in

Bio Saka Pupuk Ajaib Bantu Petani Jagung

Dengan menerapkan pupuk organik yang dibuatnya diharapkan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia akan hilang.

Bupati Demak diajari cara membuat pupuk organic bio saka. (istimewa)

DEMAK (jatengtoday.com) – Susahnya mendapatkan pupuk bersubsidi di Demak langsung dijawab oleh Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Dr Ir Suwandi Msi Dirjen yang kemarin melakukan kunjungan kerja ke Desa Pundenarum Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak.

Dalam kesempatan itu Suwandi mempersilahkan para petani untuk membuat pupuk alami Biosaka yaitu pupuk organik yang terbuat dari bahan alami yaitu rumput. Biosaka yang kepanjangan dari Selamatkan Alam Kembali ke Alam ini ternyata sudah banyak dibuat dan dimanfaat petani di Blitar Jawa Timur dengan hasil yang lebih memuaskan dari pada tanaman yang memakai pupuk kimia.

Dengan adanya inovasi yang dilakukan para petani petani di Blitar ini, pihak kementrian mencoba menularkan pupuk organic bio saka ke petani lainnya di tanah air, salah satunya kepada petani-petani di Demak yang selama ini mengalami ketergantungan terhadap pupuk kimia yang efeknya kedepan merusak tanah pertanian sehingga dikawatirkan anak cucu mereka sudah tidak bisa mempergunakannya lagi untuk bercocok tanam.

“Apa yang bisa saya berikan dan dedikasikan kepada petani setelah pensiun, mengeluh pupuk kurang langka mahal kamu ngasih pupuk itu pupuk kimia sintetis ngasih racun ke tanah ke air cacing habis mikroba habis tapi menuntut hasil yang banyak, padahal tanah ini untuk diwariskan ke anak cucu apakah tega mewariskan ke anak cucu tanah yang tandus dan gersang,” ujar Suwandi.

Untuk itu pihaknya berencana mengurangi pupuk kimia sintetis bersubsidi sampai 50%, karena saat ini masih banyak petani menggunakan 300kg pupuk kimia untuk tanah pertanian mereka yang jelas-jelas meracuni tanah. Padahal dengan pupuk organic bio saka yang mereka perkenalkan para petani hanya memerlukan pupuk kimia sintetis sebanyak 30 kg saja.

Hal ini tentunya sudah sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang mengharapkan bahwa petani kita harus berinovasi dalam segala hal.

“Jajaran Kementan harus terus bersinergi dengan dinas Provinsi, Kabupaten dan pemerintah daerah untuk turut serta mengawal dan mendukung agar pertanian kita lebih maju, mandiri dan modern,  dalam menerapkan pertanian  ramah lingkungan yang tahan dalam perubahan iklim yang tidak menentu,” ujar Suwandi.

Sementara itu Anshar selaku petani dan pembuat Biosaka mengungkapkan bahwa hal ini adalah sebuah contoh inovasi dari dirinya untuk para petani di Indonesia. Dengan menerapkan pupuk organik yang dibuatnya diharapkan ketergantungan petani terhadap pupuk kimia akan hilang.

Lebih lanjut Anshar mengatakan dirinya yakin Nutrisi Biosaka yang  dibuat bisa menghilangkan ketergantuan para petani dari pupuk bersubsidi (kimia) dan  sudah terbukti biaya produksi jadi hemat sekitar 3 juta.

” Biasanya uangnya untuk beli pupuk kimia, sekarang bisa buat sendiri di rumah cukup dengan 5 menit dan hasil panennya pun naik signifikan, cara membuat pupuknya pun mudah dengan rumput dan air”. terang Anshar.

Menurutnya Biosaka terbuat dari rerumputan yang dicampur dengan air lalu dihancurkan . Setelah itu bisa langsung di aplikasikan di lahan untuk semua jenis tanaman. Untuk pemilihan rumput harus memakai rumput yang sehat yang tidak tercampur bahan kimia dan harus diketahui masa pertumbuhan rumput berada di fase vegetatif atau generatif.  Dan rumputnya pun harus minimal ada 5 jenis.

Biosaka Sendiri tidak hanya untuk tanaman padi saja, tapi juga sudah di coba di tanaman lain seperti, kopi, alpukat, durian, jagung, dan kedelai. (*)

Ajie MH.