in

Batman, Depresi Selebritas, dan Ruang Publik

Banyak selebritas pembela “kebenaran” bergaya Batman, namun media sosial bukanlah ruang publik.

U2 melantunkan “Hold Me, Thrill Me, Kiss Me, Kill Me”, produksi Atlantic Record, 1995.

Ini lagu tentang depresi selebritas dan kejamnya para penggemar. Menariknya, karena tema ini menjadi oginal soundtrack (OST) film “Batman Forever”, tahun 1995. Kali pertama saya menonton film di Atrium 21, jauh sebelum ada media sosial.

Teriakan U2 masih terdengar lantang, dengan lirik puitis dan aransemen keren, terutama permainan semiotika dan ikonografi di videoklip ini, mereka menjadikan panggung sebagai teater.

Mari menyimak liriknya.

Hold Me, Thrill Me, Kiss Me, Kill Me

U2

you don’t know how you took it, you just know what you’ve got. oh lordy, you’ve been stealing, from the thieves and you got caught. in the headlights of a stretch car, you’re a star.

dressing like your sister, living like a tart. they don’t know what you’re doing. babe, it must be art. you’re a headache, in a suitcase, you’re a star

oh no, don’t be shy. you don’t have to go blind. hold me, thrill me, kiss me, kill me

you don’t know how you got here, you just know you want out. believing in yourself, almost as much as you doubt. you’re a big smash, you wear it like a rash, star.

oh no, don’t be shy. it takes a crowd to cry. hold me, thrill me, kiss me, kill me

they want you to be jesus, they’ll go down on one knee. but they want their money back, if you’re alive at thirty-three. and you’re turning tricks, with your crucifix, you’re a star

oh, child. of course you’re not shy. you don’t have to deny love. hold me, thrill me, kiss me, kill me

Terjemahan bebas:

Peluk Aku, Guncang Aku, Cium Aku, Bunuh Aku

U2

kamu tidak tahu bagaimana mendapatkannya. kamu hanya tahu apa yang sudah kamu punya.

ya, tuhan.. kamu sedang mencuri dari para pencuri dan kamu telah tertangkap. di lampu-depan mobil mewah, kamu seorang bintang

berpakaian seperti saudarimu, hidup seperti kue tart. mereka tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.

sayang.. itu pasti seni. kamu itu rasa pusing, dalam kopor. kamu seorang bintang.

oh, tidak.. jangan malu. kamu tidak harus buta-mata. peluk aku, guncang aku, cium aku, bunuh aku.

kamu tidak tahu bagaimana kamu sampai di sini. kamu hanya tahu kamu ingin keluar. meyakini dirimu, sekuat keraguanmu.

kamu adalah pukulan telak. kamu perlihatkan lebam bekas pukulan itu, bintang.

oh tidak.. janganlah malu. butuh kerumunan untuk berteriak. peluk aku, guncang aku, cium aku, bunuh aku

mereka ingin kamu menjadi yesus. mereka bersedia merendah dengan satu lutut. namun mereka mau uangnya kembali, jika kamu masih hidup di usia 33 tahun.

dan kamu jalankan trik, dengan penyalibanmu. kamu seorang bintang

oh, nak. tentunya kamu tidak malu. kamu tidak harus abaikan cinta. peluk aku, guncang aku, cium aku, bunuh aku

Depresi Selebritas

Lagu ini tentang depresi selebritas, para penggemar selalu ingin “yang terbaik”. Itu membuat selebritas stress dan mati.

Dalam aksi panggung teatrikalnya, U2 memakai mikrofon berbentuk stir mobil, serta kilasan potret selebritas yang mati muda: Kurt Cobain, Marilyn Monroe, Elvis Presley, Jimi Hendrix..

Mari mengulas sedikit lirik di atas.

Selebritas (bukan “selebritis”) lebih banyak mengelak ketika ditanya, bagaimana kisahnya ia mencapai popularitas. Mereka memberikan jawaban datar. “Saya nggak bisa sukses tanpa penggemar”, “Dukungan dari orang tua”, “Kerja keras saya akhirnya membuahkan hasil”, sampai “Saya nggak boleh lupa dengan semua ini”.

Mereka tidak berbicara mengenai bagaimana cara sukses tetapi tentang apa yang sudah ia dapat.

Kamu tidak tahu bagaimana mendapatkannya. Kamu hanya tahu apa yang sudah kamu punya.

Sepanjang waktu, lebih banyak orang melihat keanehan di balik penampilan selebritas. Mereka jenis manusia tersendiri, yang bebas dari umumnya manusia. Kita melihat “permukaan” berupa dandanan yang aneh. Mereka selalu memposisikan diri berada di atas panggung. Senyum, lambaian tangan, ucapan yang tertata, diangggap khas dirinya padahal itu penampilan hybrid (persilangan). Mereka memakai perancang pakaian, tubuh penuh brand produk, serta pesan-pesan kemanusiaan. Mereka kepanjangan dari mikropon dan pengeras suara.

Selebritas seperti kue tart. Permukaan lembut dan manis, namun dalamnya tetaplah roti biasa. Permukaan dengan bentuk bunga atau rumah, namun ketika sampai lidah, rasanya sama. Roti tart yang menyalakan api perayaan untuk ditiup sendiri, namun disaksikan orang banyak.

Berpakaian seperti saudarimu, hidup seperti kue tart. Mereka tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan.

Mereka berhasil menganggap sebagian besar yang dilakukan itu seni. Mereka punya ruang-bebas bernama panggung, kebebasan berekspresi, dan jadwal panjang. Hari-hari yang melelahkan. Sebritas disayang publik. Mereka butuh kerumunan untuk berteriak.

Kengerian terjadi pada selebritas ketika mereka merasa kehidupan pribadinya terampas oleh jadwal dan kontrak. Mereka tidak bisa lari. Tidak bisa sepenuhnya mencapai idealisme. Penggemar selalu menuntut.

Mereka ingin kamu menjadi Yesus. Mereka bersedia merendah dengan satu lutut. Namun mereka mau uangnya kembali, jika kamu masih hidup di usia 33 tahun. Dan kamu jalankan trik, dengan penyalibanmu. Kamu seorang bintang.

Selebritas mengubah jalan hidup seseorang.

Who are You? I am Batman!

Batman, sang pahlawan fiktif keluaran DC Comics, ternyata menjadi metafora selebritas.

Pernah menyimak seperti apa Batman?

Batman adalah “Tuan Bruce”, demikian orang memanggilnya. Bruce Wayne kecil, sangat takut kelelawar, karena trauma kematian orang-tuanya. Ia pewaris kekayaan bapaknya, yang sangat kaya.

Kekuatan super Batman adalah kaya.

Sebaliknya, di malam hari dia mengenakan kostum kelelawar untuk membasmi kejahatan. Split personality. Identitas-ganda. Mirip kaum selebritas yang berwajah-beda, antara panggung dan kenyataan, antara dia yang menarik bagi penggemar namun punya kehidupan lain yang mengejutkan penggemar.

Batman terjebak dalam kepahlawanan.

Semula, Batman ingin membersihkan Gotham dari korupsi (kerusakan) dan kejahatan. Niat baik yang dipicu oleh dendamnya kepada peristiwa pembunuhan orang tuanya.

Batman terkena sindrom “Kapten Ahab”. Jenis sindrom yang berasal dari cerita seorang pelaut yang kakinya dikunyah sejenis ikan hiu dan membuatnya cacat seumur hidup, sampai kemudian ia membunuh lebih banyak ikan yang ia temui, yang dianggapnya sama dengan yang pernah melukainya.

Batman menjalankan dendam dengan berguru samurai kepada Ras A Gul, yang ternyata eksekutor teroris internasional. Pekerjaannya membunuh pesaing, dengan mengatasnamakan kebenaran (menurut versinya).

Batman membelot. Setelahnya, mata Batman lebih terbuka. Apa yang ia pelajari, dipakainya untuk melawan gurunya.

Warisan “kerajaan teknologi” dari bapaknya, ia ubah untuk proyek “superhero”. Batman bukanlah Superman, alien yang manusiawi dan berkekuatan super sejak lahir. Namun hanya Batman yang bisa membunuh Superman. Batman bukanlah ilmuwan yang mengalami kecelakaan di laboratorium lalu berkekuatan super-. Batman adalah seseorang yang tahu bagaimana teknologi bisa berkembang.

Teknologi dan Jebakan Selebritas

Di tangan manusia yang tepat, sepertinya, “teknologi” bisa membuat seseorang menjadi “pahlawan”. Batman tidak sendirian. Bersama Alfred, ia menjadi tim andal, yang kelak ditiru oleh film action: seseorang (atau beberapa) menjaga markas lalu menjadi mata dan data, sementara yang lain menjadi eksekutor dan tokoh protagonis.

Dan pahlawan berarti popularitas, selebritas.

Publik bagi selebritas adalah pihak yang lemah, dibela, membutuhkan kehadiran dirinya, dan menunggu sosok yang menebar kebaikan.

Selebritas mengalami deprivasi. Ruang pribadinya akan dikoyak oleh berita, gayanya akan ditiru, dan menjadi sosok pujaan. Ia membutuhkan tujuan, “kostum”, dan musuh.

Kepahlawanan ternyata membutuhkan antagonis bernama Joker, Two Faces, Ivy Poison, Harvey Queen, dll. Pernyataan Joker sangat representatif, “Aku telah menamai rasa sakitku.. Batman”. Tanpa kejahatan, Batman tidak berarti.

Sejak awal, terbawa pendidikan Jepang yang ia ikuti, Batman memilih bertopeng. Batman tidak suka kalau orang melihatnya sebagai Bruce Wayne, anak kaya. Topeng ini menjadi batas identitas dan kejujuran.

Seperti kata Oscar Wilde, “Orang segan sebagai dirinya sendiri. Beri ia topeng, maka ia akan mengatakan kebenaran.“.

Batman membutuhkan anak asuh (yang sebagian menentangnya), sebagai bagian dari regenerasi, misalnya, barisan Titans (Robin, Raven, Koriandr, cs.), Wonder Girl. Seperti selebritas yang mengelola channel kebenaran, ternyata butuh tim dan biaya besar untuk menjadi populer.

Batman pula yang menghidupkan-kembali Superman, yang pernah ia bunuh, agar bergabung ke dalam Justice League. Batman semakin lama mengembangkan kekuatan super dengan upgrade teknologi: mobil cepat sekuat tank, motor beroda satu, jam pengulur kawat baja, baju tahan-peluru, dan komunikasi penyadap.

Selebritas semacam ini, bukan hak eksklusif milyarder. Setiap hari, penemuan terjadi, teknologi semakin “amazing”.

Teknologi memiliki daya pikat, bernama kecepatan (sekali.klik, ribuan orang membaca), anonimitas (sama seperti Batman yang mengenakan topeng) untuk lebih bebas melawan orang-orang yang kita anggap tidak sejalan dengan “kebenaran”. Akun hantu, membuat orang lebih berani mengatakan kebenaran.

Media sosial bisa membuat orang menjadi Batman. Bruce Wayne, berbeda dari Batman bertopeng. Batman, mengalami split personality (kepribadian-terbelah) dan memiliki panggung bernama kota yang bermasalah, publik yang bermasalah. Sama halnya, seseorang bisa memakai identitas dan “model” yang berbeda ketika memasuki ruang bernama media sosial.

Media Sosial Bukan Ruang Publik

Yang mengenaskan, harapan orang bahwa media sosial bisa menjadi pemandangan yang mewakili suara orang banyak, sering kandas. Yang mengherankan, kalau ada masyarakat di dunia yang nyata (bukan di masyarakat Gotham di film Batman) yang selalu kehabisan pahlawan, padahal sudah ada pahlawan kesiangan, pahlawan berkepentingan, pahlawan bertopeng, pahlawan dadakan, dll. Tentu komunikasi dan fungsi sosial di masyarakat ini macet.

Ketika media sosial menjadi arena pertarungan politik, branding image (citraan merk), dan “perjuangan”, maka media sosial tidak lagi menjadi ruang publik.

Melainkan, sebuah pasar. Tempat transaksi “kebaikan”. Atau medan pertempuran ideologi. Tempat di mana orang menampilkan yang keren namun tidak terjadi dialog berarti. Tempat orang tidak bisa “tidak berbuat apa-apa”

Media sosial berubah menjadi Gotham. Media sosial bukan lagi taman tempat orang melamun, tempat orang rehat sebentar dari pekerjaan untuk mencari inspirasi, melainkan tempat di mana lamunanmu terpecahkan karena orang menjajakan “kebenaran”.
Seperti Gotham, ini tempat Batman dan musuh-musuhnya mengenakan topeng kepahlawanan yang sama, dengan kostum yang dikenang para penonton, yang bersorak, memuja, atau menjadi mayoritas-diam.

Rorty berpendapat, filsafat sebelumnya sibuk mencari kebenaran metafisis mutlak untuk menyangkal kontingensi manusia. Meningkatkan kepekaan terhadap kontingensi agar terhindar dari dehumanisasi dan pembekuan atau stagnasi budaya, itulah yang paling penting dilakukan.

“..karena kebenaran adalah milik dari kalimat-kalimat, dan karena kalimat bergantung keberadaannya pada kata-kata, dan karena kata-kata adalah buatan manusia, maka begitu pula dengan kebenaran.”. Kebenaran selalu dinyatakan (dalam kata dan kalimat) yang relative.

Mungkin Rorty sedang memberi sentakan di sini, “Kita mencoba untuk sampai pada titik di mana kita tidak lagi memuja apapun, di mana kita tidak memperlakukan apapun sebagai sesuatu yang suci, di mana kita perlakukan segala sesuatu – bahasa kita, kesadaran kita, komunitas kita sebagai hasil dari waktu dan kebetulan.”

Dan pada kenyataannya, masihkah terjadi ruang publik di sekitar kita? Ruang di mana terjadi diskusi, perbincangan diskursif, tanpa embel-embel lembaga, tanpa transaksi, dan terbebas dari pamflet. Tanpa selebritas dan kepahlawanan Batman dan musuh-musuhnya.

Sungguh, kita merindukan masyarakat tanpa pemujaan. Dan perubahan tidak harus dengan cara menunggu pertolongan manusia bertopeng yang kaya raya sejenis Batman.

Seperti takdir selebritas di lagu tadi. Mereka mati. Dari pemujaan, menjadi pengorbanan.

Kita hanya perlu mengubah teknologi menjadi lebih bermakna bagi semua orang. Itulah kekuatan super yang kita punya, di tangan masing-masing. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.