in

Di Tangan Roestono, Cangkang Telur Disulap jadi Karya Seni

 

SEMARANG (jatengtoday.com) – Di tangan Roestono, cangkang telur disulap jadi karya seni bernilai ekonomi tinggi. Yakni menjadi hiasan menarik dengan sentuhan ukir dan lukis.

Ada banyak macam gambar yang sudah dia bubuhkan di cangkang telur yang biasanya hanya menjadi limbah. Seperti tokoh kartun, pemandangan desa, motif batik dan sejumlah lukisan lainnya. Tidak hanya itu, ada juga telur yang diukir membentuk pola cukup menarik.

Untuk membuat karya ini Roestono memanfaatkan telur ayam, bebek dan telur angsa dengan ukuran lebih besar. Cukup menguras habis isinya untuk kemudian membubuhkan lukisan pada cangkang telur tersebut.

“Membersihkannya pakai suntikan. Disemprot sampai semua isinya keluar dan bersih. Jangan terlalu kencang, karena bisa pecah,” ujarnya ketika ditemui di rumahnya, Jalan Cimandiri 10 Kelurahan Mlatiharjo, Semarang, Jumat (15/11/2019).

Diakui, tantangan membuat seni cangkang telur, yakni ketika membuat ukiran. Modalnya memang bor kecil. Itu modal alat. Tapi ada yang lebih penting, yaitu modal ketelitian dan ketelatenan. Karena harus mengukir pada bahan dengan tekstur mudah pecah.

“Sebenarnya paling enak mengukir di telur ayam. Karena teksturnya keras. Tidak gampang pecah,” ujarnya.

Tanpa kehati-hatian, upaya membuat karya seni ini akan berakhir. Bagaimana tidak, pernah satu waktu ia membuat ukiran telur. Satu persen menuju selesai, telur yang ia hadapi remuk karena sedikit kelalaian.

“Yang bolong-bolong ini sepertinya sepele. Hanya dilubangi. Tapi ini butuh ketelatenan,” katanya sembari menunjuk telur angsa yang diukir dengan banyak lubang.

Hasil karyanya Roestono dijual dengan harga bervariasi. Tergantung tingkat kerumitan dan kesulitannya. Biasanya untuk telur ayam biasa, ia bisa menjual dengan harga Rp 50 ribu hingga Rp 75 ribu. Untuk yang dari telur angsa, bisa dibanderol hingga Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu.

“Sebab telur angsa ini belinya saja per butir bisa Rp 30 ribu. Itu yang kecil. Kalau yang besar bisa sampai Rp 50 ribu,” ujar pria yang juga membuka toko sembako di rumahnya ini.

Beberapa hasil karyanya sudah laku terjual sebagai souvenir dan buah tangan. Dia berharap, ke depan bisa mendapat kemudahan untuk melakukan pemasaran. Sebab, hingga saat ini kendala yang dihadapinya hanya dalam hal pemasaran saja.

“Kalau pembuatan tidak terlalu susah. Karena kalau hanya gambar saja sehari bisa membuat banyak. Kalau ukir butuh waktu sampai 3 hari,” bebernya.

Untuk cangkang telur berukuran besar, setelah diukir, biasanya dijadikan kap lampu. Hasilnya cukup menarik. (*)

 

editor : ricky fitriyanto