in

Goa Kreo Semarang Punya Pemandu Wisata, Bisa Cerita Sejarah sampai Hal Mistis

Wisatawan tampak berteduh di dekat gua yang ada di kawasan Goa Kreo Semarang. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Goa Kreo Semarang menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi masyarakat. Goa ini masih satu kawasan dengan Waduk Jatibarang.

Umumnya, wisatawan menghabiskan waktu untuk foto-foto dengan latar belakang goa, waduk, hingga berinteraksi dengan ratusan monyet yang menetap di kawasan Goa Kreo.

Tidak banyak yang tahu kalau sebenarnya di sini ada tour guide atau pemandu wisata.

“Tapi sekarang baru ada saya. Paling biasanya kalau banyak yang minta dipandu, saya ngajak yang lain,” ujar Danu Kasno yang juga Juru Kunci Goa Kreo, Minggu (19/12/2021).

Menurutnya, keberadaan pemandu wisata di Goa Kreo memang personelnya masih terbatas, belum seperti pemandu wisata di Lawang Sewu dan tempat lain yang lebih terkoordinir.

Di sisi lain, belum banyak wisatawan yang meminta jasa pemandu wisata. Namun, sehari-hari, Danu Kasno bertugas di pos informasi Goa Kreo.

“Beberapa ada yang ke sini minta diantar (pemandu wisata). Ada juga yang hanya tanya-tanya di pos,” ungkap Danu yang pada tahun 90-an didaulat sebagai pramuwisata khusus.

Sisi Mistis Goa Kreo

Danu Kasno sendiri tak hanya mahir menceritakan sejarah Goa Kreo, legenda Goa Kreo, berikut tokoh-tokohnya. Namun, ia juga memahami betul sisi “mistis” seputar Goa Kreo.

Dia bercerita, beberapa kali dia ditemui orang yang hendak melakukan ritual di Goa Kreo. “Tapi belum banyak (melayani izin ritual) karena saya kan di sini belum lama,” ungkapnya.

Baca Juga: Juru Kunci Ungkap Banyak Orang yang Izin Ritual di Goa Kreo Semarang

Sebagai Juru Kunci Goa Kreo, Danu Kasno termasuk orang terpilih, meski dia tidak mengakui secara langsung. Jika dilihat dari sejarahnya, Goa Kreo memang selalu mempunyai juru kunci turun temurun.

Dulu, ada juru kunci yang bernama Mbah Jamat. Dia adalah ayah Danu Kasno. Setelah Mbah Jamat meninggal, juru kunci digantikan menantunya yang bernama Mbah Sumar.

Sekarang Mbah Sumar sudah tiada dan masyarakat menghendaki Danu Kasno untuk meneruskan sebagai juru kunci Goa Kreo Semarang.

Sejarah Goa Kreo

Menurut penjelasan juru kunci, sejarah penamaan Goa Kreo berawal dari sebutan “Mangreho” atau “Ngreho” yang diutarakan Sunan Kalijaga kepada kera dalam peristiwa yang kelak melegenda.

Peristiwa bermula saat Sunan Kalijaga hendak mengambil kayu jati untuk membangun Masjid Agung Demak. Namun, ia mendapat kendala. Karena setelah ditebang, kayu menyangkut di tebing dan sulit diambil.

Sunan Kalijaga pun bertafakur dan berdoa di dalam goa. Tidak berselang lama, datanglah empat ekor monyet yang masing-masing berwarna merah, hitam, putih, dan kuning, untuk membantu.

Berkat bantuan monyet, Sunan Kalijaga mampu menghanyutkan potongan kayu jati ke Demak. Sunan beserta rombongan pun bermaksud melanjutkan perjalanan.

Konon, saat itu para monyet meminta izin mengikuti Sunan Kalijaga tetapi dilarang. Kemudian Sunan Kalijaga memberikan perintah agar mereka menjaga goa dengan mengucap “Mangreho”. Para monyet menetap di kawasan tersebut dan beranak pinak.

Jumlah Monyet di Goa Kreo

Sebelumnya, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Goa Kreo Semarang, Mamit Sumitra mengatakan, pada 2019 lalu jumlah monyet di Goa Kreo mencapai lebih dari 300 ekor.

Karena habitat dan cadangan makanan alaminya sangat terbatas, monyet setiap hari diberi makan oleh pihak UPTD. Hal itu penting dilakukan agar mereka tetap terlokalisasi di Goa Kreo.

Sebab, katanya, sudah ada kejadian bahwa monyet kekurangan makanan lalu pergi ke rumah-rumah warga yang ada di sekitar Goa Kreo.

Primata tersebut hidup berkelompok, katanya terbagi menjadi tiga kelompok. Ada yang tinggal di daerah bukit, kemudian ada yang di jembatan dan area atas.

UPTD Goa Kreo berkomitmen untuk terus menjaga ratusan monyet tersebut. Apalagi ia adalah ciri khas dan menjadi daya tarik tersendiri bagi Goa Kreo.

Goa Kreo Dibuka Kembali Setelah Pandemi

Sebagai informasi, wisata Goa Kreo dan Waduk Jatibarang Semarang sudah buka kembali setelah sebelumnya ditutup karena pandemi Covid-19.

Menurut informasi dari petugas UPTD yang ada di kantor, Goa Kreo kembali dibuka pada 19 Agustus 2021.

Sebagai upaya pencegahan Covid-19, wisatawan yang masuk diwajibkan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Semua wajib memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan.

Imbauan disampaikan petugas serta melalui papan pengumuman yang dipasang di berbagai titik.

Salah satu wisatawan, Zakiyah (23) mengaku tidak keberatan dengan adanya kebijakan prokes di Goa Kreo. Justru, katanya, upaya tersebut membuatnya merasa lebih aman.

“Nggak masalah, kan malah jadi aman, tidak takut tertular Covid-19. Apalagi sekarang katanya ada varian baru (Omicron) yang penularannya lebih cepat,” tuturnya. (*)

 

Editor: Ajie MH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.