in

Stoicisme, Merusak Mental

.. karena emosi manusia tidak bisa ditangani dengan “positive thinking” dan merelakan diri tertindas.

Stoicisme tidak bisa tangani emosi manusia. Belum lihat masalah, mereka ingin reaksi manusia sama, menutupi diri mereka yang sebenarnya. (Credit: rawpixel)

Setelah menulis “Sekte Positif-Palsu” beberapa kawan bertanya, benarkah sekte ini ada di sekitar kita. Sudah, bahkan memasuki group WhatsApp, Beranda Facebook. Mereka yang punya jargon “positive thinking” tetapi tidak punya prioritas dalam menyelesaikan masalah.

Selain itu, saya menegaskan tidak suka Stoicisme, karena berasal dari budaya perbudakan. Saya jelaskan ini dalam “Stoicism, Perbudakan Romawi Kuno, dan Sikap Intelektual“.

Salah satu prinsip yang mereka pegang, tentang cara mereka bereaksi ketika masalah datang. Sangat palsu.

Cover buku Epictetus, the Art of Living, (Credit: Amazon)

Epictetus, dalam buku the Art of Living, yang sering dikutip dalam langkah-langkah “healing”, mengatakan, “Hal-hal itu sendiri tidak menyakiti atau menghalangi kita. Orang lain juga tidak. Bagaimana cara kita memandang hal-hal ini adalah masalah lain. Sikap dan reaksi kitalah yang membuat kita mengalami kesulitan.”. Seringnya, tidak demikian.

Saya setuju, kalau pikiran (cara kita memandang sesuatu) adalah perangkat sekaligus metode dalam menyunting realitas. Misalnya, ketika stres hadapi pekerjaan, orang memikirkan piknik. Saya percaya sebaliknya, “Piknik Tidak Bisa Segarkan Pikiranmu“. Piknik bukan pelarian dari masalah.

Dalam langkah “healing” kita diminta untuk menerima apa yang telah terjadi. Relakan, terimalah itu, dan biarkan dirimu “mengalir”. Tidak dalam semua kasus.

Kalau ada orang lain merampas hak saya, misalnya terkait properti atau pembentukan bakat, saya akan tentang. Melakukan penerimaan dan merelakan, justru akan menjadi kerusakan beruntun. Berbahaya secara sosial.

Pukulan, serangan, pengabaian, trauma, perampasan hak, kerusakan di depan mata, adalah hal-hal yang benar-benar menyakitkan. Bersikap negatif terhadap pengalaman buruk itu sangat rasional.

Berteriak “sakit”, terkejut, adalah reaksi tubuh (secara fisik), bagian dari cara bertahan-hidup yang perlu kita tangani.

Apa yang terjadi jika saya diam?

Agama akan lebih marah kepada kita, “Mengapa kamu biarkan ketidakadilan terjadi?”.

Membunuh bakat kita sendiri, “Mengapa kamu tidak kembangkan bakatmu, hanya karena ditekan orang lain?”.

Kamu tidak bisa beradaptasi dan kelak keturunanmu (“meneruskan keturunan” adalah bagian dari “bertahan-hidup”) akan protes, “Mengapa kamu berperan dalam menempatkan saya di keadaan yang tidak nyaman ini?”.

Diam kamu, penerimaan kamu, akan menjadi bagian dari pasifis-minimalis yang bisa diikuti orang lain, dan penindas akan tertawa, “Mereka diam saja, mari kita lanjutkan.”.

 

“Kendalikan emosimu?” Baiklah. Sebelumnya, mari kita bicara, apa itu “emosi”.

Kalau kamu mengerti apa itu “emosi”, kamu bisa terjemahkan emosi menjadi adegan visual.

Menerjemahkan Emosi Menjadi Adegan Visual

Merriam Webster mendefinisikan “emosi”: “reaksi mental yang sadar (seperti marah atau takut), secara subyektif dialami sebagai perasaan yang kuat, biasanya mengarah ke obyek tertentu, sejalanb dengan perubahan fisiologis dan perilaku pada tubuh; keadaan perasaan; aspek afektif dari kesadaran.”

Emosi adalah reaksi yang dialami manusia dalam menanggapi peristiwa atau situasi. Dalam Discovering Psychology oleh Don Hockenbury dan Sandra E. Hockenbury menunjukkan bahwa emosi itu keadaan psikologis yang kompleks yang melibatkan tiga komponen berbeda: pengalaman subjektif, respons fisiologis, dan respons perilaku atau ekspresif.

Reaksi dan keadaan yang bernama “emosi” tentu tidak terjadi dengan sendirinya. Emosi merupakan bentukan, pengkondisian, dan berasal dari “aksi”.

Orang mendapatkan pengkondisian, berupa pengalaman subyektif mereka, termasuk informasi, kemudian jadilah pengetahuan ini sebagai “reaksi default” dalam menanggapi dan mengambil keputusan.

Tidak ada emosi yang terbentuk dengan sendirinya, itu sebabnya bisa diubah. Apa yang kita sebut perasaan terdalam, emosi, keyakinan, semua terbentuk dari jaringan informasi. Input buruk atau kesalahan memproses, akan membuatnya buruk.

Pengalaman bisa mengubah pola emosi seseorang.

Tanyakan kepada orang-orang beragama, tentang keyakinan mereka. Maka mereka hanya akan tunjukkan apa yang mereka tahu, bukan apa yang mereka percaya. Ketika pengetahuan dan pengalaman mereka berubah, keyakinan mereka bisa berubah (menjadi tetap, lebih kuat, atau melemah).

Atau tanyakan kepada seorang ibu yang semula lembut, selalu mengalah, dan menurut pada awal pernikahan, tetapi kemudian ia menjadi keras, berani melawan masyarakat demi masa depan anaknya, dan keras dalam prinsip setelah ia mengalami perceraian akibat kejadian buruk. Informasi dan cara kita memproses itulah yang menjadi “reaksi mental” dan “keadaan perasaan” yang kita sebut “emosi”.

Stoicisme memperlakukan hal-hal negatif secara sama. Seolah-olah diri kita bisa menentukan “yang terbaik”, bisa memberikan reaksi paling tepat, dengan selalu positive thinking, merelakan, menerima kenyataan, dst.

Stoicisme tidak bicara tentang kejamnya hal-hal yang tidak nampak. Mereka tidak tahu kalau platform dan perusahaan iklan sering memanipulasi informasi, mereka tidak bicara tentang narasi “the Big Brothers” yang diimajinasikan George Orwell di novel 1984; atau bagaimana informasi “sensitif” dinetralisasi dengan informasi yang berkualitas rendah, seperti yang dituliskan Aldous Huxley di Brave New World — 2 fiksi yang sekarang sama-sama dipakai perusahaan komersial, selebritas, dan tiran untuk mengendalikan massa.

Ketika anak kecil kesakitan dan membalas perlakuan kasar, itu alami dan sangat manusiawi.

Bisakah Stoicisme kita skala di tingkat terkecil?

Apakah mereka akan biarkan anak kecil yang menjadi korban bully itu dengan nasehat, “Relakan, terimalah dirimu yang mereka bully biar nanti kamu menjadi anak pintar.”. Orang tua yang melihat anaknya disakiti, tidak akan mengatakan bahwa anaknya diperbudak emosi karena menuruti keinginan membalas. Mereka pasti sayang terhadap anaknya.

“Kebebasan”, kata Stoicisme adalah “kendali atas emosi kamu”. Ini sarana mereka, yang menutupi cerita sejarah Stoicisme, yang dikembangkan dari masyarakat yang membenarkan perbudakan, Romawi.

Stoicisme sejak awal mengakui strata sosial, mereka bilang, “Terimalah posisimu di dunia. Salah jika kamu marah.”. Nasehat macam ini, cocok untuk orang yang tidak bahagia dan selalu dukung status quo.

*) Arti “status quo” bukanlah pemerintahan sah yang sedang berkuasa.

“Status quo”, kata kamus Oxford dan Webster, artinya “the existing state of affairs, especially regarding social or political issues.”. Keadaan yang ada, terutama mengenai masalah sosial atau politik”.

Jika sejak kecil kamu tidak terbiasa menyampaikan pendapat dengan bebas, maka status quo yang terjadi padamu adalah “pembungkaman berpendapat”. Jika sejak semester 1 kamu jarang dapat akses dan penjelasan tentang literatur yang bagus untuk studi kamu, maka status quo kamu adalah “zaman kegelapan intelektual”.

Stoicisme menawarkan panduan hidup untuk membenarkan status quo, dalam segala ketidaksetaraan.

Stoicisme itu ideologi memalukan bagi kemanusiaan. Saya merasa berhadapan dengan manusia lain, ketika manusia itu bisa marah kepada saya, mengkritik, memprotes keadaan, dan sesekali melanggar peraturan. Saya merasa di rumah, dan aman, justru ketika melihat kakak saya memaklumi kebiasaan saya tidak mengisi air minum di kulkas. Dia merasa belum terlambat belajar memakai aplikasi desain, dan memarahi cara saya mengajar terlalu cepat. Tetapi itulah sisi manusiawi semua orang, berbeda-beda.

Emosi itu sesuatu yang menyenangkan, bisa membentuk emosi, jika kita tidak membunuhnya begitu saja. Stoicisme meredakan emosi dengan cara hampir sama, bahkan mungkin mereka tidak tahu dari apa emosi seseorang terbangun.

Betapa susahnya mengajak orang berkarya, jika secara “emosional” mereka sudah merasa tidak bisa, pikirannya penuh “resistance”, namun kita bisa ubah ini dengan cara refleksi cara mereka melihat diri-sendiri. Misalnya, dengan mengatakan, bahwa menulis itu mudah, berikan jalan, dan biarkan mereka tetap menjadi dirinya sendiri. Charles Bukowski, Ernest Hemingway, Dostoevsky, tetap menjadi sosok yang emosional, “pemberontak”, dan membiarkan kebaikan sekaligus kebangsatan di dalam diri mereka tersadari sepenuhnya.

Batas diri kita, hanyalah kulit tipis, yang selalu kita bawa. Tepatnya, itu jaringan otot, yang kita sebut “kulit dan daging”. Batas diri kita, kadang hanya kata “Tidak!” untuk mencapai sinyal di tengah bisingnya informasi, namun bukan dengan cara penyamaan reaksi. Batas diri kita, mungkin hanya “emosi” yang ada di dalam diri kita, “pikiran” kita, di mana kita bisa dan boleh memiliki reaksi berbeda atas apa yang sedang “menyerang” kita.

Bahkan, sebagai manusia, kita bisa ubah itu semau kita. Bukan dengan mengikuti “penyamaan reaksi”, dan mengakui keharusan adanya “hirarki sosial”. Dengan cara seperti itulah kita lebih bisa merasa menjadi manusia.

Bukan dengan Stoicisme. [dm]

Day Milovich

Webmaster, artworker, penulis, konsultan media, tinggal di Rembang dan Semarang.