in

Belajar Anak Lintas Agama, Bekerja dengan Gembira Buat Dunia Lebih Indah

Mereka membangun kerukunan dalam keberagaman sejak usia dini.

Semai #4 diselenggarakan oleh EIN Institute, Ikatan Karya Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR), Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), dan EduHouse dan didukung oleh Marifood. (Dok. Semai)

SEMARANG (jatengtoday.com) – Puluhan anak berlatar belakang lintas agama, mulai dari Islam, Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Konghucu dan penghayat kepercayaan mengikuti kegiatan Anak Semarang Damai (Semai) di Kapel Susteran Ordo Santo Fransiskus (OSF) Gedangan Semarang, Minggu (1/10/2023).

Ini menjadi angkatan ke-4 setelah sebelumnya digelar di Klenteng Tay Kak Sie 2018 dan Pura Agung Giri Natha 2019, serta Vihara Tanah Putih pada 2022. Dalam suasana keakraban, mereka mengenakan baju dengan gambar dan tulisan “Semaikan Cinta dalam Keberagaman”.

Ketua IKHRAR Rayon Semarang, Heri Irianto, mengatakan tema kali ini mengajak anak-anak mengenali nilai-nilai luhur dalam tradisi membiara para suster OSF. “Di situ ada nilai pengabdian kepada orang miskin, kepedulian lingkungan hidup, sikap gembira dalam bekerja dan seterusnya,” terangnya.

Melalui kegiatan seperti ini, anak-anak bisa berkenalan dan mendapat teman baru dari berbagai latar belakang agama. “Mereka juga belajar tentang tradisi spiritual yang jarang diberitakan,” katanya.

Direktur Eksekutif EIN Institute, Ellen Nugroho mengatakan materi dalam kesempatan tersebut sebetulnya berkategori berat. Namun dengan melibatkan fasilitator yang disiapkan, materi berat itu disampaikan dengan secara ringan.

“Keakraban, interaksi yang aktif membuat kegiatan ini seru. Ini membantu anak-anak itu lebih paham tentang keberagaman,” terangnya.

Para fasilitator membantu mereka dengan membuat kelompok-kelompok diskusi kecil. Mereka juga diajak untuk melihat replika kapal Jacoba Cornelia yang dulu dinaiki sebelas orang suster OSF saat datang pertama kali dari Belanda ke Semarang pada 1870. Melihat bangunan Susteran Gedangan, riwayat singkat hidup Santo Fransiskus dan Suster Magdalena Daemen yang mendirikan OSF, serta seluk-beluk kehidupan membiara.

“Fasilitator juga memandu peserta untuk mengelilingi museum Rumah Studi Misi OSF. Mereka bisa melihat-lihat benda bersejarah, gambar, memorabilia yang menggambarkan perjalanan misi para suster OSF di dunia dan di Indonesia. Baik di bidang pendidikan, kesehatan, maupun layanan sosial,” katanya.

Setiap kelompok anak juga diminta membuat vlog masing-masing yang menceritakan ulang pengalaman mereka selama belajar dalam kegiatan tersebut.

Suster Franciana OSF berpesan kepada para peserta akan pentingnya menjaga kerukunan, persahabatan di tengah kerukuran.

“Kita semua mendapatkan panggilan untuk berbuat baik kepada sesama. Mari bekerja dengan gembira untuk membuat dunia ini lebih indah,” tuturnya.

Koordinator Pelita Setyawan Budy mengatakan betapa pentingnya merawat perdamaian dan kebhinnekaan. Terlebih menjelang Pemilu 2024. “Kita semua perlu terus mengeratkan jalinan persahabatan, agar Semarang bisa menjadi contoh wujud nyata kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis. Mari nyalakan pelita, daripada mengutuki kegelapan,” katanya.

Semai #4 diselenggarakan oleh EIN Institute, Ikatan Karya Hidup Rohani Antar Religius (IKHRAR), Persaudaraan Lintas Agama (Pelita), dan EduHouse dan didukung oleh Marifood. (*)

Abdul Mughis