in

Merancang Call to Action

Pisahkan antara “ajakan bertindak” dan “keputusan membeli” dan jangan paksa calon pembeli menunjukkan komitmen.

Pisahkan "ajakan bertindak" dari "keputusan berbelanja". Jangan minta komitmen kepada calon pembeli terlalu awal. (Credit: elenabs)

Keputusan orang dalam membeli dipengaruhi cara kita membuat ajakan bertindak (call-to action, CTA). Seperti apa “CTA” itu? Kita sering baca kalimat di online shop, “Ayo, beli sekarang..”, “Lihat produk kami lainnya..”, “Dapatkan discount spesial”. Apa saja yang bisa mendorong untuk bertindak (berbelanja).

Sering terjadi, penjual sudah ceritakan kualitas barang dan harga, tetapi lupa ajak membeli. Bagaimana cara membuat CTA yang mendorong orang untuk beli produk atau layanan? Perlu trik khusus dan rahasia berikut ini..

Pisahkan Keputusan Membeli dari Ajakan Bertindak. Jangan meminta komitmen (calon) pembeli terlalu dini.

Saya pernah dapat undangan. Konon, akan ada pembicaraan tentang bisnis baru, yang menguntungkan di masa depan. Banyak orang kaya hadir. Setidaknya, penampilan mereka tampak kaya, pakai mobil, kaos branded, dan Android keluaran baru. Di sana ada hiburan dan makanan ringan.

Pertanyaan, “Apakah kamu mau datang?”. Saya tidak mau datang.

Kegagalan orang ajakan, sering terjadi karena mencampur “keputusan membeli” (ikut bisnis baru) dan ajakan bertindak (datanglah, ada hiburan dan makanan ringan). Cara ini sering tidak berhasil. Jadi, pisahkan antara ajakan bertindak dan keputusan membeli. Jangan melakukan jebakan seperti pertemuan orang kaya itu. Begitu datang, langsung ditodong, diminta memborong. Hasilnya, tidak akan berjangka-panjang dan kebanyakan mereka tidak akan berhasil menjadi pemasar yang tangguh. Mereka membeli karena diminta, direkam, dan ditonton semua orang.

Dalam praktik, di marketplace juga demikian. Kamu harus pisahkan kalimat, “Ayo beli sekarang” dengan tombol “Masukkan keranjang”.

Kalau keduanya dicampur, hasilnya bisa kacau.

Contoh yang dicampur dan kacau: iklan pop-up yang tiba-tiba muncul, bahkan sebelum kita membaca content dalam 1 menit. Meminta berlangganan newsletter. Tawaran gratisan. Akhirnya, orang tidak mau balik ke situ.

Saya belum membeli apa-apa ketika ada ajakan datang ke acara bisnis baru. Lain cerita, kalau tawaran itu, “Besok kita nongkrong, lihat penyanyi baru, sambil menikmati camilan”. Mungkin saya mau.

Ajakan Bertindak (CTA) hanyalah undangan. Tidak perlu meyakinkan, tidak membujuk dengan desakan. Buatlah CTA sebagai tahapan sebelum kamu menjelaskan “langkah berikutnya”.

Akan lebih soft kalau ajakan itu begini:

“Nanti kalau mau bicara tentang konten, bisa hubungi nomor saya.”

atau

“Silakan mampir ke kantor saya. Kalau Sabtu, setelah jam 12 biasanya saya makan siang di sini.”

Hilangkan tekanan. Buat mudah. Beri orang lain kesempatan membuat keputusan.
Memaksa memang bisa menaikkan penjualan. Namun membuat konsumen loyal akan berlari.

Pemasaran adalah menjual dalam skala besar. Bukan sekali. Pemasaran yang memaksa, lebih banyak mendapat penolakan.

Pemasaran yang memaksa, mirip penipu: mereka bisa keliling-dunia, tetapi tidak bisa mendatangi tempat sama.

Webiste biasanya menawarkan berlangganan atau permintaan download aplikasi, dalam bentuk pop-up. Belilah plugin premium, untuk konversi pengunjung. Atur munculnua pop-up berdasarkan “trigger” (pemicu), bukan berdasarkan waktu. Misalnya, pop-up baru akan muncul jika pengunjung selesai scroll. Atau setelah membaca 3 artikel. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.