in

Dituntut Hukuman Seumur Hidup, Husen Pembunuh Bos Galon Pasrah

Muhammad Husen dinilai terbukti bersalah membunuh, memutilasi, dan mencuri barang milik bosnya sendiri.

Muhammad Husen (kanan) terdakwa pembunuhan dan mutilasi bos galon mengikuti sidang secara daring dari Lapas Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)
Muhammad Husen (kanan) terdakwa pembunuhan dan mutilasi bos galon mengikuti sidang secara daring dari Lapas Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Muhammad Husen tampak sedih saat mendengar ia dituntut hukuman penjara seumur hidup. Husen tertunduk dan matanya terlihat berkaca-kaca.

Husen terdakwa pembunuhan dan mutilasi bos depot galon Semarang tersebut mengikuti sidang secara daring dari Lapas Semarang, Selasa (5/12/2023).

Sementara jaksa Kejari Kota Semarang membacakan tuntutan secara langsung di hadapan majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Semarang.

Jaksa penuntut umum Ardhika Wisnu menilai terdakwa Husen terbukti bersalah sebagaimana dakwaan subsider Pasal 339 KUHP.

Dalam kesempatan itu, terdakwa Husen sempat menanggapi tuntutan dengan mengutarakan singkat penyesalannya. “(Saya) menyesal,” ujarnya.

Penasihat hukum terdakwa, Guntur Krisna Hadi Saputra mengatakan, atas tuntutan jaksa, terdakwa merasa sedih dan kecewa. Namun, sesuai fakta persidangan, terdakwa memang mengaku bersalah.

Pengacara dari LBH Ratu Adil itu mengatakan, akan menyusun pembelaan yang disampaikan pada persidangan mendatang. Saat ini pihaknya sedang memahami tuntutan jaksa.

“Faktanya memang seperti itu (terdakwa bersalah). Nanti ada hak-hak tertentu terdakwa yang kami bela,” ujar Guntur.

Sebagai informasi, kasus pembunuhan disertai mutilasi ini sempat membuat geger warga Kota Semarang.

Awalnya, ditemukan jasad dengan kondisi mengenaskan: tubuh dimutilasi dan dicor semen di depot air minum di Jalan Mulawarman, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang.

Saat ditemukan pada Senin (8/5/2023), mayat laki-laki yang kelak diketahui pemilik depot galon bernama Irwan Hutagulung itu sudah mulai membusuk. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar