in

Bayi di Bawah 2 Tahun yang Mengajari Orang Dewasa

Ternyata, bayi yang belum bisa bicara ini memberi pembelajaran terdalam dan kebijaksanaan kehidupan.

(Image: DALL-E).

Bayi yang belum bisa bicara. Senyum dan tawa. Ia senang ketika kita cilukba. Kita tidak mengerti, hanya menebak apa yang ia suka, kemudian tidak terlalu peduli semua itu, hanya berharap ia akan tersenyum dan tertawa. Apapun alasannya, tindakan bayi itu membuat kita terlena, “Aku suka senyum dan tawa kamu”. Ia menangis, pada moment tertentu. Ketika lapar, mengantuk, atau perlu ganti popok.

Kita suka gerakan kecil, komunikasi tanpa balasan kata-kata. Ia sepenuhnya menjalankan aktivitas menangis, pada saat yang tepat. Suara yang tidak pernah menjengkelkan. Saya ingat betapa membahagiakan, bayi itu bisa meluruhkan beban dunia yang sedang di pundak kita. Lelah hilang. Penat terangkat seketika.

Kita memuji dengan senang hati, betapa ganteng atau cantik bayi kecil ini. Ia bisa memerintahkan tangan kita untuk menyalakan lampu, memberikan kehangatan, meminta orang lain merendahkan suara, hanya demi ketenangan, demi momen di mana ia sedang menikmati waktunya.

Tatapan mata bayi itu, membuat kita menangis dalam hati, merasa bersalah, ingin memberinya yang-terbaik. Tatapan mata bayi itu, membuat kita tertawa dalam hati, menciptakan taman tempat kaki kita berlari begitu bebas.

Bayi ini mengajari kita melihat dan merasakan keajaiban dunia. Betapa kita melupakan hal-hal kecil, seperti tawa, suara lembut, dan tanpa-kata. Ketika ia menatap wajah lawan-bicara, kita menjadi telanjang. Kita suka dan membiarkan tangannya meraih wajah kita. Kulitnya yang halus, suara, yang penting bersuara, betapa menenangkan telinga.

Rasa angkuh datang sesekali. Kita merasa lebih duluan, lebih tahu, dan lebih bisa menjelaskan dunia sekeliling. “Ini ibu kamu. Ini rumahmu. Kami bisa penuhi permintaanmu. Semua orang di sini, menyayangi kamu.”

Sebatas kata atau bukan, kita senang ketika ia seperti mengerti, “Lihatlah, tangannya melambai. Ia suka memandangi gambar bunga di selimut ini.” Kita menjadi ibu, menjadi kawan, menjadi seseorang yang punya waktu penuh, walaupun semenit dua menit, untuk menggodanya.

Kita sering mengabaikan apa yang ia pandang, yang sering kita jelaskan penalaran dan cerita tentang terjadinya benda-benda dan manusia di sekitarnya.

Kita mengajarinya kata, kata, dan kata. Bayi ini mengajarkan, tentang perhatian. Traction, bukan distraction. Ketika ia meraih mainan, ia tidak pedulikan yang lain. Ia sanggup menganggap apa saja sebagai mainan. Mencoba, tanpa kenal menyerah. Rasa suka yang tidak mau berhenti.

Orang-orang dewasa tidak mengerti, bagaimana rasa senang bisa datang, hanya dengan menatap jendela, hanya dengan melihat wajah ibunya, hanya dengan meraih jari yang bisa ia genggam erat sekali. Orang-orang dewasa terlalu mencari hal-hal besar. Tenggelam dalam konsumsi informasi. Memberi cerita lengkap.

Tidak. Bayi ini seperti membelah setetes air, menemukan rahasia air, sehingga bisa melewati tujuh samudera. Rasa ingin tahu, itulah yang mengantarnya pada mimik cerita, tanpa kenal lelah. Jarang sekali orang dewasa yang sanggup menerapkan minimalisme seperti itu. Orang-orang di sekelilingnya, tidak berhenti terkagum-kagum. “Wajah boneka. Mirip ibunya. Senyum cerah.”

Tiba-tiba ia bisa menjadi sangat pendiam. Mengabaikan orang lain. Bahkan mengabaikan orang-orang yang ingin mencintai bayi ini. Tenggelam ke dalam pikirannya yang sedang terbentuk. Ia menikmati momen. Bisa menerawang ke arah yang jauh, secara tiba-tiba. Bisa tidur begitu saja. Bisa cepat sampai ke apapun yang ia inginkan, tanpa banyak pengkondisian.

Bayi ini sangat hebat, sanggup menikmati dunia luar, seperti: halaman rumah, jalan pagi yang sepi, laut, ia menikmati tanpa kata-kata. Lihatlah caranya melihat, tangan yang bergerak sendiri, kaki yang mau melompat. Cara bayi ini mengalami momen keajaiban, dalam hidupnya, membuat kita mengalami momen keajaiban. Betapa ia mengerti cara membangkitkan inspirasi.

Kamu tahu bagaimana ia melakukan itu? Dengan selalu menikmati momen pertama dan menganggap pembelajaran sebagai momen pertama. Semua hal berpotensi menjadi yang pertama baginya. Ini kreativitas dan fokus yang sebenarnya.

Kalau kamu mau belajar bicara, dengan bahasa yang belum kamu mengerti, jangan terlalu lama di dalam kelas. Lakukan perbincangan dengan bahasa yang sedang kamu pelajari. Setiap saat, bayi ini melakukan pembelajaran. Selalu menjadi pemula. Tidak merasa tahu. Tidak takut salah. Melakukan dan melakukan. Bukan sekadar mencoba.

Bayi ini sanggup mengarahkan dirinya sendiri, dengan insting, dengan gerak. Ia tidak melihat posisi sosial orang-orang yang mendekatinya. Ia mengenal makanan, sekaligus mencoba yang bukan-makanan.

Ia menjadi pembicara yang semua orang dengan latar-belakang bahasa apapun, membuatnya mengerti apa yang ia “ucapkan”.

Bayi ini berada dalam klasifikasi. Anak siapa, beragama apa, kelak akan berada di circle mana, dst. Orang-orang ingin menentukan, namun lihatlah, bagaimana ia menyatakan pendapatnya sendiri, tanpa peduli status quo. Ia berpendapat bahwa kamar ini tidak menyenangkan, kemudian mengajakmu berpindah.

Bayi ini takut pada situasi tertentu, tetapi tidak pernah takut menyampaikan pendapat.

Sekali lagi, betapa mudah kita melupakan detail kecil, kalah jauh dengan bayi ini, namun kita memiliki peran yang sudah ditentukan. Bayi ini pemilik masa depan. Kita di sekitarnya, hanya meminjam masa depan, di mana kita bisa memberinya yang terbaik, mengajarkan yang terpilih, dan merawat calon penguasa dunia.

Kita menua, terlalu mudah mengucilkan diri, memilih berhenti, energi terkikis, mudah menyerah karena lelah, rentan dengan pilihan, dengan perhatian yang sering dibajak iklan.

Kita akan mendapatkan timbal-balik lebih besar, jika memberi yang terbaik untuknya. Mengajarkan hal-hal buruk, akan menuai hal-hal buruk. Berikan yang terbaik, maka..

Bayi ini kelak akan mengajari kita pengetahuan, karena ia bisa menjadi lebih pintar, melampaui orang-orang yang menjunjung dan menggendong dirinya. Bayi ini kelak akan mendoakan kita. Bayi ini bisa punya segalanya, kalau kita rela memberi yang terbaik dari diri kita.

Kepada bayi ini, ternyata kita bisa belajar banyak hal. Bayi ini belum berusia 2 tahun, sudah banyak mengajari orang dewasa.

Bayi seperti ini, ada di mana-mana, bahkan masih banyak yang sedang berada di dalam kandungan. Kita mendapatkan misi yang bukan rahasia, untuk mengkondisikan masa depan terbaik, bersama bayi ini.

Takeaway

Hadir Penuh. Seperti bayi yang selalu hidup di momen, pelajari untuk hadir sepenuhnya dalam setiap situasi, menghargai sekecil apapun momen tersebut.

Kurangi Prasangka. Bayi mendekati dunia tanpa prasangka atau ekspektasi. Cobalah untuk melihat situasi dan orang baru dengan pikiran terbuka, tanpa membiarkan pengalaman masa lalu terlalu mempengaruhi penilaian kita sebagai orang dewasa.

Kebahagiaan dalam Kesederhanaan. Bayi menemukan kebahagiaan dalam hal-hal kecil. Pelajari kembali untuk menghargai kesederhanaan dan menemukan kegembiraan dalam detail kecil kehidupan sehari-hari.

Belajar Melalui Eksplorasi. Bayi belajar dengan mencoba dan menjelajah. Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman Anda dan belajar melalui pengalaman langsung.

Ekspresi Otentik. Bayi mengekspresikan diri mereka secara otentik tanpa takut dihakimi. Cobalah untuk lebih otentik dalam ekspresi perasaan dan pikiran Anda.

Perhatian Penuh. Seperti bayi yang terpaku pada satu mainan atau aktivitas, praktikkan perhatian penuh dalam tugas dan interaksi kita, meningkatkan fokus, dan mengurangi distraksi (gangguan).

Ketahanan dan Ketekunan. Bayi tidak menyerah mudah ketika belajar berjalan atau berbicara. Ambil pelajaran dari ketahanan dan ketekunan mereka ketika menghadapi tantangan.

Menikmati Proses Belajar. Bayi selalu dalam mode pembelajaran, menikmati setiap kesempatan untuk tumbuh. Jadikan pembelajaran seumur hidup sebagai bagian dari perjalanan kamu, bukan hanya tujuan akhir.

Koneksi Tanpa Kata. Bayi berkomunikasi dan terhubung dengan orang lain tanpa kata-kata. Pelajari nilai koneksi non-verbal, seperti sentuhan dan ekspresi wajah, dalam memperdalam hubungan dengan orang lain.

Hidup Tanpa Praduga Status Sosial. Bayi tidak membedakan orang berdasarkan status sosial. Praktekkan melihat setiap orang sebagai individu unik, menghargai mereka tanpa mempertimbangkan latar belakang atau status mereka.

Mengadopsi pelajaran dari bayi bukan hanya tentang mengasuh anak tetapi juga tentang mengasuh diri sendiri dan hubungan Anda dengan dunia. Kembalilah ke esensi ini, dan temukan-kembali keajaiban dalam kehidupan sehari-hari. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.