in

Charles Disebut Sudah Tak Berwenang Urusi Harta Pailit Nyonya Meneer

SEMARANG (jatengtoday.com) – Mantan Direktur PT Perindustrian Nyonya Meneer, Charles Saerang disebut sudah tak berwenang lagi mengurusi harta pailit mantan perusahaannya.

Hal itu diungkapkan salah satu kuasa hukum PT Bhumi Empon Mustiko (BEM), M Rezza Kurniawan usai mengikuti sidang gugatan lanjutan di Pengadilan Niaga (PN) Semarang, Selasa (23/6/2020) sore.

PT BEM ini sekarang sedang digugat oleh Charles Saerang atas penggunaan foto Lauw Ping Nio (Nyonya Meneer) dalam produk minyak telon yang dipasarkan PT BEM tanpa seizin ahli waris.

Namun menurut Rezza, jika mengacu pada Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, Charles ini sebenarnya sudah tidak mempunyai hak apapun atas PT Perindustrian Nyonya Meneer. Sebab posisinya adalah mantan direktur.

“Di situ (UU) jelas disebutkan bahwa debitur demi hukum sudah tidak ada hak untuk menguasai, mengurus kekayaan yang termasuk dalam harta pailit. Ini berlaku sejak putusan pailit diucapkan,” tegasnya.

PT Perindustrian Nyonya Meneer atau Jamu Nyonya Meneer tersebut telah dinyatakan pailit oleh PN Semarang pada 3 Agustus 2017 lalu.

Di samping itu, Rezza mengkritisi pokok gugatan yang diajukan Charles kepada kliennya kali ini. Sebab, Penggugat seolah mencampuradukkan antara hak cipta dengan merek.

Menurut dia, setiap merek dagang yang dibeli sudah merupakan kesatuan. Di dalamnya memuat logo, potret, serta tulisan Nyonya Meneer. Namun, kini Charles mempermasalahkan soal penggunaan foto.

“PT BEM itu sudah membeli 72 merek dagang Nyonya Meneer, termasuk minyak telon yang dipermasalahkan itu. Karena klien kami sudah membeli secara legal dari pemenang lelang,” tandas Rezza.

Pokok Gugatan

Sementara itu, pada agenda sidang pembacaan gugatan, Penggugat melalui kuasa hukumnya, Alvares Guarino Lulan menegaskan, penggunaan foto dalam suatu produk minyak telon yang dipasarkan PT BEM telah melanggar hak ekonomi sesuai yang diatur dalam hak cipta.

Sehingga, dia meminta majelis hakim PN Semarang supaya menghukum Tergugat agar membayar kerugian materiil dan imateriil yang diderita selama ini.

Kerugian materiil yang dimaksud berupa hilangnya hak royalti, dihitung berdasarkan proyeksi nilai penjualan produk. Sehingga mencapai Rp43,2 miliar. Adapun kerugian imateriilnya senilai Rp500 miliar. Sehingga total Rp543,2 miliar.

Selain menggugat PT Bhumi Empon Mustiko, Charles juga menyeret Badan Pengawas Obat dan Makanan BPOM (sebagai Turut Tergugat I) serta Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI (sebagai Turut Tergugat II). (*)

 

editor: ricky fitriyanto