in

Ekspresi Viral di Tiktok sebagai Perlawanan Narasi Dominan

Mengapa ekspresi dan gerakan biasa, umpatan, video faceless, bisa viral di Tiktok?

Ekspresi, gerakan biasa, joke receh, umpatan, luapan perasaan, video faceless, semua berpeluang viral di Tiktok. Saya akan jelaskan, mengapa itu bisa terjadi.

Joke Chuck Norris

“Chuck Norris pernah pergi ke Planet Mars. Itu sebabnya tidak ada kehidupan di sana.”

“Chuck Norris bisa menghitung sampai tak terhingga, dua kali.”

Sampai sekarang, joke Chuck Norris masih ngehit di Tiktok, apalagi sekarang ada teknologi suara Adam dari Eleven Labs yang membuatnya lebih menarik. Videonya, hanya sticker wajah Chuck Norris sedang in-action, ada juga video latar yang tidak ada hubungannya dengan Chuck Norris, tanpa mengurangi kelucuan joke itu.

Saya sempat mencari, adakah semacam formula untuk menciptakan kalimat seperti itu. Pertama, ciptakan kemustahilan, hal yang “impossible“, dan hiperbolis. Misalnya: “.. menghitung sampai tak-terhingga”. Baru kemudian pilih sosok yang tangguh, populer, dan punya citraan yang sudah tetap di pikiran orang. Dalam contoh ini, Chuck Norris. Di film, Chuck Norris jago berkelahi, bermain sebagai pasukan Delta Force, dan sering dipakai sebagai deskripsi ketangguhan produk. “Sekuat Chuck Norris”. Kedua, beri elemen kejutan, dengan ending tidak terduga, agar kemampuan tokoh ini semakin unik. Dalam joke “Chuck Norris bisa menghitung sampai tak-terhingga,..” elemen kejutan itu, “.. dua kali”. Pastikan ini sederhana dan langsung, agar mudah diceritakan kembali. Jadi intinya memang pada pembentukan kalimat yang hiperbolis dan tidak mungkin. Dengan cara seperti ini, kamu bisa membuat kalimat lain, sebanyak-banyaknya. Begitulah cara membuat “joke Chuck Norris”.

Membaca Kembali Joke Chuck Norris di Tiktok

Kalau kita lihat dari perspektif konstruktivisme sosial, lelucon ini merupakan cara bagi pengguna TikTok untuk berinteraksi, berbagi pengalaman bersama, dan menciptakan identitas kelompok.

Ini merupakan perlawanan terhadap narasi dominan atau otoritas tradisional, di mana Chuck Norris menjadi simbol hiperbolik yang menantang konsep realitas dan normalitas. Joke itu menjadi alat untuk menjelajahi subyektivitas dan relativitas kebenaran.

Posmodernisme, mengenal “kebenaran” sebagai “konstruksi bahasa”. Realitas terungkap dalam bahasa. Narasi dominan, yang selama ini dikenal orang, contohnya tentang ketidakmungkinan menghitung sampai tak-terhingga, ingin dipatahkan begitu saja dengan Chuck Norris, sosok dengan kemampuaan rekaan, yang bisa menghitung sampai tak-terhingga sebanyak dua kali. Ini hanya pragmatisme, di mana joke berfungsi sebagai interaksi sosial, untuk menghibur dan memperkuat ikatan sosial di antara pengguna Tiktok.

Ketika kita membiarkan lelucon ini sebagai lelucon, dengan pendekatan fenomenologis, yang membiarkan obyek menyatakan dirinya, ternyata tidak ada masalah.

Melalui analisis hermeneutik, kita berfokus pada interpretasi dan pemaknaan yang melibatkan konteks budaya, sejarah, dan pribadi para pengguna Tiktok. Ketika kita melihat “konteks” Tiktok, yang riang dan kerap membagikan “keanehan”, kita menafsirkan lelucon ini sebagai produk yang digaungkan di Tiktok. Semua orang senang.

Apa yang kita sebut sebagai narasi dominan, membutuhkan dekonstruksi dan parodi, yang menantang standar-ganda tradisional tentang kekuatan dan maskulinitas.

Ini adalah dekonstruksi terhadap narasi heroik tradisional. Chuck Norris yang garang dan tak-terkalahkan, yang membalas-dendam, yang pintar menendang dan menjatuhkan musuh-musuhnya (di film), direduksi menjadi sumber humor yang menggelikan. Realitas, dalam budaya pop, merupakan konstruksi sosial dan sangat tergantung pada perspektif individu (para pengguna Tiktok),

Realitas, juga merupakan fragmentasi dan kolase dari berbagai elemen budaya. Joke Chuck Norris, seperti tersebut di awal, menggabungkan referensi budaya pop, ilmu pengetahuan, dan imajinasi, untuk menghasilkan realitas baru yang unik dan absurd. Humor dan satire berfungsi sebagai alat kritis yang efektif untuk mengeksplorasi dan menantang asumsi-asumsi yang ada. Joke Chuck Norris sebenarnya sedang mempertanyakan struktur kekuasaan yang ada. Apa yang selama ini kita anggap sesuatu yang tetap, yang “sebenarnya memang begitu”, perlu kita permasalahkan kembali.

Berita baiknya, yang mendapatkan ruang seperti ini, bukan hanya joke Chuck Norris.

Bentuk Perlawanan Narasi Dominan di Tiktok

Tiktok tempat kita melihat bagaimana narasi dominan mendapatkan tantangan.

Bentuknya bermacam-macam.

  1. Ada video edukasi yang mengangkat isu-isu sosial. Video seperti cara kerja uang, yang menyingkap rahasia perbankan modern dan kapitalisme, atau yang menjelaskan ekonomi Amerika yang rapuh, dll.
  2. Tiktok menjadi platform untuk menaikkan inklusivitas dan kesetaraan, baik dalam hal gender, ras, seksualitas, atau disabilitas. Menantang stereotip dan prasangka yang ada di masyarakat. Saya pernah melihat video pemain violin yang hebat di suatu konser di dalam gedung. Setelah itu, masih di video sama, ada seorang anak kecil dari Asia, sedang memainkan musik yang sama, dengan kesulitan teknis yang lebih memukau. Terungkap, adegan di luar permainan anak kecil ini, ketika ibunya sedang marah tentang hal sepele, seperti sikap sopan, peringatan apakah sudah membawa bekal, hal-hal semacam itu. Komentar di bawah video itu, “Apapun yang kamu lakukan dan menurutmu sudah hebat dan diakui dunia, selalu akan ada anak Asia yang melakukan lebih baik, karena ibunya galak.”
  3. Akun pribadi, yang menyampaikan storytelling, tentang identitas, perjuangan pribadi, atau pencapaian yang luar biasa.
  4. Parodi dan satire seperti joke Chuck Norris tadi, dengan tujuan mengkritik atau mengejek status quo, budaya pop, dan isu-isu sosial terkini. Cara ini biasanya cerdas dan bertujuan menghibur.
  5. Konten budaya subversif, atau menentang norma mainstream.
  6. Meme dan tren yang menyoroti ketidakadilan sosial, pembuktian terbalik, leak kepalsuan, atau masalah lain.

Genealogi Perlawanan Narasi Dominan

Apa saja yang membentuk perlawanan narasi dominan di Tiktok?

Sejarah dan konteks sosial. Konten memang dirancang sebagai respons terhadap perubahan. Kalau kamu mau bilang setuju, kalau kamu menyatakan keputusan, atau ingin dunia tahu, buatlah video di Tiktok. Tentu saja, ini didukung dengan teknologi yang bagus. Server Tiktok bagus. UI/UX Tiktok bagus. Algoritma dan distribusi konten Tiktok bagus. Pengguna banyak mengekspresikan kebebasan dan perlawanan terhadap struktur dan hierarki sosial. Pengguna boleh mengumpat, menyebut tokoh, dan menyatakan perlawanan. Budaya lama, ideologi yang tidak mengubah keadaan, norma, bahasa, cara hidup yang lama, semua itu mendapatkan perlawanan. Tiktok memiliki banyak pengguna, yang terkondisikan, untuk selalu scroll umpan, membuat video, editing dengan cepat, tanpa henti. Peristiwa aktual di berita tetangga sebelah, sudah mendapatkan reaksi di Tiktok. Ekspresi ini tidak terlepas dari ekspresi identitas, membangun rasa komunitas dengan orang lain yang berbagi pandangan, sama atau berbeda.

Mengapa Video Ekspresi dan Gerakan Biasa Menjadi Viral di Tiktok?

Bukan karena banyak pemakai, bukan karena FYP. Pada awalnya, setiap video tidak FYP.

Saya pernah menunggu kawan saya scroll video dari akun seorang perempuan yang rajin bikin video “biasa”. Follower akun ini meminta tantang terpenuhi. “Kak, tolong jilat pisang yang dikasih maiyones.” Pemilik akun menuruti tantangan seperti ini. Dapat Like 1.2M lebih. Selama sejam lebih, kawan saya betah melihat ekspresi orang makan. Ekspresi menahan rasa asam, menjulurkan lidah, tertawa, dll.

Berita baiknya, video seperti ini, sangat viral di Tiktok.

Apa yang membuat video ekspresi dan gerakan biasa, menjadi viral di Tiktok?

Penentu utama content yang viral di Tiktok adalah “emosional dan keaslian”.

Video yang otentik, tidak dibuat-buat, asli, dibuat berdasarkan keterlibatan emosional. Pengguna merasa terhubung. Terutama, Gen Z yang memang sangat menyukai komunikasi otentik. Apalagi kalau video itu sesuai dengan tren dan budaya pop. Ada istilah baru, seloroh, kalimat, ekspresi, yang baru, setiap hari di Tiktok. Situasi (di video) yang dapat dihubungkan dengan “saya” (pengguna) setiap hari, sangat disukai, misalnya: adegan makan, ekspresi mengejek, atau ngomel. Ini mudah dipahami orang daripada ceramah. Ada elemen kejutan dan humor. Dalam cerita saya di atas, adegan susu saset tumpah atau minuman ternyata memiliki rasa aneh dan dimuntahkan, menjadi pemandangan yang mengejutkan. Bagi yang pernah, akan menunggu seperti apa jadinya, di akhir video. Jika bagus, putar ulang. Bagikan.

Ekspresi dan Gerakan di Tiktok

Perspektif biopolitik memandang tubuh manusia sebagai obyek kekuasaan dan pengaturan oleh negara dan institusi sosial. Tubuh individu dikendalikan melalui kekuasaan.

Tubuh manusia menjadi pusat perhatian dan objek dominasi dalam bentuk pengaruh viralitas. Video-video ini menunjukkan bagaimana tubuh manusia dapat dibentuk, dinilai, dan dimanipulasi oleh kekuasaan sosial melalui interaksi dengan platform media sosial seperti TikTok.

Kekuasaan, menurut Michel Foucault, tersebar di seluruh struktur sosial dan beroperasi melalui relasi kekuasaan.

Di manakah kekuasaan ini beroperasi di video Tiktok?

Kita melihat orang-orang protes, mengumpat, atau sedang berteriak setelah dapat uang, pesta ulang tahun yang “subversif”, atau tantangan mengajak berdebat. Ada juga orang sedang bermain musik di subway, mencegat orang lewat untuk pertanyaan dan gift. Algoritma Tiktok menentukan siapa yang FYP di Beranda, memiliki pengaruh sosial untuk diikuti. Seperti video berpola monolog, yang dimainkan satu orang, double-casting menjadi 2 karakter, misalnya dalam jenis video lucu atau tutorial berbahasa asing. Bentuk video seperti ini menjadi ditiru di mana-mana. Pertanyaan tentang bendera atau ibukota negara. Inilah yang menjadi viral.

Seperti itulah kekuasaan menyebar. Tidak memusat.

Cara tubuh bercerita dan visible (tampak) di media sosial, terbentuk dari kekuasaan seperti ini. Lihatlah tutorial FYP. Mereka memberikan panduan yang disesuaikan dengan tren. Sedangkan tren dikuasai (dan selalu berubah) berdasarkan “aturan rahasia” bernama algoritma.

“Perlawanan” (resistensi) adalah upaya tubuh individual untuk melawan kekuasaan dan norma tradisional yang ada.

Mereka menang karena dianggap unik. Mereka menjadi tren berikutnya karena keunikan mereka terdeteksi oleh algoritma sebagai video yang “berbeda”. Mereka berbeda karena melawan narasi dominan.

Menampilkan wajah bangun tidur tanpa make-up adalah perlawanan terhadap narasi dominan bernama kecantikan salon.

Video Faceless dan Tubuh yang Hilang

Menampilkan deepfake, berupa wajah tetangga sebelah, yang pintar menjelaskan konflik politik internasional, yang sebenarnya memakai teknologi AI, pada awalnya menjadi tren ketika video berbasis AI menggantikan tubuh individual dan mengganti teks menjadi suara Adam dari Eleven Labs.

Tubuh individual hilang. Tidak ada tubuh yang hadir, hanya video generasi (hasil pemrosesan) AI, teks yang staged dan disuarakan AI Eleven Labs.

Tubuh individual menjadi kesadaran. Menjadi faceless, nggak kelihatan siapa pembuatnya. Taktik ini juga banyak dipakai di akun yang menyebar joke Chuck Norris. Norma sosial yang mengikat tubuh (bayangkan norma di balik buku “Teknik Berpidato” atau “Panduan Menjadi Presenter”) sudah hilang. Tidak ada larangan tanpa tubuh dan tanpa suara, namun “theater of mind” serta dukungan visual, tetap dominan.

Tubuh Mendahului Ideologi dan Agama

Tubuh menjadi sumber pengetahuan yang penting, media produksi pengetahuan yang baru.

Semua orang memakai tubuh untuk.. Menyampaikan pesan. Mengungkapkan identitas. Mengajarkan skill tertentu. Bergerak. Ekspresi. Kecerdasan kinestetik.

Tubuh mendahului ideologi dan agama. Ide tentang “keselamatan” dan “kebahagiaan”, sepenuhnya untuk tubuh manusia. Ketika kita berbicara tentang nilai-nilai universal bernama kemanusiaan, kemakmuran, perdamaian, itu semua tentang tubuh. Rekayasa genetika, melawan bencana, peribadatan, semua itu demi tubuh manusia.

Siapa yang memiliki kekuasaan untuk menentukan tren atau mempengaruhi popularitas video ini? Apakah ada norma atau standar kecantikan yang diikuti atau ditentukan oleh video ini? Apakah ada elemen-elemen kekuasaan yang terlihat dalam cara tubuh dihadirkan atau dinilai dalam video?

Cara Foucault Mengurai Gerakan Tubuh di Tiktok

Mari kita gunakan perspektif Foucault untuk melihat ekspresi dan gerakan di video Tiktok.

Pertama, kita lihat tren gerakan tubuh di Tiktok. Mengapa ini dianggap menarik? Seperti apa kekuasaan (menurut Foucault) beroperasi di video ini? Kedua, temukan representasi identitas. Perlawanan apa yang sedang berlangsung? Selain itu, adakah ekspresi atau pernyataan politik verbal?

Mengapa Faktor Emosional dan Otentik Paling Menentukan

Penonton merasa terhubung kalau konten itu “emosional”. Kena tilang dan membantah polisi, itu emosional. Melihat orang dapat hadiah 50 dollar dengan mudah, itu emosional. Termasuk rasa senang, terkejut, penasaran, humor, semua itu emosional. Jika ada resonansi pribadi, emosi lebih terbangun. “Saya pernah seperti ini.” atau “Saya memang mencari video seperti ini..”. Penonton ingin melihat refleksi pengalaman mereka sendiri. Ingin lebih terlibat. Ekspresi dan identifikasi yang sederhana, lebih disukai. Misalnya, kejar-kejaran, kemudian yang satu tercebur di parit. Semua orang bisa menceritakan-kembali adegan ini.

Kreator yang hebat, di Tiktok, menomorsatukan otentisitas. Tulus, tidak dibuat-buat, tidak editing habis-habisan, spontan, tanpa buka-tutup, tanpa sutradara, dan nyata. Penonton bisa membedakan, mana yang realitas dan mana yang produksi. Jujur dalam menyampaikan pendapat, emosi, dan reaksi, juga merupakan aspek “keaslian”. Apa adanya. Bilang “Bangsat!” ya bilang “Bangsat!” saja. Tidak perlu sensor. Konten yang muncul secara organik, sangat disukai. Tidak dibuat karena kejar-tayang, tidak untuk menambah jumlah. Jika penonton percaya dan video kamu dianggap emosional dan otentik, maka viralitas terjadi.

Mengurai Umpatan di Tiktok

Umpatan juga menarik minat pengguna Tiktok.

Aturan tentang umpatan, tidak universal. Masyarakat di sini melarang umpatan, di sana umpatan merupakan hal biasa. Umpatan menjanjikan sensasi dan provokasi, di mana umpat bisa menarik perhatian karena menantang norma. “Eh, kok berani mengumpat kepada Tokoh A?”. Orang penasaran, terprovokasi, agar melihat sampai selesai. Umpatan, yang merupakan ekspresi kontra-konformitas (atau tanpa-kompromi), terasa sebagai pemberontakan terhadap norma sosial. Setiap norma sosial itu bentukan, sifatnya tidak universal.

Emosi “negatif”, seperti kemarahan, tipuan halus, kekecewaan, lebih memancing rasa ingin tahu dan membuat orang terlibat. Ini bisa memberikan bentuk validasi atau representasi dari perasaan mereka sendiri. Umpatan juga melepaskan stres dan ketegangan. Orang-orang yang suka mengumpat, sering mengaku lega setelah mengumpat. Seperti ketika kita kecewa, geram, melihat adegan di video yang tidak sesuai ekspektasi.

Umpatan merupakan ekspresi kecil dari kebebasan berbicara. Berani menyampaikan ketidaksetujuan, kekecewaan, melalui umpatan, itu kepuasan tersendiri. Pada subkultur tertentu, umpatan dianggap wajar, sehingga mereka yang memiliki identitas subkultur yang sama, semakin merasa terhubung.

Di dunia kita, di luar Tiktok, kita sering tidak mungkin menyampaikan emosi negatif. Bukan karena dilarang, tetapi karena percuma mengekspresikan emosi negatif kalau itu hanya umpatan.

Ferdinand de Saussure mengatakan, bahasa merupakan sistem tanda yang terdiri dari hubungan antara tanda kata dan makna. Saussure membagi tanda menjadi dua komponen utama: signifier (penanda, bentuk fisik) dan signified (petanda, konsep mental yang dikaitkan dengan signifier). Penanda berupa kata “Asu!’ menyampaikan petanda yang berhubungan dengan ekspresi emosi, perlawanan, atau pengaruh sosial.

Menurut Saussure, yang perlu kita pahami adalah penggunaan penanda (“umpatan”) dalam konteks budaya, konvensi sosial, dan hubungan dengan unsur-unsur bahasa lainnya. Bukan apa artinya, melainkan bagaimana umpatan ini mencerminkan nilai-nilai, norma sosial, dan konvensi budaya yang ada, serta bagaimana umpatan dapat membentuk identitas dan ekspresi bahasa pengguna.

Dilthey akan membela umpatan, tepatnya menyarankan kita untuk memahami penggunaan umpatan sebagai bagian dari ekspresi emosional individu serta perlu interpretasi konteks pengalaman dan sejarah sosial.

Seandainya ada tren umpatan di Tiktok, kemudian terjadi dialog antara tradisionalis (anggap saja, guru SMA kita) dengan para filosof, akan seperti ini:

Tradisionalis berkata, “Saya mengerti artinya. Mereka yang mengumpat di Tiktok itu harus kita beri peringatan. Sanksi tegas, kalau perlu.”

Saussure, jika kita beri kesempatan, berpendapat lain. Umpatan memang bisa dianggap ekspresi kasar, sekaligus bagian dari sistem bahasa yang kompleks. Makna suatu umpatan tidaklah selalu tetap, bergantung pada konteks dan pemahaman kolektif. Kita fokus dulu, pada posisi umpatan sebagai sistem simbolik untuk menyampaikan makna. Jadi kita perlu tahu, mereka sebenarnya mau menyampaikan aap di balik umpatan “Asu!” tersebut. Kita identifikasi tanda umpatan. Apa arti “Asu!”, apa makna “Asu!”. Makna ini tidak “inheren”. Kata “Asu!” maknanya belum tentu anjing. Kemudian, yang terakhir, kita pertimbangkan komvensi sosial dan historis yang mempengaruhi makna “Asu!”.

Menurut Dilthey, cara kita memahami umpatan, itu yang lebih penting. Umpatan di TikTok itu ekspres individual, mencerminkan kehidupan dan pengalaman sosial mereka. Kita perlu memahaminya dalam konteks ekspresi individual.

Bagi Michel Foucault, prakitk umpatan itu bentuk kekuasaan yang menyebar, sekaligus di sisi lain menjadi sumber perlawanan terhadap narasi dominan. Kita perlu melihat, di balik umpatan ini, ada budaya dan kekuasaan apa.

Bourdieu bisa saja mengajak kita memahami dulu konteks sosial ekonomi di mana umpatan ini muncul. Ini melibatkan pemahaman tentang struktur sosial yang mempengaruhi penggunaan dan penilaian umpatan. Berikutnya, kita lakukan analisis kekuasaan. Siapa yang memiliki kekuasaan untuk menentukan apa yang dianggap umpatan dan bagaimana ini dapat digunakan untuk mempertahankan struktur sosial yang ada? Apakah terjadi reproduksi sosial yang mempertahankan ketidaksetaraan dan hierarki dalam masyarakat? Umpatan merupakan modal simbolis, bisa menguntungkan atau merugikan.

Bicara tentang umpatan di Tiktok memang tidak semudah memuat mi instan. Apalagi kalau para filosof itu berkumpul.

Representasi Emosi Melalui Proksi

Ketika melihat seseorang bersalah, dibiarkan berjalan sambil tersenyum, kita punya keinginan agar ada orang yang membalas. Setidaknya, itu harapan kita ketika menonton film, atau ketika melihat seorang koruptor dengan tenangnya merasa korupsi itu normal dan termaafkan. Atau ketika kita menonton bola. Perasaan terwakili, ketika melihat petinju jagoan kita sedang melawan musuh. Kita merasa perasaan kita terwakili karena sebenarnya sebagai penonton kitalah yang ingin meng-KO petinju lawan. “Saya protagonis selalu, sedangkan orang itu, lawan saya, antagonis yang harus kalah.”

Kita mengalami “identitas emosional”, ketika tim kesayangan berlaga melawan tim jahat. Ini disebut “vicarious experience” atau pengalaman melalui proksi.

Menonton pertandingan olahraga, memungkinkan penonton merasa mengalami perjuangan (setidaknya, ikut menahan nafas atau berdoa), menang, kalah, secara tidak langsung. Partisipasi mereka terwakilkan. Rasa memiliki, rasa bangga, dapat meningkatkan rasa harga diri dan kepuasaan pribadi. Sebaliknya, kalau kalah, semuanya menjadi pahit. Solidaritas komunal, pelepasan emosi, prinsip keterwakilan, identitas, semua meluap.

Ekspresi, Gerakan, dan Kecerdasan Kinestetik

Tiktok memberikan tempat luas untuk kecerdasan kinestetik.

Parkour. Menari. Bela diri. Keseimbangan. Menaiki tebing. Memanah. Sulap. Yoga. Dan seribu satu aktivitas fisik lain, memerlukan kecerdasan kinestetik. Gerakan tubuh, mimik wajah, ekspresi fisik, lompatan, lambaian tangan, merupakan elemen penting dalam membuat konten di Tiktok.

Ekspresi pribadi, seperti di video “Melihat Kakak Makan Eskrim”, kecepatan berenang, semua itu lebih kuat daripada kata-kata. Adegan dansa salsa yang “waow”. Akrobat. Tarian dan tantangan fisik. Hanya bisa dilakukan mereka yang terlatih dan punya kecerdasan kinestetik. Konten musikan semakin berarti kalau dikombinasikan dengan kecerdasan kinestetik.

Sejak kecil, sebelum bayi mengenal wajah orang lain, orang-orang dewasa di sekitarnya sudah dengan percaya diri melatih ekspresi wajah, meraih jari bayi itu, menyentuh pipinya, merangkul, dan mengajaknya tertawa. Sejak bayi kita diajak menyadari tubuh.

Bakat yang banyak dicari dan dikembangkan orang, lebih banyak tentang ekspresi dan gerakan. Menggambar, bermusik, olah raga, menari, bela diri, menjadi sales person, aktor, semuanya menuntut ekspresi dan gerakan. Sebagian dirancang, disesuaikan, diseragamkan, bahkan ditata, sampai tubuh kehilangan otentisitas, menjadi rata dan disamakan dengan ekspresi dan gerakan orang lain. Dan sebagian orang memilih komunikasi otentik, di luar sistem “penormalan”, dengan ekspresi dan gerakan yang menunjukkan, “Inilah saya..”.

Seorang penari yang menampilkan ekspresi dan gerakan di luar tarian, seorang calon presiden yang memperagakan joget yang mirip pencak silat, seseorang bertubuh kekar yang dikejar ayam, semua yang tidak terlarang karena berasal dari komunikasi yang otentik. Tanpa produksi, tanpa sutradara, tanpa script. Ekspresi seperti inilah yang menjadi bahasa semua orang. Dari bayi sampai orang dewasa.

Tiktok bukanlah “crime scene“, tempat kejadian perkara, di mana seseorang dituntut karena ekspresi mereka sendiri.

Anak kecil yang dulu kita ajak tersenyum ketika masih bayi, yang kita ajari berjalan, sekarang mungkin sedang menari di hadapan ponsel mereka, bersama pengguna Tiktok lain, untuk mengekspresikan dirinya. Kita tidak perlu melarang mereka. [dm]

Day Milovich,,
Webmaster, artworker, penulis tinggal di Rembang dan Kota Lama Semarang.

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.