in

Dilema Media Online: Produk atau Layanan?

Di zaman “ekonomi pelanggan”, media online berada di batas semakin kabur: antara sebagai produk dan layanan.

Dilema SaaS (software as a service). Banyak perusahaan pilih beralih ke SaaS. Mereka ini software yang menjadi layanan.

Intinya, mereka jual layanan dalam bentuk software, memakai internet.

SaaS punya karakteristik begini:

  • Arsitektur Multitenant. Pengguna dan aplikasi berbagi dalam 1 infrastruktur umum dan basis kode secara terpusat. Mereka buang kode lama, hanya menyediakan versi terbaru. Biaya pemeliharaan lebih rendah.
  • Kustomisasi Mudah. Pengguna menyesuaikan aplikasi agar sesuai kebutuhan atau bisnis mereka. Pelayanan bagus, hasilnya pelanggan lebih betah dan biaya adopsi lebih rendah.
  • Peringkat Akses. Karena tidak semua layanan itu sama. Ada layanan untuk pemula, menengah, dan premium. Bisa dipastikan, SaaS itu berbayar. Kamu boleh coba versi trial kemudian setelah sekian hari akan non-aktif kecuali kamu bayar. Atau kamu bisa pilih paket yang sesuai. Pemakai punya kelas berbeda-beda.
  • Update Lebih Sering dan Seketika. Hanya perlu warning singkat: “Silakan update versi terbaru. Klik di sini untuk melihat apa saja yang baru.”

Contohnya seperti apa?

Layanan pulsa operator seperti “My Telkomsel”. Aplikasi banking. Google Drive. Microsoft Office Mobile. Voice Changer, yang bisa ubah teks menjadi suara, dan sering dipakai di akun faceless di YouTube. Google Maps. Bot segala macam bot. Aplikasi untuk download video YouTube. Semua itu contoh SaaS.

Produk mereka bagus kalau kita beli. Titik.

Jangan heran, kalau banyak versi premium SaaS tidak bisa dibajak. Saya jelaskan sedikit cara kerjanya. Tidak semua aplikasi bisa di-crack untuk menjadi premium. Aplikasi yang melakukan sinkronisasi antara akun yang login dengan daftar member premium mereka, tidak bisa diakali. Jika email kamu tidak ada di daftar member premium mereka, kamu tidak bisa akses versi premium.

Kalau kamu sudah login untuk mencoba versi promo atau trial mereka, maka akan ada notifikasi yang intinya kamu perlu beli untuk unlock layanan mereka. Layanan mereka tidak aktif jika kamu tidak membeli atau membayar layanan terkait.

Aplikasi seperti Canary, misalnya, meminta bayaran USD99 per bulan, agar kamu bisa mengendalikan keamanan rumah dari ponsel. Layanan premium mereka lebih mahal. Ada lagi “layanan keluarga” yang didedikasikan demi kenyamanan bersama, yang isinya menanam aplikasi di bawah kendali orang tua untuk mengawasi anak dan ABG, agar mereka selalu dalam pantauan. Mirip malware namun kita izinkan demi kebaikan bersama. Ini zaman ekonomi pelanggan, jadi tren SaaS akan semakin menguat.

Yang tidak dipertimbangkan orang, ketika mereka mendaftar (atau cukup dengan klik akun Google yang aktif di ponsel) adalah.. mereka belum tentu bisa menghapus akun mereka. Setelah mendaftar, data kamu di sana bukan lagi data kamu sepenuhnya, jika kamu tidak bisa hapus akun kamu.

Begitulah ekonomi pelanggan (subscriber economy). Kamu tidak mengakses Google dengan gratis karena Google mendapatkan manfaat dari kemauan kamu untuk.. search dengan mesin pencari mereka (dengan iklan berada di bagian teratas hasil pencarian), mencari lokasi dengan Google Maps, menonton YouTube dengan segala iklan dan penarik perhatian mereka, sampai menyimpan data di server mereka.

Konsumen tidak muak, karena mereka tidak menyadari bahwa tidak ada yang gratis. Konsumen muak, karena mereka menyadari, semua harus berbayar.

Perusahaan SaaS hidup hanya jika kita membiayai mereka.

Sekarang, aplikasi berbentuk layanan, semakin banyak dan “harus” kita pasang di ponsel. Membeli Pertalite dengan My Pertamina. Berbelanja dengan Shopee. Bahkan Google membayar Apple setiap tahun, agar boleh menyarankan kepada para pemakai Apple untuk install browser Google Chrome (dengan catatan, Apple sudah punya Safari, browser bawaan Apple).

Batas antara “produk” dan “layanan”, sekarang ini semakin kabur. Saya berikan contoh terpopuler: media online.

Setiap hari menuliskan berita. Ini produk atau layanan? Kita sering menyebut berita sebagai “produk”. Berita menjadi produk atas hasil investigasi, reportase singkat, kemudian muncul untuk “dikonsumsi” pembaca/pemirsa. Atau dia bisa berubah menjadi layanan ketika menerapkan sistem berlangganan khusus, di mana berita eksklusif diberikan kepada pelanggan berbayar, dengan content yang tidak disajikan secara penuh untuk pembaca bukan-pelanggan. Tempo, Kompas.id (bukan Kompas.com), sudah menerapkan sistem seperti ini.

Atau berita berubah menjadi layanan, ketika kita bertanya, “Mereka melayani siapa?”.

Apakah mereka memberikan layanan sama-rata kepada pembaca siapapun dan tidak menerapkan content eksklusif?

Apakah mereka hanya memberitakan sesuatu sesuai pesanan “kepentingan tertentu”, tanpa bertanya kepada pengguna apakah ini bagus untuk mereka?

Jangan heran jika media berubah menjadi layanan, namun bukan layanan untuk publik.

Media bisa menjadi layanan bagi para pemesan, ketika mereka tidak lagi memberikan label mana berita mana opini, mana reportase redaksi dan mana advertorial.

Pengguna bahkan bisa menganggap media ini bukan sebagai layanan karena mereka tidak tahu bahwa media ini ingin memberikan berita terbaik mereka.

Sementara itu, pengakses berita masih punya pilihan, untuk melihat media lain yang lebih baik, dan menginggalkan layanan yang kita berikan.

Di zaman “ekonomi pelanggan”, media online berada di batas semakin kabur, antara sebagai produk dan layanan. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *