in

Maaf, Saya Tidak Percaya Buku-buku Kamu..

Agar kamu tidak “tersesat” ketika membaca buku-buku manajemen sukses dan trasnformasi mental..

Banyak buku manajemen mengajak orang bangun, menjalankan ritual, memulai produksi: berolah-raga, tidak sentuh hape, dan menikmati sarapan. Sebagai pemantapan, mereka mengutip kebiasaan orang-orang sukses yang memiliki ritual pagi (morning ritual).

Saya tidak terlalu setuju. Tidak semua orang memiliki pola-kerja sama.

Ada ribuan orang di kota saya, misalnya, yang bekerja di malam hari. Termasuk saya. Ada orang yang haris melek untuk berpatroli, mencari ikan, bekerja di pabrik, piket, lembur, melakukan perjalanan, berjualan, dll. Saya menunggu update, menyelesaikan pekerjaan, dan berkomunikasi dengan orang di zona waktu berbeda-beda.

Tidak perlu melebih-lebihkan pagi sebagai keharusan untuk bangun. Saya malah memulai tidur di pagi hari. Tanpa kehilangan moment fajar dan menyapa orang sebentar. Hidup saya tidak ada masalah sampai sekarang. Waktu produktif setiap orang itu tidak sama.

Ada yang produktif di sore hari, malam hari, siang, tidak selalu bermula dari pagi. Termasuk masalah sarapan dan tidur.

Tidak harus memakai pola yang diterapkan kebanyakan orang. Saya tidak menyamakan tubuh semua orang dengan “disiplin” sama. Sebaliknya, tugas setiap orang adalah mengenali tubuhnya sendiri. Bukan menyamakan tubuhnya dengan tubuh orang lain.

Saya pernah dapat larangan tidur di pagi hari, katanya rejeki bisa seret kalau tidur di pagi hari. Tidak. Tergantung pola kerja kamu.

Para pemuja ritual pagi sering beranggapan, bahwa tubuh manusia memiliki “jam biologis”. Benar, saya setuju, namun tidak harus sama.

Saya akan buktikan.

Kebanyakan orang beranggapan, kalau makan tidak teratur, akan berakibat tubuh sakit. Misalnya, terkena maag.

Salah. Mereka lupa, bahwa maag terjadi justru karena orang makan rutin di jam yang relatif hampir sama. Ketika seseorang makan setiap jam 07.00 AM (pagi), secara terus-menerus, maka lambung mereka akan meremas (ini disebut gerakan peristaltik), sehingga perut mereka sakit ketika lambung meremas tanpa ada makanan di dalamnya (dalam kasus ini, tidak sarapan).

Sakit mereka terjadi justru karena pola makan rutin. Saya lebih sering tidak sarapan. Hanya makan nasi sekali, memperbanyak protein, dan menghindari zat aditif dalam makanan.

Sampai sekarang, saya bisa dibilang sebagai orang yang makan di jam yang tidak teratur, namun merasa sehat, tidak pernah kena sakit berat. Selain menjaga makanan, “metode” makan nasi 1 kali sehari sudah menjadi tradisi ribuan tahun para bhiksu.

Tidur juga demikian. Dalam sehari-semalam, orang normal tidur 6-8 jam, non-stop. Saya sudah lebih dari 20 tahun tidak menggunakan pola tidur semacam itu. Saya tidur setiap 4 jam sekali dan mamakan durasi antara 30-60 menit.

Saya mempelajari teknik tidur seperti ini, agak lama. Dengan pembiasaan dan teknik, akhirnya tidur ini lebih menyehatkan bagi saya.

Buku-buku manajemen selalu menyebutkan, “Tidurlah yang cukup. Beri waktu bagi pikiran untuk istirahat. Bangunlah dalam keadaan fresh.”.

Bukan itu masalahnya.

Selagi orang tidak melatih cara mereka tidur, sebagaimana cara mereka makan sehat, maka tidur berkualitas jarang mereka dapatkan.

Produktivitas itu bukan soal pagi atau tidak. Produktivitas itu tentang efisiensi dan efektivitas. Dan tidak harua bermula dari pagi.

Seseorang yang bisa tertawa dan mengatasi masalah, sejak bangun tidur, dan terlatih menghadapi kekacauan, akan lebih produktif daripada orang yang mengikuti pola produktif orang lain. Tidak perlu melebih-lebihkan keberhasilan CEO dan pribadi yang dipuja di dunia manajemen. Produktivitas bermula dari pikiran dan tubuh kamu.

Singkatnya, banyak orang memilih mengikuti pola produktivitas orang lain, tetapi mereka sebenarnya memaksakan-diri, menjadi “sebagaimana orang lain”.

Termasuk ketika mereka mengikuti saran dari buku dan artikel tentang produktivitas.

Banyak buku tentang bisnis, transformasi mental, dll. Mereka perlu perlakuan hampir sama.

Agar tidak “tersesat” dalam buku-buku manajemen, saya punya tips..

Ketika baca-baca buku manajemen, transformasi mental, bisnis, dll. itu, jangan terlalu larut di dalamnya. Jangan tergoda berdasarkan simulasi, angka-angka menakjubkan, dan permainan grafis. Data adalah data. Bersikaplah realistis. Jangan terkena bias “narasi”, di mana kamu membayangkan sebuah cerita yang kuat, berdasarkan apa yang tertulis di buku itu.

Terapkan QEC Cal Newport

Kamu bisa baca secara scanning. Terapkan QEC Cal Newport. Question, evidence, conclusion. Intinya, buat pertanyaan, apa yang kamu cari, kemudian temukan di halaman mana. Buku-buku bisnis, yang laris di Amazon, selalu enak dibaca. Mudah kamu ingat poin gagasan buku itu. Jadi, kamu bisa temukan jawaban dan membawanya pulang ke rumah-ingatan kamu.

Perhatikan Konteks

Saya tidak percaya generalisasi. Tidak percaya tips terbaik. Misalnya, banyak buku menceritakan tentang ritual pagi, betapa pentingnya pagi, dst. Menurutku, tergantung pada konteks. Orang punya siklus, jam biologis, pekerjaan, dan kehidupan berbeda-beda.

Pernah baca artikel yang bilang, bahwa keberhasilan posting kamu, dipengaruhi jam berapa kamu posting, kan? Memang benar. Tetapi, perhatikan konteks: dia bicara untuk pembaca di Amerika atau Indonesia? Contohnya begitu. Banyak orang gagal meniru apa kata artikel dan buku, karena mereka tidak perhatikan konteks.

Artikel yang dibuat dengan budaya Amerika, dengan pola hidup (termasuk hobi) orang Amerika, sering tidak bisa diterapkan di Indonesia.

Hidup kamu bukan untuk meniru hal terbaik dari dalam buku itu, tetapi, membuat hidupmu sendiri agar tidak kembali kepada default. Ciptakan sesuatu yang “work” dan terbukti bisa kamu jalankan.

Apakah Kalau Saya Berubah, Hidup Saya Tidak Berantakan?

Berubah, jangan terlalu drastis. Setidaknya, jangan buat hidupmu yang sekarang menjadi sepenuhnya berantakan.

Misalnya: ada buku yang bilang kalau usaha kamu butuh modal, kemudian kamu ambil pinjaman di bank sampai semua asetmu kamu jadikan jaminan, itu namanya hidupmu yang sekarang berantakan. Berubah baik itu bisa diskala, bisa dari yang esensial, yang kecil. Kalau ada buku yang bilang kamu harus “berpindah total” atau “ubah segalanya”, itu sangat tidak realistis.

Sikap dalam Membaca..

Jika buku itu sedang memberitahukan “cara”, pikirkan selalu bagaimana menjadi “lebih efisien” dan “lebih efektif”. Itulah kunci produktivitas.

Setiap orang itu unik, demikian pula orang lain. Jangan mengadu-domba dirimu dengan semua orang. Jadilah unik bagi diri kamu sendiri. Tentukan seperti apa model mental kamu.

Nikmati dan hargai hidup kamu sendiri. Hidup bukan soal apa yang kamu miliki, tetapi tentang apa yang bisa kamu nikmati. Istirahat dan bersenang-senang, jadikan bagian dari hidupmu. Setiap masalah mengandung kesempatan. Jika kamu merasa di puncak, di atasnya ada puncak.

Bicara secara positif. Kuasai diri kamu. “Saya bisa lakukan ini”.

Berharga itu tentang bagaimana kamu belajar. Kalau kamu pelajari teknologi dan manfaat laptop, kamu akan menghargai laptop kau. Kerjakan apa saja, sesuai versi kamu. Sekalipun ada 1000 manual kamu baca, ringkas dan buat untuk dirimu sendiri. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.