in

Mereka Mencari Pembenaran untuk Berbuat Baik

Apakah perbuatan kamu membutuhkan pembenaran dari quote orang lain?

(Credit: Bonnie Kittle, Unsplash)

Salah satu keanehan nomor 666 di dunia, ketika saya melihat Beranda Facebook berisi meme, berupa foto dan quote kata-kata baik dari orang terkenal. Terutama, ketika kebaikan itu “sangat biasa” dan tidak membutuhkan quote, tidak membutuhkan dalil.

Berbuat baik kepada tetangga, pentingnya berdoa, jujur dalam berdagang, apakah membutuhkan quote? Kalau bicara “bagaimana caranya” (how to), grafis itu penting, namun untuk “nilai” atau tujuan, apakah itu penting? Sungguh aneh, kalau saya berbuat baik kepada tentangga, harus pakai quote.

Ingin itu mudah. Saya ingin bisa bercerita, tentang bagaimana saya memahami dunia. Sebatas yang saya bisa, sebatas “sekarang”.

Cerita yang saya ingin buat, adalah cerita yang bertahan, menciptakan perbedaan, dan diteruskan orang lain.

Saya sering mendengar, orang bertanya kepada orang yang tidak tahu cerita sebenarnya. Hanya karena seseorang terkenal, bukan berarti ia memiliki otoritas atas cerita itu. Bertanyalah kimia kepada ahli kimia. Bukan kepada komentator atau budayawan atau seniman yang tidak tahu kimia.
Cerita orang lain tidak terlalu membutuhkan kehadiran saya. Cerita memiliki otoritasnya sendiri. Masalah terjadi, ketika orang yang berkuasa, mengendalikan cerita.

Itu politik. Dalam kantor, terjadi politik. Ketika seseorang menjalankan ambisi pribadi, membuat penafairan atas sejarah, menyimpangkan peran untuk menampilkan peran, dan mengendarai “cerita” demi kepentingannya.

Ketika cerita saya disimpangkan, hanya karena orang itu bilang pernah menyaksikan atau bersama saya ketika cerita itu terjadi, seperti itulah politik.

Cerita yang baik, tidak membutuhkan otoritas seseorang, agar diakui sebagai cerita yang baik.

Abaikan “siapa” di balik cerita, jalankan “apa” cerita itu. Dan kamu tidak perlu legitimasi cerita, hanya untuk melakukan kebaikan.

“Lihatlah, orang terkenal melakukan ini. Tokoh X menyarankan kebaikan ini.”.

Itu tindakan mereka. Kamu tidak hidup untuk meniru mereka. Kamu tidak lantas menjadi benar di konteks hidup kamu sekarang, dengan mengutip mereka.

Lebih baik, buat tawaran kepada orang. Ajari mereka mengatasi masalah mereka. Jelaskan sebisamu, yakinlah itu bermanfaat bagi mereka. Berbuat baik, lakukan saja. Sesuatu yang sudah jelas, seperti menolong tetangga, tidak membutuhkan dalil agama.

Tindakan baik, sebaiknya terjadi bukan karena legitimasi cerita. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.