” dalam foto atau video. Belajarlah dari pengalaman asalkan pengalaman itu lebih baik dari kemampuan orang dan referensi yang bisa kamu pelajari, agar waktumu tidak habis hanya untuk belajar dari pengalaman.

Kurangi saturasi warna, sedikit dari normal. Jika ada texture, pastikan texture itu terlihat di tampilan frame. Texture biasanya pada tembok, kayu, tanah, dan kulit. Ini perlu pengaturan resolusi, ISO, manual focus, dan exposure di kamera smartphone.

Perbaiki tonal warna (color tone). Ini akan berpengaruh pada kontras dan harmoni warna.

Naikkan kontras, agar tidak ada midtone terlalu banyak. Naikkan glow pada logam, langit, dan benda-benda berwarna cerah.

Prioritaskan ke bagian atau obyek yang paling dikenal orang dalam foto itu. Misalnya, nge-shoot wajah. Utamakan pada kulit dan mata. Jika perubahan terjadi pada bagian atau obyek yang paling dikenal orang, maka latar dan obyek lain bisa menyesuaikan. Naikkan ambience, structure, sharpening, brightness, contrast, dan highlight.

Turunkan warmth. Jangan memakai presets warna, pencahayaan, dan filter berlebihan.

Buat gambarmu bercerita. Pahami teorinya, potret yang banyak, sampai hasilnya bagus.

Selama proses memotret dan recording video, ketahui apa yang disepakati bersama. Memang penting memberikan “teaser” kepada orang di media sosial, atau menceritakan BTS (behind the scene), namun pastikan postingan itu masih dalam batas-batas kesepakatan yang diketahui bersama. Sebaiknya ini dibicarakan sebelum berangkat.

Recording hanyalah salah satu tahap dalam pembuatan film. Masih ada proses editing, post-production, share, dll.

Tetaplah kreatif, namun jangan buang-buang waktu. Rencanakan dengan baik, dengan begitu, kamu bisa membedakan mana petualangan dan mana hal-hal yang normal. Satu-satunya batas yang perlu kamu tembus hanyalah “imajinasi” kamu sendiri.

Bagaimana, apakah setelah membaca tulisan di atas mau foto dan recording video yang lebih keren? Atau ada ide lain yang belum tertulis dalam daftar-periksa di atas? “Siap? Kamera.. 1.. 2.. Action!”. [dm]

——-
Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis, tinggal di Rembang dan Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.