SEMARANG (jatengtoday.com) – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang menjalin kerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas PGRI Semarang (Upgris) untuk memperkuat program pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
Kerja sama ini difokuskan pada pengembangan sinergitas program layanan masyarakat, khususnya dalam bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak, dengan penyediaan layanan konsultasi dan konseling yang komprehensif, mudah diakses, berkualitas, dan ditangani oleh tenaga profesional psikolog.
“Permasalahan yang dihadapi perempuan dan anak semakin kompleks, mulai dari kekerasan, pengasuhan kurang optimal, gangguan kesehatan mental, hingga tekanan sosial yang berdampak pada kesejahteraan psikologis,” ujar Kepala DP3A Kota Semarang, Eko Krisnarto. “Data menunjukkan peningkatan gangguan kesehatan mental pada remaja. Dari sekitar 6.000 anak SMP yang mengisi kuesioner, sekitar 700 di antaranya terindikasi mengalami gangguan tersebut, mulai dari ringan hingga berat yang memerlukan terapi dan pengobatan,” tambahnya.
Eko juga menyoroti fenomena fatherless yang menduduki peringkat tinggi di Indonesia, yang berdampak serius terhadap perkembangan generasi muda. Ia berharap melalui kerja sama ini dapat memperkuat layanan yang sudah ada, seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) dan UPTD PPA, serta menghadirkan pendampingan psikologis, pemulihan trauma, penguatan kapasitas keluarga, dan pencegahan kekerasan.
Sementara itu, Ketua LPPM Upgris, Prof. Dr. Wiyaka, M.Pd., menyatakan komitmen Upgris untuk mendukung program DP3A melalui sumber daya tenaga profesional psikolog dan potensi penelitian lanjutan. “Kami siap terlibat langsung, baik secara mikro maupun makro, termasuk melalui pusat studi kami untuk mendukung pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak,” ujar Prof. Wiyaka.
Kerja sama ini merupakan kelanjutan dari kemitraan sebelumnya antara Upgris dan DP3A, dan diharapkan dapat memberikan manfaat yang luas dan berkelanjutan bagi masyarakat Kota Semarang. “Kami berharap melalui komitmen nyata ini, Kota Semarang dapat menjadi kota yang lebih inklusif, sehat secara mental, dan berkeadilan bagi perempuan serta anak,” tandas Prof. Wiyaka. (*)
