in

Melihat Dagelan Politik Indonesia

poster rey tentang animal farm george orwell
poster rey tentang animal farm george orwell

Lagi-lagi, dan masih seputar dagelan, kali ini didominasi oleh politikus dan hanya sedikit dari ranah brokrasi. Publik dihebohkan dengan beberapa fenomena unik di antaranya bahkan mengundang gelak tawa, baik dari sisi materi, pembawaan (kemasan) atau pun gambaran orientasinya.
Tidak sedikit, kehebohan yang muncul di media massa dewasa ini, bak fenomena jamur di awal musim semi.

Bermunculan kontroversi berupa perseteruan antar tokoh-tokoh yang pada saat bersamaan justru saling mendukung eksistensi di ranah kecimpung masing-masing.

Mungkin sebagai bagian dari usaha penguraian masalah, baik internal atau pun eksternal, namun persoalan yang menjadi konsumsi publik adalah perihal pertanyaan mengapa harus mencuat ke media massa sehingga tersebar dan menjadi hingar-bingar di kalangan masyarakat luas?

Untuk lebih jelasnya simak contoh dari fenomena-fenomena yang dimaksud sebagaimana penulis rangkum dalam poin-poin berikut:

Pertama, perseteruan terbuka antara PKB dan MENAG (Menteri Agama) Yaqut. Konon, ada ungkapan dari Menteri Yaqut yang membuat keberatan dan dipersoalkan oleh PKB. Konon, perseteruan keduanya semakin memanas, demikian dalam pembahasaan media massa.

Sama-sama lahir dari rahim organisasi massa yang bernama Nahdlatul Ulama, kemungkinan menjadi alasan bagi keduanya merasa dekat dengan organisasi struktural keagamaan tersebut.
Organisasi yang lekat dengan politik, khususnya politik praktis, NU telah melahirkan berbagai tokoh dan kelompok (partai) besar. Sehingga tidak mengherankan kedekatan terhadap organisasi oleh berbagai kalangan sering dipersoalkan. Di sisi lain klaim serta merasa diri paling dekat oleh berbagai pihak tidak jarang ditemukan bahkan cenderung serampangan dan pragmatis.

Persoalannya adalah terkait pertanyaan yang diajukan pada paragraf di atas, mengapa harus mencuat dan menjadi konsumsi publik?

Bukankah tidak semua orang ingin terlibat dengan setiap perseteruan internal organisasi tersebut, bahkan tidak sedikit bersikap apatis dan tidak ingin tahu.

Maka hal yang paling mungkin yang menjadi alasan dari fenomena tersebut adalah eksistensi. Usaha menjaga nama besar di hadapan masyarakat sebagai organisasi keagamaan.

Namun, pertimbangan yang perlu dipikirkan adalah sikap ini lama-kelamaan dapat mengikis wibawa para pemimpin khususnya dari kelompok ini (NU) di masyarakat. Kecenderungan keduniaan lambat laun dapat merugikan internal organisasi, bahkan sekawakan NU.

Masyarakat melihat karakter yang kurang dewasa dalam menyikapi persoalan, dapat menimbulkan persepsi tentang organisasi yang kekanak-kanakan (atau anak TK). Belum lagi penyelesaian yang diambil cenderung bersifat menguntungkan internal yang berseteru, yang bahkan dapat melahirkan kebingungan, persoalan juga perasaan antiklimaks di masyarakat bahkan dapat menjelma lelucon.

Kedua, proses kurasi artikel di media massa. Proses moderasi atau penyesuaian artikel di media massa membutuhkan banyak pertimbangan. Penyesuaian isi artikel dengan selingkungan atau gaya khas penulisan internal media.

Selain itu, perbaikan atau editing materi yang berkesesuaian dengan “niche” (topik) media serta susunan huruf atau kata terkadang membutuhkan kejelian redaksi dan cukup memakan waktu.
Keahlian yang berkesesuaian dengan jam terbang redaksi menjadi dibutuhkan pada tahap selanjutnya yaitu keputusan atas artikel yang dikirim berupa diterima atau ditolak. Jika diputuskan redaksi untuk dipublikasi maka artikel tersebut pun terpublikasi (atau tayang dalam bahasa portal internet).

Namun jika dirasa redaksi artikel tersebut butuh penyesuaian, seperti tema, pembangunan argumentasi yang kuat serta pembahasaan yang menarik, baik dan benar sesuai dengan KBBI maka, tinggal lah kesabaran penulis.

Tidak sampai di sana, kesabaran penulis juga diuji dalam publikasi artikel. Terkadang, terdapat alasan bagi penulis untuk menarik artikel yang telah dikirim karena alasan-alasan kursial, baik internal penulis, kepentingan media atau relevansi dengan tema-tema aktual yang terjadi di masyarakat, maka alasan tersebut tidak diterima dan artikel tetap tayang apa pun yang terjadi serta apa pun konsekuensinya.

Hal ini menjadi persoalan dan akan menjadi sesuatu hal yang serius tatkala berkaitan dengan kepentingan media lain. Jika hak cipta bisa saja ditawar, artinya penulis dapat bersikap terbuka atas berbagai kebijakan media, namun tidak dengan media itu sendiri, di mana penulis harus banyak bersabar dan menerima selain senantiasa mencari jala ln keluar dari persoalan yang dihadapi.

Ketiga, gonjang-ganjing calon presiden. Anis Baswedan, Ganjar Pranowo, dan Prabowo Subianto adalah nama-nama yang dideklarasikan sebagai calon presiden. Nama lain seperti Andika Perkasa, Muhamimin Iskandar serta TGB muncul sebagai calon wakil presiden yang mendampingi.

Bukan hanya santer di media massa, ketiganya bahkan telah menyampaikan gagasan sebagai bakal calon presiden pemilihan tahun 2024. Namun apa yang menjadikan ketiga layak dianggap sebagai putera terbaik bangsa untuk menduduki posisi tertinggi negeri ini?

Setiap calon presiden memiliki program, layaknya di negara demokrasi, setiap pemimpin diuji keberhasilannya dalam kepemimpinannya berupa realisasi program, pencapaian dan kesuksesannya di mata publik.

Bukankah itu biasa? Menjadi pemimpin yang berhasil melalui program di negara bahkan bukan demokrasi sekali pun menjalankannya?

Namun fenomena ini menjadi unik dan dapat menjelma dagelan ketiga kepemimpinan berjalan dalam arus regenerasi partai politik seperti pada penerus berbagai partai politik. Hal ini tampak dan seringkali dikaitkan antara kepemimpinan Jokowi sebagai presiden dengan Kaesang , putera Jokowi yang juga ketua partai.

Bukankah ini unik? Tidak semata Jokowi yang awalnya kepada daerah kemudian menjadi presiden, atau Kaesang yang dari daerah menjelang lengser jabatan ayahnya bisa menduduki posisi tertinggi parta. Namun, fenomena ini adalah kekhasan warna politik era ini yang serba instan, fleksibel, dan tentunya komplit.

Demikian fenomena dewasa ini yang mewarnai dan eksis di berbagai media dewasa ini dan membuat heboh. Jika tidak atas nama NKRI, fenomena ini bukanlah suatu yang penting.

Maka terhadap hingar-bingar di atas, penting untuk melihatnya dalam kaca mata hikmah, agar perseteruan dapat diharapkan berubah menjadi kerukanan, persoalan mendapatkan jalan keluar, serta keseriusan bernuansa emosi menjelma dagelan-dagelan penuh penghiburan, itu saja dulu. [nzw]

Nazwar, S. Fil. I., M. Phil.* Penulis lepas Yogyakarta.

Nazwar