in

Bahaya Pujian di Media Sosial

Hanya rangkaian kata-kata, bukan tindakan. Kadang berarti sebaliknya.

(Credit: Unsplash)

“Jangan berkeliling memberi tahu semua orang apa yang telah kamu lakukan dan kamu capai. Biarkan mereka mencari tahu sendiri.”

Pujian sering berasal dari ketidaktahuan pemuji, atau tepatnya: pujian berdasarkan perspektif amatir, itulah yang sangat berbahaya. Apalagi sampai tersebar. Saya sering mendengar pujian seorang kawan, kepada orang lain, dia bilang, “Hebat sekali, dia duduk di rumah tetapi uang mengalir.”. Sementara saya tahu sendiri, dia dapat uang dari berjudi online. Pemuji yang tidak tahu apa yang ia puji, sering menantang, “Coba, apa kamu bisa melakukan seperti dia?”.

Professional memiliki ukuran sendiri. Dia mengabaikan pujian. Amatir mengukur diri dan mencari pengakuan dari orang lain.

Faktanya, kamu tidak perlu membuktikan apapun. Yang perlu kamu buktikan, bagaimana menjadi lebih baik daripada diri kamu yang kemarin. Bukan membandingkan hidupmu dengan hidup orang lain.

Pujian hanyalah rangkaian kata-kata. Tidak jarang, ini melemahkan proses. “Jarang ada, orang yang seperti kamu, di usia sekarang sudah bisa begini..”. Seolah-olah kamu sudah “sampai” atau mencapai sesuatu. Yang terpenting, sebenarnya memperhatikan “progress” (kemajuan), bukan membayangkan hasil.

Ambil nafas. Apa yang dikatakan orang adalah cerminan pikiran dan sikap mereka sendiri, bukan kamu yang sesungguhnya.

Tubuh manusia memiliki mode “fight-or-flight“. Bertarung atau terbang (berlalu). Pujian hanyalah hambatan dan belum tentu positif. Lanjutkan aktivitas lain, jangan pedulikan pujian dari orang yang tidak tahu apa yang sebenarnya kamu lakukan.

Tidak jarang, pujian berarti sebaliknya. Misalnya, “Kamu tidak kuliah di informatika, tetapi bisa pemrograman..”. Sebenarnya, itu negativitas. Dia menganggap bahwa faktor keberuntungan terlalu berperan dalam kemampuan yang sekarang kamu capai. Biasanya, saya menjawab pujian seperti ini, dengan pertanyaan, “Apakah kamu tahu, bagaimana beratnya saya belajar?”.

Ketika orang mengucapkan terima kasih, saya tidak merasa perlu mengatakan, “Sama-sama..”.

Kamu akan terjebak pada pujian paling berbahaya: memuji diri sendiri. Merasa sudah melakukan kebaikan.

Sementara itu, jika kita melihat Beranda media sosial, apa yang ada di sana? “Kamu cantik banget..”. “Waow, keren sekali..”. “Luar biasa..”. Testimoni. Like. Review bintang lima. Tepuk tangan. Kata-kata.

Tindakan berbicara lebih keras daripada kata-kata. [dm]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.