in

Bersama Lestari Moerdijat, Tokoh Lintas Agama di Semarang Bahas Narasi Kebangsaan

Lestari Moerdijat menyinggung tentang menurunnya kesadaran berbangsa dan bernegara.

Tokoh lintas agama di Semarang bersama Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat berdiskusi dalam acara Dengar Pendapat Masyarakat di kantor DPW Partai NasDem Jateng. (baihaqi/jatengtoday.com)

SEMARANG (jatengtoday.com) — Perwakilan tokoh lintas agama di Semarang bersama Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat membahas tentang narasi kebangsaan untuk generasi muda.

Dalam acara Dengar Pendapat Masyarakat itu, penulis buku “Potret Moderasi Pesantren” Badruz Zaman menjelaskan narasi kebangsaan dari kacamata agama Islam secara moderat.

Menurutnya, yang dimaksud secara moderat adalah bagaimana mengedepankan toleransi, menghargai pendapat, dan mengutamakan kemanusiaan.

Badruz mengajak anak-anak muda menghargai keberagaman dari hal-hal kecil, termasuk saat menghargai pendapat orang lain dan menerima apabila pendapatnya sendiri tidak diterima orang lain.

Semua itu, katanya, merupakan salah satu upaya untuk menolak paham radikalisme.

“Kalau radikal itu pendapatnya selalu ingin diterima dan tidak ingin mendengar pendapat orang lain. Nah ini yang harus dihindari,” ujar Badruz dalam acara yang berlangsung di kantor DPW NasDem Jawa Tengah, Sabtu (27/11/2022).

Pembina Pemuda Katolik Semarang Deni Tridono menegaskan, pentingnya masyarakat untuk meneguhkan nilai-nilai kebangsaan.

Dia mencontohkan dengan perilaku yang menyerang nilai-nilai kebudayaan yang berujung pada pertikaian. Jika tidak dicegah, persatuan Indonesia yang luhur akan luntur.

Sementara itu, Lestari Moerdijat yang hadir secara daring sempat menyinggung tentang fenomena menurunnya kesadaran berbangsa dan bernegara.

Pasalnya ada doktrin tertentu yang bertentangan dengan pemahaman yang dimiliki oleh masyarakat sehingga muncul intoleransi. Lestari menegaskan perlunya memperkuat akar bangsa.

“Kita punya yang disebut sebagai konsensus kebangsaan yang disebut sebagai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika. Maka dalam dua pilar penting itulah masyarakat harus berpijak,” ungkapnya.

Lestari menjelaskan, keberagaman di Indonesia terjadi antara lain karena perbedaan letak geografis wilayah. Keberagaam ini mempunyai dampak positif dan dampak negatifnya.

Menurutnya, apabila keberagaman tidak dikelola dengan baik maka bisa memicu ketidakharmonisan yang menyebabkan perpecahan.

“Mempertahankan kesatuan dan persatuan adalah keniscayaan. Ini menjadi tugas kita semua,” ungkap Lestari. (*)

editor : tri wuryono