in

Dianiaya saat Tagih Utang di Semarang, Debt Collector Koperasi Lapor Polisi

Korban mengalami penganiayaan dan pengeroyokan saat menagih utang ke nasabah yang menunggak.

Michael Velando (tengah) bersama dua kliennya tunjukkan laporan polisi akibat penganiayaan dan pengeroyokan. (istimewa)
Michael Velando (tengah) bersama dua kliennya tunjukkan laporan polisi akibat penganiayaan dan pengeroyokan. (istimewa)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Debt collector biasanya dilekatkan dengan sifat garang dalam menagih utang sampai yang ditagih ketakutan. Namun, di Semarang justru yang ditagih lebih galak daripada debt collector.

Belum lama ini, empat orang debt collector koperasi bernama Emanuel, Elia, Ederifati Gulo, dan Sudirman memutuskan untuk lapor polisi.

Sebab mereka mengalami penganiayaan dan pengeroyokan saat menagih utang pada dua waktu berbeda di lokasi yang sama di Kelurahan Jomblang, Kota Semarang.

“Klien kami dianiaya dan ada yang dikeroyok sampai luka-luka, padahal mereka nagih utang secara baik-baik. Makanya kami laporkan kejadian ini ke kepolisian,” ujar kuasa hukum debt collector, Michael Velando, Kamis (25/1/2024).

Velando bercerita, kejadian bermula adanya penganiayaan yang dialami oleh debt collector Emanuel saat akan menagih utang kepada nasabah. Dia dibanting oleh suami nasabah tersebut.

Setelah mendapat perlakuan kasar, Emanuel langsung kabur dan menghubungi ketiga temannya yakni Elia, Ederifati Gulo, dan Sudirman.

Pada waktu berbeda, keempat debt collector menagih utang lagi. Sebelum mendatangi rumah pelaku, mereka izin kepada ketua RT dan dipersilakan untuk langsung menagih ke yang bersangkutan.

“Ketika di lokasi respons suami nasabah tidak baik. Malah bersifat menantang,” kata dia.

Saat di rumah pelaku, Elia merekam video pertemuan itu. Namun pelaku tidak berkenan direkam. “Elia didorong hingga terjatuh, diinjak-injak. Untungnya ada warga yang menolong,” jelasnya.

Pada kejadian itu Sudirman mengalami perlakuan kasar. Dirinya dicekik lehernya oleh pelaku. Luka terparah dialami Emanuel yang sampai harus menjalani perawatan di rumah sakit. (*)

editor : tri wuryono 

Baihaqi Annizar