in

Kamu Bisa Mendeteksi Teks Buatan AI Tanpa Aplikasi

Pedoman mudah: periksa elemen yang tidak-manusiawi, lihat kata dan pola yang sering dipakai, dan pemakaian perangkat retorika.

(Image: Christian Chan)

Secara teknis, AI pemroses bahasa seperti ChatGPT OpenAI memiliki kemampuan pintar, antara lain: membuat ringkasan, parafrase (membahasakan-ulang), menjelaskan arti-kata, memeriksa ejaan dan struktur kalimat, dll.

Banyak layanan untuk membersihkan hasil kerja AI, agar tidak terdeteksi sebagai produk hasil pemrosesan AI, misalnya, dengan Undetectable. Tidak jarang, layanan AI memang dibuat untuk memudahkan orang menyelesaikan tugas ilmiah, seperti membuat paper, esai, atau content web.

Yang menjadi masalah, AI sering “menang” dalam kecepatan dan penyajian wawasan yang ia kompilasi dari banyak sumber. AI semakin pintar, semakin kabur batas antara buatan mesin dan tulisan manusia. terutama pada teks ilmiah.

AI bukan hanya ChatGPT OpenAI. Setiap bulan, ada 3 website dan aplikasi yang berbasis pada pemakaian AI. Mulai dari teks, gambar, video, dll. Dunia semakin mudah, semakin banyak persaingan, sekaligus semakin besar peluang memakai AI untuk menyelesaikan tugas manusia.

Langkah pertama saya ketika menerima tulisan dari pembaca: mendeteksi plagiarisme. Untuk apa saya edit kalau itu plagiasi? Setelah itu, saya mendeteksi, apakah teks tersebut hasil generasi (pemrosesan) artificial intelligence atau bukan.

Saya punya daftar-periksa, untuk mendeteksi teks hasil generasi AI.

Periksa Elemen yang Tidak-Manusiawi

.. karena AI adalah pemrosesan mesin yang tidak manusiawi.

  • Ejaan text book tanpa kesalahan. Tidak ada salah-ketik (typographical errors), tidak ada salah-eja (misspelling).
  • Pendirian terlalu netral. Jika kamu menemukan sikap atau pendirian netral, terutama masalah politik, etika, agama, dll. kemungkinan itu bukan opini manusia, melainkan AI. Ini karena AI diharuskan netral, mencoba menghindari bias, tidak mau melanggar peraturan, dan melayani publik. AI ingin moderat, bersikap “di tengah”, alias tidak jelas.

Kata dan Pola yang Sering Dipakai AI

Kalau kita mau sedikit jeli, banyak kata dan pola yang sering dipakai AI.

  • Jika ini kamu deteksi sebagai hasil terjemahan, cari kata “dimana”. Google Translate yang membantu AI, selalu salah menerjemahkan “where” yang berfungsi sebagai kata sambung di tengah, dengan “where“. Seharusnya, jika diketik dengan Ejaan Bahasa Indonesia (EBI), memakai “di mana” (terpisah), bukan “dimana”. Kalau “dimana” tanpa spasi, itu sama dengan hasil Google Translate.
  • Terlalu sering menggunakan kata “penting” untuk hal-hal yang bersifat “actionable” dan “instruksional”. Misalnya, tulisan tentang bagaimana merawat mobil. AI akan memberikan detail dengan kata-kata semacam “penting”, “langkah penting”, “penting untuk diketahui”, dst. Dan pola ini sering diulang-ulang. “Perlu diingat bahwa .. merupakan hal penting..”.
  • AI suka pola kata tertentu ketika memberikan saran. Ini merupakan gaya copywriting. AI terlihat berapi-api ketika aktivitas kamu bersifat hiburan, menganggap dunia tenang-tenang saja, seperti tidak ada masalah.
  • Kata “memastikan”, “pastikan”, sering dipakai AI.
  • Kata “the” (article untuk kata-benda yang sudah jelas) juga sering muncul. Kata ini dipakai karena sangat sering muncul di hasil penelitian dan artikel ilmiah.
  • Ukuran yang tidak jelas. Saya sangat menentang ini dalam berita, ketika ada sesuatu yang sebenarnya terukur tidak diberi ukuran jelas, seperti: “sekitar”, “sejumlah”, “beberapa”, “sebagian besar”.
  • Ketika memberikan saran, AI sering memakai kata “ingat”, “perlu diingat”, “ingat bahwa”. AI ingin menjadi pengingat yang bermanfaat bagi manusia.
  • Sering membesar-besarkan dan menjelaskan terlalu panjang, terkait keyword yang sedang ngehit, terutama yang dekat dengan dunia periklanan.
  • Jarang memakai tanda-kurung () dan tanda hubung “em dash”. AI menyukai konstruksi sintaksis yang lebih lugas dan jelas. Jarang ada tanda baca, merupakan salah-satu spoiler paling jelas kalau konten yang kamu baca, buatan AI.

Masalah Perangkat Retorika

Banyak tugas yang berkaitan dengan teks sastra seperti prosa dan puisi, tumbang ketika dikerjakan AI. Hasilnya, masih sangat buruk. Jadi, jangan kerjakan teks sastra dengan AI. Kamu akan kecewa.

Sampai saat terakhir saya tulis ini, ChatGPT OpenAI belum bisa membuat puisi dengan baik. Bahkan tidak bisa menghitung suku-kata (syllabi) ketika saya minta membuat haiku. Singkatnya, hasil generasi (pemrosesan) teks dengan genre sastra, masih sangat buruk.

  • Temukan “metafora + konstruksi trikolon”. Terdapat metafora diikuti tanda “…” agar terlihat signifikan.
  • AI bukan penggemar Star Wars, tidak mengerti gaya anastrofi yang sering dipakai Master Yoda. “Anasthrope” (anastrofi) adalah perangkat retorike yang meletakkan urutan kata secara terbalik, sekalipun melanggar pola “subject + predikat”, untuk menyampaikan hal terpenting lebih dulu. Misalnya: “capek rasanya, aku harus menjelaskan masalah ini kepadamu.” atau “ke Jakarta ia pergi”.
    Perangkat retoris ini, sering dipakai di puisi. Saya mau bilang, AI tidak bisa membuat puisi yang memerlukan perangkat ini.
  • AI kesulitan melakukan “katasresis” (catachresis), yaitu sesuatu yang salah namun dianggap benar. Kita sering lakukan katasresis di lagu atau di percakapan, misalnya: “Berulang kali saya coba begitu, namun hasilnya tetap begini.” atau “karena alasan yang tidak bisa saya jelaskan, saya tidak datang”.
  • AI sering memakai “paralelisme antitesis” dalam retorika, yaitu menyandingkan dua gagasan kontras dalam struktur paralel. Judul artikel klik-bait, sering memakai ini, misalnya: “.. dari budaya tertua sampai modern” atau “dari ibu-ibu sampai anak muda”. Perangkat retorika ini membuat kalimat terlihat komprehensif, meliputi ini dan itu.

Pakai langkah-langkah di atas untuk mendeteksi apakah suatu teks itu hasil pemrosesan AI atau tulisan manusia. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.