in

Dark Psychology di Balik Kampanye Politik “Kita Vs. Mereka”

Penerapan dark psychology, berbentuk brainswashing, manipulasi, gaslighting, dan disinformasi untuk kampanye politik “Kita vs. Mereka”.

(Image: JohnWoodC)

Tulisan ini spesifik membahas dark psychology yang beroperasi dalam kampanye politik “Kita vs. Mereka”. Mau politik identitas, pembenaran tujuan, menunjukkan kekuatan, pengkaderan, indoktrinasi, hampir di semua bagian, dark psychology memainkan peran utama.

Saya menulis “Cara Russia Mempersenjatai Informasi dalam Perang” tentang bagaimana Russia memakai metode “irasional” dan sampai tingkatan manipulasi semantik-leksikal di media. Panduan perang informasi Russia membuat kita bisa lebih memahami bagaimana negara dan media bekerja.

Berita baiknya, dark psychology beroperasi di sekitar kita.Politisi, militer, inteljen, pebisnis, maupun visioner, memakai psikologi gelap (dark psychology) untuk memenangkan pertarungan. Ini bukan rahasia lagi.Di hubungan pacaran, di pertarungan psikologi, di kantor, dan kebanyakan orang tidak menyadari ini.

Apa saja penerapan dark psychology di balik kampanye “Kita Vs. Mereka”?

Brainwashing

Apa yang kemarin kamu anggap sebagai “kebenaran” itu salah.

Itulah inti dari brainwashing (cuci-otak). Memaksa kamu mengakui bahwa apa yang kemarin kamu anggap kebenaran itu salah.

Selama ini, cara kita makan salah. Apa yang kita makan salah. Cara kita memperlakukan lingkungan salah. Cara kita memanfaatkan waktu salah. Begitu banyak kesalahan, ditunjukkan kepada kita, dengan sekian macam pembuktian, pembenaran teoritis, pernyataan ahli, hasil riset, dll. Singkatnya: apa yang kemarin kamu anggap sebagai “kebenaran” itu salah.

Online shop,.kelas baru, acara televisi, panggung politik, sampai pasar swalayan, penuh iklan yang berisi “kesalahan saya” di masa lalu. Tidak selamanya, itu buruk. Yang buruk adalah: tujuannya. Memisahkan kita sepenuhnya dari masa lalu, padahal tidak sepenuhnya masa lalu itu buruk.

Proses mengubah keyakinan atau sikap seseorang melalui persuasi dan indoktrinasi yang intens dan berkepanjangan. Sering digunakan dalam konteks kultus atau kelompok lain yang berusaha mengendalikan anggota mereka. Bagian dari pergeseran paradigma kelompok (massa) yang lebih besar, bukan antara dua individu.

Contoh: “Tidak benar bahwa Tokoh X korupsi, itu hanya pandangan sebagian orang. Justu sebaliknya..”.

Mereka menyajikan data tentang “masa lalu” sebagai “realitas referensial” (yang tertunjuk), bukan “realitas obyektif” (yang sebenarnya). Inilah brainwashing. Intinya, ingin kita melihat kemarin (atau sesuatu yang kita anggap sebagai kenyataan) sebagai sesuatu yang salah. Cara pandangan kita salah, realitas yang kita lihat salah.

Bagaimana Melawan Brainwashing?

Constantine mencuci-otak Batman. Hebatnya, Batman punya taktik “mengembalikan ingatan” dengan cara menuliskan daftar kejadian buruk yang pernah menimpa dirinya. Dengan cara ini, ia bisa mengembalikan realitas yang hilang. Di film “Paycheck”, seorang ilmuwan mengalami “brainwashing” agar tidak bisa mengingat apa yang telah ia buat. Selama menciptakan “mesin”, ilmuwan ini sudah meninggalkan jejak, di teka-teki silang, catatan, keyword, dll. Akhirnya ia bisa menyingkap mesin yang ia temukan dan inilah yang akhirnya mengubah cerita. Singkatnya, pengalaman buruk dapat membuat kita selalu terjaga tentang “siapa saya”, sekalipun kamu sudah mengalami brainwashing.

Yang bisa kita andalkan adalah catatan dan dokumentasi. Tuliskan cerita buruk yang pernah terjadi, kemudian simpan. Itu yang membuatmu tidak mempan terkena brainwashing. Pada kasus yang sama, ketika seorang calon melakukan brainwashing, kita bisa lihat catatan dokumentasi yang pernah kita tuliskan di masa lalu. Jika kamu tidak mengikuti berita, tidak punya arsip, tidak mencatat apa yang terjadi dalam hidupmu, maka kamu berada di barisan “penonton”, tidak ikut bermain, tidak bisa interupsi untuk meralat berita yang salah, dan tidak memahami realitas “sekarang”.

Menulis, merekam, membuat catatan pribadi, adalah cara kita merawat kenangan dan menjaga dunia kita, ketika orang berkata, “Ini bukan kamu. Dulu kamu tidak seperti itu.”. Kita lebih tahu tentang diri kita sendiri.

Selain itu, sajikan kebenaran alternatif. Bahwa X bukan satu-satunya jalan, bukan satu-satunya kebenaran. Siapa yang menang? Yang punya catatan sejarah dan mau berpikir tentang kebenaran alternatif.

Manipulasi

Mengubah realitas untuk mengendalikan pikiran dan tindakan orang.

Tujuan manipulasi adalah “kendali”.

Contoh? Ketika seseorang yang kita target menyukai kulit berwarna putih, kita menyajikan model berkulit putih. Kata “komunikatif” dan “merakyat”, dihadirkan kembali dalam bentuk adegan di foto/video, mirip film, dengan script yang sudah jadi, ketika seorang politisi “merangkul” atau “berdialog” dengan massa. “Nanti bisa hubungi saya langsung..”.

Manipulasi tidak selalu bertujuan buruk. Manipulasi baik ketika pengendali bersikap baik. Sayang sekali, manipulasi menghilangkan kedaulatan dan wewenang kita atas diri kita sendiri.

“Nderek dawuhe Tokoh X” (ini hanya contoh) adalah bentuk manipulasi yang sering terpampang di poster politik. Suara, aspirasi, dan keputusan, sudah dalam kendali Tokoh X. Setidaknya, bagi mereka yang memasang baliho dengan kalimat semacam itu.

Manipulasi bisa kita lawan dengan mengerti bagian mana yang polesan, mana yang tidak. Ketahui realitas yang sebenarnya.

Kalau kita tidak bisa menulis berita, kita tidak tahu bagaimana berita ini dibuat. Kalau kita tidak mengerti script dan shooting, tentu kabur antara manipulasi dan realitas.

“Ah, ini pasti pakai kamera roll-b. Ini staged, sudah dirancang. Wow, pertunjukan politik yang keren.”

Jadi kita bisa membedakan, mana hasil editing kamera yang menampilkan kemeriahan acara, dan mana yang kenyataan bahwa sebenarnya acara itu sepi.

Realitas adalah bentukan, berdasarkan sudut-pandang. Realitas itu realtif, sesuatu yang berhubungan dengan hal-hal lain. Realitas merupakan jejaring yang dibentuk, sampai “terjadi” dan “terlihat” sebagai sesuatu.

Gaslighting

Seperti lampu sorot di panggung. Lihat hanya bagian ini saja, dan buat mereka meragukan keyakinan dan mempertanyakan realitas mereka sendiri.

Untuk konteks hubungan yang kasar. Melibatkan kebohongan, menahan informasi, atau memutarbalikkan kebenaran

Bayangkan seribu obyek di tengah kegelapan, lalu ada 1 yang mendapatkan sorotan. Selain 1 obyek ini, hanya dapat keremangan dan kegelapan.

Gaslighting memiliki banyak bentuk:

  • Mengabaikan Perasaan. Sebenarnya kita ingin korupsi tidak ada di muka bumi. Para politisi memilih “permisif”. Membiarkan terjadi, menganggap wajar, sampai pernyataan “tidak mungkin dihapuskan”. Ini kondisi di mana kita diposisikan untuk melawan diri-sendiri: mempertanyakan apa yang sudah kita pelajari di mengaji, di undang-undang.
  • Memotong. Tidak mau berdiskusi. Diskusi kalah dengan durasi dan interupsi iklan. Diskusi “diberitakan” efeknya: perbedaan pendapat, dialogis, seru, memanas. Tidak diberitakan intinya apa. “Memotong” pertanyaan, “memotong” jawaban lawan, adalah jurus gaslighting, agar “maksud” mereka tidak dipertanyakan.
  • Mengalihkan Pembicaraan. “Ada masalah lebih penting bagi bangsa ini..”.
  • Menutup rumor negatif dengan issue hiburan. Mengubah kejadian nyata menjadi parodi dan anekdot. Sehingga ditutup dengan kalimat, “Acara berlangsung secara meriah dan banyak peserta bertanya tentang peran beliau dalam..”.
  • Melupakan dan Menyangkal. Ketika kamu melakukan konfirmasi, datanglah penyangkalan. “Memang beliau datang, tetapi tidak membicarakan agenda politik..” atau “Sejak awal, organisasi ini berdiri sebagai organisasi sosial, bukan untuk berpolitik..”.
  • Kamu diberitahu “kejadian sebenarnya” versi yang menyalahkan kamu. Orang yang suka melakukan gaslighting, sangat sering mengutip “sejarah”, “peran” seseorang (biasanya, dirinya), senioritas, serta menyelesaikan banyak hal dengan “pengalaman”.
  • Mendiskreditkan. Kamu disalahkan. Dianggap tidak accountable.

Berita baiknya, para politisi sering tidak menyadari, tindakan mereka sebagai “gaslighting”. Ini karena dark psychology sering berlangsung di bawah-sadar mereka. Orang berpacaran juga demikian. Pihak lelaki yang (dalam kebanyakan contoh) ingin bersikap superior, menganggap bahwa ketika ia mengelak, menyalahkan, dll. itu tidak merasa sedang melakukan “gaslighting”.

Disinformasi

Menyebar informasi palsu, untuk menipu, propaganda, dan mempengaruhi opini publik.

Bentuknya? Fakenews, rumor, dan teori konspirasi.

Buat orang menjadi tidak tahu yang sebenarnya, berada di lingkungan yang tidak mungkin mengakses penyingkapan informasi. Beri mereka fakta sampai overload, tidak lagi bisa membedakan mana yang faktual dan mana yang fake. Tidak perlu sensor ketat. Berikan informasi alternatif yang membingungkan publik, agar perbincangan selalu menguntungkan agenda politik kita.

Strategi Dark Psychology dalam Kampanye “Kita Vs. Mereka”

Menjebak lawan secara negatif, mengubah identitas, memengaruhi pemilih, dan membujuk orang untuk meninggalkan perilaku individualistis demi kepentingan kolektif.

Taktik Dark Psychology dalam Kampanye “Kita Vs. Mereka”

Untuk mencapai strategi dan tujuan jangka panjang, perlu menerapkan taktik yang membingkai “Kita Vs. Mereka” sebagai pertarungan.

  • Membuat mentalitas “kita vs. mereka” untuk menimbulkan ketegangan dan perpecahan.
  • Memanfaatkan ketakutan atau kelemahan masyarakat untuk membujuk pemilih agar mendukung kebijakan atau politisi tertentu.
  • Memainkan ketakutan, mengeksploitasi kerentanan, mencuci otak, dan menciptakan perpecahan.
  • Framing. Membingkai lawan secara negatif.
  • Membujuk warga negara untuk meninggalkan perilaku individualistis demi kepentingan kolektif. “Ingat, ini tujuan mulia yang perlu kita capai bersamai, untuk masa depan anak-cucu kita..”.
  • Manipulasi citra. Gambar dan video, dokumen palsu, judul berita dengan logo dari media berita populer. Lihatlah, gambar yang penuh senyum, cerdas menjawab pertanyaan, dan memperlihatkan grafik pertumbuhan.
  • Menghapus kata tertentu. Kata “perang” diganti dengan “operasi militer khusus”. Kata “kemiskinan” sebagai “pertumbuhan bertahap”. Kata “konflik” diganti menjadi “dialog”.
  • Memakai outlet dari tempat lawan, agar seolah-olah ada perpecahan di tubuh lawan. Menunjukkan ada “anggota kita” yang berada di tengah-tengah “mereka”.
  • Melakukan rujukan silang dari beberapa sumber yang sebenarnya dalam satu jaringan.
  • Pra-propaganda. Menunjukkan bahwa ini sudah terjadi jauh sebelumnya, demi pembenaran.
  • Menggunakan media tradisional: media cetak, radio, dan televisi.
  • Jual Pukulan. Pakai tenaga menganggur dan musuh-dari-musuh untuk memukul musuh.
  • Menyusun narasi untuk menyerang lawan: menjebak lawan secara negatif, menghancurkan pendukung-lawan, dan menegaskan keunggulan “Kita”.
  • Membuat seruan eksplisit.
  • Mengasosiasikan diri dengan “rakyat” dan membingkai lawan sebagai bagian dari elit atau kemapanan
  • Memanfaatkan kegelisahan atau kelemahan masyarakat untuk membujuk pemilih agar mendukung kebijakan atau politisi
  • Menciptakan perpecahan ekstrim menjadi “Kita vs. Mereka”, yang saling bermusuhan.

Efek dari Takti “Kita Vs. Mereka”

Terlepas dari “tujuan mulia” dan “kebenaran” yang mereka klaim, dalam pertarungan “Kita Vs. Mereka” terdapat efek yang perlu kita perhatikan:

  • Polarisasi. Lebih memikirkan “musuh dari luar” daripada menjalin kerjasama di dalam.
  • Menarik sentimen populis dan meraih dukungan dari pemilih yang merasa kehilangan hak atau terpinggirkan.
  • Prioritas pada loyalitas kelompok, bukan lagi pemikiran kritis atau membuat keputusan rasional.
  • Kekerasan simbolik dan kekerasan fisik.
  • Individu menjadi terbagi di seputar identitas dan persepsi kekuasaan, yang menyebabkan kurang kerja sama dan pemahaman di antara kelompok berbeda.
  • Memaksa semua melihat dan menyaksikan konflik. Tujuan semua konflik ini adalah “publik”, “warga negara”, semua orang, mata dunia.

Akar Psikologi Mengapa Terjadi “Kita Vs. Mereka”

Pertempuran identitas. Setiap orang cenderung membuat kategori berdasarkan SARA, jenis kelamin, usia, kebangsaan, dan status ekonomi. SARA adalah dasar sekaligus alat “Kita vs. Mereka”. Memilih sesuai kelompok, selalu melibatkan 2 hal yang kita pakai dalam evolusi: kepercayaan dan kompetensi. Merebut kedua hal itu, membutuhkan totalitas.

Alur Mentalitas “Kita Vs. Mereka”

Investasi emosional dan kategorisasi sosial. Individu mengidentifikasi diri dan mencari kelompok yang tepat agar mereka jelas berada dalam kategori seperti apa. Garis batas dikotomi terlihat, untuk menentukan perbedaan dan siapa “lawan” dari “Kita”.

“Bias Kognitif” di Balik “Kita Vs. Mereka”

Pertarungan identitas “Kita Vs. Mereka” sebenarnya berisi bias kognitif. Dengan kata lain, pertarungan ini menampilkan kebodohan — yang sering tidak mereka sadari.

Apa saja “bias kognitif” di balik “Kita Vs. Mereka”?

  • Bias In-Group. Lebih suka kelompok sendiri dibandingkan kelompok lain. Mau lihat buktinya? Lihatlah, banyaknya fokus perbincangan di media sosial, yang berfungsi mirip “echo chamber” (ruang gema). Mereka mencari orang-orang yang satu gagasan, satu jalan politik, untuk membenarkan apa yang mereka perjuangkan.
  • Kategorisasi Sosial. Lebih jelas kalau memakai kategori, “Saya termasuk orang seperti apa?”. Fakta: kategori bukanlah realitas. Pengetahuan menghasilkan klasifikasi. Ini kenyataan pahit.
  • Bias konfirmasi. Mencari pembenaran atas apa yang saya yakini dan mengabaikan informasi yang tidak sejalan dengan keinginan saya. Politisi suka membeli berita.
    Kesalahan Atribusi. Salah dalam mengaitkan perilaku orang lain dengan karakter atau watak mereka, tidak melihat faktor situasional.

Jika sekarang kamu memihak ke salah satu, dari “Kita Vs. Mereka”, cobalah menggali lebih dalam: dark psychology apa saja yang sedang bekerja? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.