in

Forum Anak Curhat Soal Maraknya Pernikahan Dini saat Musrenbang

Orang tua mereka menikahkan anak-anak itu karena kemiskinan.

Perwakilan Forum Anak mengeluhkan maraknya pernikahan dini. Keluhan tersebut diungkapkan saat Murenbang di Pendopo Kabupaten Blora, Senin (25/4/2022). (istimewa)

BLORA (jatengtoday.com) – Forum Anak mengeluhkan mengenai maraknya pernikahan dini. Hal tersebut mencuat saat Musrenbang di wilayah Wanarakuti (Juwana, Jepara, Kudus, Pati) dan Banglor (Rembang, Blora) di Pendopo Kabupaten Blora, Senin (25/4/2022).

Dalam kesempatan itu, seorang perwakilan forum anak bernama Yani, menyampaikan tentang maraknya pernikahan anak. Bahkan menurut siswa SMAN 1 Ngawen ini, sepanjang tahun 2022 ada 15 anak yang melakukan pernikahan dini di desanya.

“Di desa saya banyak teman-teman yang menikah dini. Di tahun ini, sudah ada 15 anak menikah dini. Rata-rata, usianya masih 12-15 tahun,” bebenrya.

Dikatakan, banyak diantara mereka menikah karena tuntutan ekonomi keluarga. Orang tua mereka menikahkan anak-anak itu karena kemiskinan.

“Kalau tidak dinikahkan, jadi beban keluarga. Makanya akhirnya mereka dinikahkan ke orang yang lebih tua, yang lebih mapan,” ucapnya.

Yani meminta Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk membantu menyelesaikan persoalan itu.

Segera Dicegah

Menurutnya, pernikahan anak harus dicegah untuk kebahagiaan dan masa depan anak-anak.

“Kami minta diberikan pelatihan, editing film, pelatihan menjahit, pelatihan lain agar kita punya skill dan bisa menopang ekonomi keluarga. Kami juga minta diberikan pendidikan tentang reproduksi atau seks education di sekolah agar lebih paham,” ucapnya.

Ganjar cukup terkejut dengan laporan Yani. Dia pun langsung meminta Dinas Perempuan dan Anak untuk turun dan memberikan pelatihan pada anak-anak di desa tersebut.

“Saya minta nomor telponmu ya, nanti biar dinas saya langsung turun. Kamu kumpulkan teman-teman kamu yang siap dilatih, nanti akan kami berikan pelatihan,” tegasnya

Di satu sisi, Ganjar bangga melihat anak-anak begitu aware pada persoalan yang mereka hadapi. Mereka berani berbicara dan mengkampanyekan soal itu.

“Anak-anak itu peduli pada temannya, khususnya soal pernikahan dini. Bahkan mereka dinikahkan karena alasan ekonomi orang tua. Bahkan yang menjadi keresahan kita, usianya ada yang 12 tahun lho,” ucapnya.

Gerakan Jo Kawin Bocah

Ganjar mengatakan, gerakan Jo Kawin Bocah memang menjadi program yang terus digenjot. Ia akan terus menggencarkan sosialisasi dan pendekatan termasuk masuk ke sekolah untuk mengajarkan tentang pendidikan reproduksi.

“Kita akan kerjasama dengan BKKBN, Dinkes dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk masuk ke sekolah dan desa-desa untuk melakukan sosialisasi dan edukasi. Termasuk tadi anak-anak minta difasilitasi pelatihan, tentu akan kami penuhi,” katanya.

Ganjar mengimbau kepada masyarakat khususnya orang tua untuk lebih peduli. Apa yang dilaporkan forum anak dalam Musrenbang tersebut menjadi warning bagi orang tua, agar kita lebih peduli pada anak-anak.

“Kita dituntut memberikan kepercayaan diri pada anak-anak. Berikan semangat pada mereka untuk mendapatkan cita-citanya. Gerakan Jo Kawin Bocah harus terus kita gaungkan agar bisa diterima dan dipahami oleh masyarakat banyak,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.