SEMARANG (jatengtoday.com) – Program screening dan diskusi bertajuk “Feminine, Masculine” digelar di Gedung Oudetrap, Kamis (2/4/2026), menghadirkan ruang dialog terbuka mengenai konstruksi gender di tengah masyarakat.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Hysteria, Laki-Laki Masak, dan Alliance Française Semarang yang menggabungkan pemutaran film dengan diskusi interaktif.
Diskusi pasca-pemutaran dipandu Ina dari Hysteria sebagai moderator, dengan menghadirkan Anita Dewi sebagai narasumber. Pembahasan berfokus pada isu maskulinitas, femininitas, serta dinamika ekspresi gender yang terus berkembang di masyarakat.
Dalam pembukaannya, moderator mengangkat pertanyaan mengenai apakah ekspresi feminin dan maskulin harus selalu mengikuti standar sosial yang telah terbentuk. Pertanyaan ini menjadi titik awal diskusi tentang gender sebagai konstruksi sosial yang tidak bersifat tetap.
Menanggapi hal tersebut, Anita Dewi menilai pemahaman mengenai maskulinitas dan femininitas selama ini banyak dibentuk oleh norma sosial yang diwariskan secara turun-temurun, sehingga kerap membatasi individu dalam mengekspresikan identitasnya.
“Sejak kecil kita dikenalkan dengan pola tertentu—laki-laki harus kuat, perempuan harus lembut. Padahal itu bukan sesuatu yang mutlak, melainkan hasil konstruksi sosial,” ujarnya.
Diskusi kemudian berkembang pada relevansi norma tersebut di tengah perubahan sosial saat ini. Menurut Anita, latar belakang keluarga dan lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk cara pandang seseorang terhadap peran gender.
“Cara kita dibesarkan sangat berpengaruh. Lingkungan sosial dan privilese keluarga turut membentuk bagaimana kita memahami maskulinitas dan femininitas,” jelasnya.
Selain itu, pembahasan juga menyoroti dampak sistem patriarki yang tidak hanya dirasakan perempuan, tetapi juga laki-laki. Tekanan untuk memenuhi standar maskulinitas tertentu dinilai dapat menjadi beban tersendiri.
“Terkadang laki-laki juga mengalami tekanan untuk selalu terlihat kuat. Dalam konteks ini, mereka juga bisa menjadi korban dari sistem yang sama,” tambah Anita.
Isu simbolisasi gender, seperti penggunaan warna atau atribut tertentu, turut menjadi sorotan. Hal tersebut dinilai menyederhanakan kompleksitas identitas individu yang sebenarnya lebih beragam.
Diskusi juga mengangkat relasi kuasa dalam konstruksi gender, termasuk pandangan yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Hal ini menunjukkan bahwa norma gender tidak hanya memengaruhi ekspresi individu, tetapi juga struktur sosial yang lebih luas.
Partisipasi peserta turut memperkaya diskusi. Salah satu peserta laki-laki mengungkapkan adanya tekanan sosial untuk selalu menampilkan citra maskulin dalam kehidupan sehari-hari.
“Kadang ada tuntutan untuk terlihat kuat dan tidak menunjukkan sisi lain diri kita, padahal itu tidak selalu mencerminkan kondisi sebenarnya,” ujarnya.
Interaksi antara narasumber dan peserta menunjukkan bahwa isu gender merupakan persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dirasakan berbagai kalangan.
Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap dapat membuka ruang refleksi serta memperluas pemahaman masyarakat mengenai konstruksi gender. Program “Feminine, Masculine” tidak hanya menghadirkan film sebagai medium ekspresi, tetapi juga mendorong dialog konstruktif di ruang publik.
Kolaborasi lintas komunitas ini diharapkan terus berlanjut melalui program serupa yang menggabungkan seni dan isu sosial, guna memperkaya wacana publik serta menjangkau audiens yang lebih luas. (*)
