in

Ekalaya, Berguru di Depan Arca

Pada zaman dahulu kala,,

Hiduplah mahaguru yang dipercaya Bhisma, untuk mengajari cucu-cucu mereka yang berdarah ksatria, yaitu: 100 orang kurawa, dan 5 pandawa. Selain kedua keluarga ini, ia tidak boleh mengajar. Mahaguru itu, resi durna.

Dia menguasai ilmu kebijakan, sastra, dan olah kanuragan, serta kesaktian.

Resi Durna, dibenci para dewa, dan sering mendapat nasib tidak enak. Resi Durna memiliki cupumanik astagina, pusaka sakti yang di dalamnya terdapat rahasia jagat raya. Setara dengan pengetahuan Dewa Wishnu. Hanya seorang Durna yang mampu menyembunyikan dan kuat menggenggamnya. Para dewa bahkan tidak berani menyebut-nyebut senjata itu, karena takut semakin banyak orang memperebutkan.

Mahaguru Durna tidak pernah memakainya dalam peperangan. Apa yang tampak dalam segala lakon, di pewayangan, seorang durna hanyalah guru. Yang tak-lepas dari penggambaran baik dan buruk. Lebih sering buruk.

Pada suatu hari, di tengah masa penggemblengan para ksatria bharata, yaitu Pandawa dan Kurawa, Sang Guru kedatangan seorang pemuda, yang tidak berdarah Bharata. Dia mengaku bernama Ekalaya. Dia ingin belajar kepada Durna.

Ekalaya ditolak. Dia bukan ksatria, bukan pula dari keluarga Bharata. Pengajaran harus berjalan dengan takdir dan kasta. Ekalaya kecewa. Lalu dia pulang.

Apakah Ekalaya berhenti? Tidak. Ekalaya tetap belajar. Ekalaya tidak pernah lelah.

Pertemuan singkatnya dengan durna, telah membawanya kepada ingatan untuk belajar sendiri. Dia membuat sebuah patung, bersosok pendeta Durna.

Setiap hari Ekalaya belajar memanah dan ilmu kanuragan sendiri, setiap malam dia belajar ilmu sastra dan kebijakan, ditemani isterinya yang cantik.

Setiap merasa bersalah dan gagal dalam satu pelajaran, dia mengulanginya sendiri. Tak ada dendam di dadanya. Yang ada rasa hormat dan terima kasih kepada Guru Durna, yang hanya menemaninya dalam rupa arca.

Bersama arca itu, dia menghadapi terik matahari dan hujan, siang-malam.

Jika ia gagal membidik sasaran dengan panahnya, ia bersujud di depan patung itu, “Maafkan aku, Guru. Aku tidak berhasil membidik. Berikan aku kesempatan untuk mengulangi memanah lagi,” begitu dia sering berbicara sendiri.

Sampai berhasil. Sampai tak ada seorangpun yang tahu, selain isterinya, betapa dia berhasil mencapai pengajaran Durna.

Pada suatu hari, terjadi keajaiban. Anjing kesayangan Suyudana, yang tertua dari 100 Kurawa bersaudara, tampak.mulutnya menganga. Ada 7 anak panah memenuhi mulutnya. Namun anehnya, anjing ini tidak mati. Jelas sekali, bukan pemanah sembarangan yang membuat “berita” seperti ini.

Bahkan Arjuna, yang paling jago memanah, tidak bisa melakukan teknik memanah seperti itu.

Pada suatu hari, Arjuna sedang berburu kijang betina. Dia membidik, melesatkan panah tepat di leher kijang betina itu. Setelah dia mendekati, ternyata, ada 2 mata panah yang menancap di leher kijang betina itu. Panah satunya adalah milik Ekalaya.

Terjadilah pertarungan dahsyat. Ekalaya bukan hanya mengimbangi kemampuan Arjuna dalam memanah. Ekalaya melampaui Arjuna.

Betapa Arjuna terkejut, melihat jurus dan cara Ekalaya memanah. Terlebih lagi, menatap sosok arca Mahaguru Durna di halaman rumah Ekalaya.

Dan seorang perempuan cantik yang menyaksikan pertarungan itu.

Bersama kekalahan, Arjuna mengadu kepada gurunya, “Siapa pemuda bernama ekalaya itu? Mengapa dia lebih sakti dariku? Mengapa dia bisa memanah dengan mata terpejam? Mengapa dia bisa menarik busur dari belakang punggung lalu memantulkan panahnya di bebatuan, lebih cepat dan tepat mencapai sasaran daripada aku? Apakah mahaguru mengambilnya sebagai murid?”.

Mahaguru durna lebih terkejut lagi. Dia dan Arjuna mendatangi Ekalaya.

Ekalaya meminta maaf, namun tiada maaf. Ekalaya meminta pengertian, namun pengertian tak pernah terjadi dalam menghadapi orang yang benci dan marah.

Durna menuduhnya mencuri pengajaran. Ekalaya mendapatkan hukuman.

Guru Durna menuding ekalaya, “Hei, Ekalaya! Aku telah menolakmu karena sumpahku hanya akan mengajarkan ilmuku kepada Pandawa dan Kurawa. Kamu telah membikin arcaku pula.”

Mahaguru Durna meminta sesuatu yang berharga dari Ekalaya: ibu jari kanannya.

Tidak hanya itu. Arjuna ingin merampas kehormatan isteri Ekalaya.

Murid yang baik itu, merelakan ibu jarinya dipotong dengan sekali tebas. Cras! Darah mengucur deras, dia tak melawan. Lalu mati dalam pertarungan tak-seimbang melawan Arjuna.

Sedangkan isteri Ekalaya menolak Arjuna, memilih mati menyusul Ekalaya.

Dengan kesaktian mahaguru durna, Arjuna mendapatkan ibu-jari tambahan di tangan kanannya. Sejak saat itu, Arjuna memiliki 6 jari di tangan kanan, menjadi pemanah paling sakti, murid mahaguru durna yang paling disayangi di antara murid-muridnya yang lain.

Demikianlah. Ekalaya mati.

Ekalaya hidup dalam rasa bersalah Arjuna, tidak pernah padam. Arjuna akan mencari diri isteri Ekalaya dalam diri perempuan-perempuan yang dia temui. Arjuna tidak membuat arca seperti Ekalaya, namun kelak gurunya akan menjadi lawannya sendiri dalam peperangan Bharatayudha. Dia akan membohongi gurunya atas kematian anak gurunya yang sebenarnya tidak terjadi di peperangan itu. Setelah kematian Ekalaya, Arjuna akan semakin merasa bersalah. Terutama, karena dia tidak bisa melampaui cara Ekalaya dalam belajar.

Hanya arca Durna yang menjadi saksi peristiwa itu.

Siapa yang bersamamu saat kamu sedang belajar? [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.