in

Menghitung Penurunan Kualitas Manusia Kota Semarang Akibat Pandemi COVID-19

Menjadi manusia yang bermartabat, yaitu manusia yang dapat menikmati umur panjang, sehat dan menjalankan kehidupan produktif merupakan rekomendasi lembaga dunia United Nations Development (UNDP), menjadi tujuan hakiki dari pembangunan sebuah negara. (Human Development Report, 1990).

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI) merupakan ukuran yang hingga kini masih digunakan sebagai standar keberhasilan pembangunan manusia suatu wilayah. IPM juga merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja Pemerintah IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU).

Capaian IPM Kota Semarang

Angka IPM 2020 yang dirilis oleh BPS beberapa waktu yang lalu mencatat capaian pembangunan manusia di Kota Semarang menyentuh angka 83,05 dibanding IPM tahun 2019 yang mencapai 83,19.
Kota Semarang menjadi salah satu wilayah yang pada tahun ini mengalami penurunan kualitas manusia dibandingkan tahun 2019. Tahun 2020, kualitas manusia Kota semarang mengalami penurunan sebesar 0,17% atau menurun 0,14 poin. Walaupun demikian menjadikan rata-rata kualitas manusia Kota Semarang yang selama ini memimpin di wilayah provinsi Jawa Tengah ini menjadi turun ke peringkat kedua di bawah Kota Salatiga.

Penurunan yang terjadi ini walaupun dengan 83,05 poin masih berada pada level “sangat tinggi” (IPM di atas 80).

Begini Cara Mengukur Kualitas Manusia

IPM sendiri dibentuk dari tiga aspek dasar, yaitu umur panjang dan hidup sehat (a long and healthy life), pengetahuan (knowledge), dan standar hidup layak (decent standard of living).

Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh Umur Harapan Hidup saat lahir (UHH), yakni jumlah tahun yang diharap dapat dicapai bayi baru lahir untuk hidup, dengan asumsi pola angka kematian menurut umur pada saat kelahiran sama sepanjang usia bayi.

Pengetahuan diukur melalui indikator Rata-rata Lama Sekolah (RLS) dan Harapan Lama Sekolah (HLS). Sementara Standar Hidup Layak dilukiskan oleh pengeluaran per kapita yang disesuaikan, ditentukan dari nilai pengeluaran per kapita dan paritas daya beli.

Aspek Umur Panjang dan Hidup Sehat

Pentingnya kesehatan dalam kehidupan manusia menjadi sebab umur panjang dan hidup sehat dimasukkan dalam komponen pembentuk angka IPM. Naiknya IPM Kota Semarang disebabkan oleh naiknya dimensi kesehatan di mana bayi yang baru lahir tahun ini mempunyai harapan hidup 0,09 tahun lebih baik dibanding tahun 2019. Hal ini merupakan dampak dari perbaikan status kesehatan masyarakat, termasuk peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Karena peningkatan angka harapan hidup tidak hanya soal umur panjang, tetapi juga soal hidup sehat.

Aspek Pengetahuan

Aspek pengetahuan dibentuk oleh dua indikator, yaitu Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS). Kedua indikator ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Meningkatnya Harapan Lama Sekolah menjadi sinyal positif bahwa semakin banyak penduduk Kota Semarang yang bersekolah dengan capaian kelas yang lebih tinggi.

Aspek kedua ini juga memperlihatkan kenaikan, di mana anak usia 7 tahun memiliki peluang untuk menamatkan pendidikan mereka hingga lulus D3 mencapai 15,52 tahun, atau meningkat 0,01 tahun. Sedangkan penduduk 25 tahun ke atas secara rata-rata telah menempuh pendidikan selama 10,53 tahun (SMA Kelas 1), atau meningkat 0,01 tahun jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang tercatat sebesar 10,52 tahun.

Pertumbuhan yang positif ini merupakan modal penting dalam membangun kualitas manusia di Kota Semarang yang lebih baik.

Aspek Standar Hidup Layak

Aspek terakhir yang mewakili kualitas hidup manusia adalah standar hidup layak yang direpresentasikan dengan pengeluaran per kapita. Pada tahun 2020, sedikit menjadi hambatan IPM Kota Semarang tahun ini untuk bisa melaju lebih tinggi. Ini ditunjukkan oleh rata-rata pengeluaran perkapita penduduk Kota Semarang pada tahun ini mengalami penurunan sebesar 307 ribu rupiah atau menurun 1,97 persen.
Penurunan pengeluaran perkapita ini menunjukkan bahwa Wabah COVID-19 yang melanda dunia khususnya di Kota Semarang sejak Maret 2020, telah menekan ekonomi dan berdampak pada menurunnya sebagian besar pendapatan penduduk Kota Semarang. Hal ini juga berimbas pada menurunnya pengeluaran rumah tangga secara umum.

Bukan Sekadar Meningkatkan

Ketika IPM dapat dimaknai dari dua sisi yaitu sisi kecepatan dan statusnya maka dengan melihat kondisi tersebut mengindikasikan bahwa selama kurun waktu setahun terakhir upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam meningkatkan pembangunan manusia mengalami perlambatan. Dengan anggaran yang lebih tinggi dibanding dengan tahun sebelumnya, Kota Semarang ternyata belum menunjukkan hasil seperti yang diharapkan.

Kota Semarang sebagai salah satu episentrum pandemi COVID-19 ternyata telah mampu mengganggu kualitas hidup penduduknya. Utamanya ini dipengaruhi oleh tingkat konsumsi masyarakatnya yang cenderung rendah, akibat pendapatannya yang terganggu oleh pengurangan jam kerja, dirumahkan ataupun kehilangan pekerjaan akibat PHK.

Perlu diingat, sektor industri sebagai sektor utama penentu ekonomi di Jawa Tengah dan Kota Semarang yang sebagian besar industri padat karya menjadi salah satu sektor paling terdampak pandemi COVID-19.

Bantuan sosial belum sepenuhnya mampu menutup pendapatan masyarakat dan belum mampu mengangkat daya belinya menjadi situasi kembali seperti semula.

Pemerintah Kota Semarang perlu mengkaji lebih mendalam, dalam mengevaluasi dan merencanakan segala kebijakan yang tepat dalam rangka memulihkan ekonomi masyarakat dengan meningkatkan pelayanan publik yang prima dan tata kelola, peningkatan pelayanan kesehatan serta kecukupan pangan dan gizi, meningkatkan produk unggulan yang berkontribusi nyata pada perekonomian dalam menyerap tenaga kerja untuk menjawab tantangan era bonus demografi serta penerapan hidup sehat dengan pemenuhan fasilitas dasar terciptanya lingkungan dan gaya hidup sehat.

Sejatinya, IPM adalah indikator dampak di mana kebijakan yang diambil saai ini baru dirasakan betul hasilnya beberapa tahun mendatang. [dm]

Agusthina Ouwpoly