in

Meningkatkan Penjualan dengan Strategi “Emotional Selling Point”

Bagaimana memanfaatkan 30 emosi negatif dari konsumen untuk meningkatkan penjualan.

EKSPLOITASI EMOSI. Keputusan membeli, lebih sering berasal dari emosi konsumen. Mengenal emosi mereka, jalan awal dalam menaikkan penjualan. (Image: DALL-E)

Gunakan “emotional selling point“, strategi pemasaran yang memanfaatkan emosi untuk meningkatkan penjualan. Strategi ini berdasarkan pada pemahaman bahwa keputusan pembelian sering didorong oleh emosi, bukan hanya logika atau kebutuhan. Emotional selling point menargetkan perasaan seperti kebahagiaan, rasa takut, keamanan, atau status untuk menciptakan koneksi yang lebih kuat antara konsumen dan produk atau layanan. Ini efektif karena emosi memiliki dampak yang kuat dalam mempengaruhi perilaku manusia.

Penerapan strategi ini sering meningkatkan penjualan karena emosi dapat memotivasi konsumen untuk bertindak lebih cepat dan membuat mereka merasa lebih terhubung dengan merek atau produk tertentu. Ini menjadikan pesan pemasaran lebih berdampak dan meyakinkan, sering kali menyebabkan keputusan pembelian impulsif.

Konsumen sering tidak menyadari pengaruh taktik ini karena emosi cenderung mempengaruhi keputusan kita secara tidak sadar. Manusia secara alami merespons rangsangan emosional dan sering kali tidak menyadari bagaimana emosi tersebut mempengaruhi keputusan pembelian mereka.

Keberhasilan dari taktik emotional selling point juga karena kemudahannya untuk diterapkan dalam berbagai situasi dan industri. Hampir setiap produk atau layanan dapat diberi narasi emosional yang memperkuat pesannya, menjadikannya alat pemasaran yang sangat serbaguna dan efektif.

30 Taktik Emotional Selling Point

1. Rasa Takut (Fear)

Orang sering mencari cara untuk mengatasi rasa takut mereka, terutama ketakutan akan hal-hal yang tidak terduga atau situasi yang berpotensi mengancam. Pemasaran yang efektif dapat menyoroti bagaimana produk atau layanan dapat memberikan rasa aman dan perlindungan terhadap ketakutan-ketakutan ini.

Asuransi: “Ketidakpastian berasal dari masa depan. Lindungi pekerjaan dan keluargamu dengan asuransi kami.”

2. Rasa Kehilangan (Loss)

Ketika menghadapi kehilangan, baik itu kehilangan benda, orang terkasih, atau peluang, manusia sering mencari sesuatu yang dapat menggantikan atau memulihkan apa yang hilang.

E-commerce: “Rasakan lagi kebahagiaan membeli barang favoritmu. Temukan pengganti produk yang hilang dengan koleksi terbaru kami.”

3. Ketidakamanan (Insecurity)

Ketidakamanan sering mendorong individu untuk mencari cara meningkatkan kepercayaan diri mereka, baik itu melalui penampilan, status sosial, atau pencapaian pribadi.

Fashion: “Bangun kembali kepercayaan dirimu dengan gaya. Tampil menawan dengan koleksi fashion kami yang terbaru.”

4. Keserakahan (Greed)

Keserakahan, atau keinginan untuk memiliki lebih banyak, dapat menjadi motivator kuat. Orang sering tertarik pada produk atau layanan yang menjanjikan peningkatan kekayaan, status, atau kepemilikan.

Investasi: “Maksimalkan keuntunganmu dengan investasi cerdas. Tumbuhkan kekayaanmu dengan strategi investasi kami.”

5. FOMO (Fear of Missing Out)

Rasa takut ketinggalan, atau FOMO, mendorong orang untuk berpartisipasi karena mereka tidak ingin melewatkan sesuatu yang penting atau menguntungkan. Pemasaran yang menciptakan rasa urgensi atau eksklusivitas sering efektif.

Event: “Jangan lewatkan acara tahunan ini! Daftarkan dirimu sekarang dan jadilah bagian dari momen eksklusif.”

6. Ketidakpuasan (Discontent)

Rasa ketidakpuasan sering mendorong individu untuk mencari perubahan atau peningkatan dalam hidup mereka.

Gadget: “Upgrade gadgetmu dan rasakan perbedaannya. Dapatkan kepuasan dengan teknologi terbaru kami.”

7. Rasa Bersalah (Guilt)

Rasa bersalah bisa mendorong orang untuk mencari cara menebus kesalahan atau melakukan tindakan yang lebih bertanggung jawab. Produk atau layanan yang menawarkan ‘penebusan’ atau kebaikan sering menarik bagi mereka yang merasa bersalah.

Produk Ramah Lingkungan: “Berikan kembali pada bumi. Beralihlah ke produk ramah lingkungan kami dan kurangi jejak karbonmu.”

8. Ketidakpastian (Uncertainty)

Dalam menghadapi ketidakpastian, banyak orang mencari kepastian dan jaminan.

Layanan Keuangan: “Navigasi masa depanmu dengan kepastian. Percayakan keuanganmu pada layanan kami yang terpercaya.”

9. Rasa Frustasi (Frustration)

Rasa frustrasi sering mendorong pencarian solusi yang efektif dan cepat.

Layanan Pelanggan: “Hilangkan frustrasi dengan layanan pelanggan kami yang responsif. Kami ada di sini untuk membantu kamu setiap saat.”

10. Kelelahan (Exhaustion)

Kelelahan, baik fisik maupun mental, sering membuat orang mencari cara untuk relaksasi dan pemulihan.

Spa dan Wellness: “Lepaskan kelelahan dan stresmu. Manjakan diri dengan paket spa dan wellness kami.”

11. Rasa Malu (Shame)

Rasa malu bisa mendorong orang untuk mencari cara meningkatkan diri atau mengubah persepsi orang lain terhadap mereka.

Pelatihan Pribadi: “Ubah malu menjadi kekuatan. Tingkatkan keterampilan dan kemampuanmu dengan kursus kami.”

12. Rasa Sakit (Pain)

Rasa sakit, baik fisik maupun emosional, sering membuat orang mencari cara mengatasinya.

Obat dan Suplemen: “Atasi rasa sakitmu dan kembalilah beraktivitas. Coba obat dan suplemen kami untuk kenyamanan yang lebih baik.”

13. Kesalahan (Regret)

Rasa menyesal sering mendorong individu untuk membuat pilihan yang lebih bijaksana di masa depan.

Asuransi Perjalanan: “Jangan biarkan kesalahan mengganggu petualanganmu. Lindungi perjalananmu dengan asuransi kami.”

14. Rasa Dikhianati (Betrayal)

Merasa dikhianati bisa mendorong orang untuk mencari kejujuran dan keaslian.

Merek Pakaian: “Bahan 30s kualitas import, ada sedikit jahitna kurnag rapi, di bagian dalam.”

15. Rasa Penuh (Overwhelm)

Merasa kewalahan sering mendorong pencarian solusi untuk menyederhanakan atau mengatur kehidupan.

Aplikasi Produktivitas: “Atasi kelebihan bebanmu. Tingkatkan produktivitasmu dengan aplikasi kami yang mudah digunakan.”

16. Kesal (Anger)

Rasa marah sering mendorong tindakan dan perubahan.

Gadget: “Kesal dengan ponsel yang prosesnya lama? Ganti dengan ini.”

17. Rasa Putus Asa (Desperation)

Perasaan putus asa sering mendorong pencarian harapan atau solusi.

Layanan Konseling: “Jangan biarkan keputusasaan menguasai hidupmu. Temukan jalan keluar bersama layanan konseling kami.”

18. Ketakutan Akan Masa Depan (Fear of the Future)

Ketakutan akan masa depan sering mendorong individu untuk mencari persiapan dan kepastian. Produk atau layanan yang menawarkan persiapan untuk masa depan yang tak terduga dapat menarik.

Perencanaan Keuangan: “Jangan biarkan ketakutan akan masa depan menguasai kamu. Siapkan masa depanmu dengan perencanaan keuangan kami.”

19. Rasa Bingung (Confusion)

Rasa bingung sering mendorong pencarian kejelasan dan pemahaman. Produk atau layanan yang menawarkan panduan atau pengetahuan dapat sangat menarik.

Kursus Online: “Bersama para ahli, bersertifikat.”

20. Ketakutan akan Penolakan (Fear of Rejection)

Ketakutan akan penolakan sering mendorong individu untuk mencari penerimaan dan persetujuan. Produk atau layanan yang menawarkan peningkatan status atau keterampilan sosial bisa sangat menarik.

Aplikasi Kencan: “Anonim, lebih apa adanya. Temukan pasanganmu.”

21. Rasa Pesimis (Pessimism)

Rasa pesimis sering mendorong individu untuk mencari inspirasi atau harapan.

Marketplace: “Lebih banyak, selalu ada yang mencari.”

22. Ketidakpuasan Diri (Self-Doubt)

Ketidakpuasan diri sering mendorong individu untuk mencari cara meningkatkan diri mereka sendiri.

Marketplace: “Produk sama dari toko lain..”

23. Rasa Hampa (Emptiness)

Rasa hampa sering mendorong individu untuk mencari kepuasan atau pemenuhan.

Kegiatan Seni: “Isi kekosongan dalam hatimu. Ekspresikan dirimu melalui seni dan kegiatan kreatif kami.”

24. Ketidakmampuan (Incapability)

Merasa tidak mampu sering mendorong individu untuk membuktikan kemampuan mereka.

Kursus Online: “Tunjukkan kemampuanmu. Kuasai keterampilan baru dengan kursus online kami.”

25. Rasa Terasing (Alienation)

Merasa terasing sering mendorong individu untuk mencari koneksi dan pemahaman.

Media Sosial: “Terhubung dengan keluarga dna kawan lama.”

26. Ketidaksetujuan (Disapproval)

Rasa ketidaksetujuan sering mendorong individu untuk mencari validasi dan penerimaan.

Platform Media: “Dapatkan pengakuan atas karyamu. Bagikan kreativitasmu di platform media kami dan terima apresiasi yang kamu pantas dapatkan.”

27. Rasa Kecewa (Disappointment)

Rasa kecewa sering mendorong individu untuk mencari alternatif yang lebih baik atau solusi.

Layanan Streaming: “Kecewa dengan tontonan biasa? Nikmati hiburan berkualitas di layanan streaming kami.”

28. Ketakutan akan Perubahan (Fear of Change)

Ketakutan akan perubahan sering mendorong individu untuk mencari stabilitas atau adaptasi.

Konsultasi Bisnis: “Pasar dan masa depan, tidak pernah menentu. Konsultasi lami berasal dari masa depan.”

29. Rasa Takut akan Kegagalan (Fear of Failure)

Ketakutan akan kegagalan sering mendorong individu untuk mencari jaminan atau dukungan.

Finansial: “Kami menghitung dan menjamin risiko.”

30. Kebingungan (Confusion)

Rasa bingung sering mendorong individu untuk mencari kejelasan dan arah.

Konsultasi Karir: “Hilangkan kebingungan tentang karirmu. Dapatkan arah dan bimbingan dengan layanan konsultasi karir kami.”

Jika kamu menjadi penjual, langkah pertama adalah memahami target konsumen dan emosi apa yang paling mungkin mempengaruhi mereka. Penjual harus mengembangkan pesan yang menargetkan emosi tersebut, sambil tetap menjaga integritas dan keaslian merek. Penting juga untuk memantau dan menyesuaikan strategi ini berdasarkan umpan balik dan tren pasar untuk memastikan efektivitasnya.

Jika kamu menjadi konsumen, penting untuk mengenali emotional selling point dan memahami bagaimana emosi dapat mempengaruhi keputusan pembelian. Ini bisa dilakukan dengan mempertanyakan motivasi di balik keinginan untuk membeli – apakah ini karena kebutuhan nyata atau respons terhadap pemasaran yang berbasis emosi? Meningkatkan kesadaran akan taktik ini dan berbelanja secara lebih bijaksana dapat membantu menghindari keputusan pembelian impulsif yang didorong oleh emosi. Dengan demikian, konsumen dapat membuat pilihan yang lebih rasional dan sesuai dengan kebutuhan serta nilai pribadi mereka. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.