in

Implikasi Bahasa Inggris Kekinian bagi Guru

Bahasa Inggris ‘hari ini’ berbeda dengan sebelumnya, dalam hal bentuk (form) dan penggunaan (usage).

Peningkatan mutu dan output pembelajaran Bahasa Inggris dalam struktur kurikulum pendidikan nasional masih terus dilakukan. Salah satunya yaitu dengan melakukan pengembangan profesi bekelanjutan melalui Program Guru Penggerak oleh Kemendikbud. Sasaran dari program ini yaitu mengembangkan kompetensi pedagogi guru untuk lebih inklusif dalam metode mengajar dan berinteraksi dengan siswa. Perubahan metode dan pola interaksi ini didorong oleh perubahan mendasar tentang subject matter yang dipelajari.

Bahasa Inggris saat ini telah menjadi kebutuhan dan gaya hidup masyarakat modern. Tidak sulit menemukan dalam ruang-ruang publik informasi dan narasi dalam Bahasa Inggris. Tampilan berbahasa inggris tidak lagi hanya ditemukan dalam buku teks pelajaran sekolah, merata di semua diskursus komunitas kita seperti iklan, berita, label produk, buku manual, instruksi gawai, film, dan lanskap linguistik. Terlebih lagi konten-konten media sosial sudah menggunakan Bahasa Inggris seolah-olah bahwa masyarakat berbahasa telah menerima Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah bahasa daerah.

Generasi kekinian juga telah menunjukkan fenomena bahwa Bahasa Inggris menjadi gaya hidup mereka. Bahasa ‘Jaksel’ adalah contoh codemeshing (campur dan alih kode) yang menunjukkan status Bahasa Inggris menjadi media interaksi yang lumrah dan biasa. Penggunaan internet sebagai media sumber belajar juga telah menjadi aktivitas rutin. Siswa berselancar dalam dunia digital melalui website, aplikasi, dalam tampilan Bahasa Inggris nampaknya menjadi penanda bahwa Bahasa Inggris ‘hari ini’ berbeda dengan sebelumnya baik secara bentuk (form) dan penggunaan (usage).

Pertemuan dengan penutur Bahasa Inggris (native speaker) sebagai bagian dari proses mengasah dan menjelajah kemampuan komunikatif juga tidak sulit di era sekarang. Kehidupan dalam ganggaman piranti teknologi media sosial tanpa batas telah memberikan ‘kelas belajar’ yang luas untuk bertemu dengan learning partner sebagai mitra belajar. Konsepsi native-speaker juga telah berubah bahwasanya penutur asli tidak harus berasal dari negara Barat. Posisi Bahasa Inggris sebagai Bahasa Internasional dan lingua franca saat ini menghasilkan kemampuan berbahasa Inggris hampir merata tidak hanya dunia barat namun juga Afrika dan Asia. Dalam konteks belajar dan interaksi kekinian, kemajuan ini adalah sebuah celah baik untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris.

Dalam konteks pendidikan Bahasa asing (terutama Bahasa Inggris) di Indonesia, guru harus merubah cara pandang (perspective) terhadap eksistensi Bahasa Inggris yang berimplikasi kepada metode dan strategi mengajar. Hasil akhir dari proses pembelajaran tidak lagi menjadikan penguasaan tata bahasa (grammar) dan penghafalan kata-kata (vocabulary) menjadi satu-satunya instrumen evaluasi hasil proses belajar Bahasa asing. Bahasa Inggris harus dijadikan sebagai media berinteraksi dan berkolaborasi dalam berbagai ragam mode berbahasa untuk meningkatkan diri baik akademik maupun sosial.

Paradigma baru kurikulum merdeka dalam narasi pendidikan nasional kita sekarang ini seharusnya menjadi momentum untuk lebih membelajarkan Bahasa Inggris pada tataran konteks, tidak lagi terkunci dan terbatas dalam teks-teks yang sangat kaku dan terbatas. Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran Bahasa untuk menemukan sendiri kompetensi pada skenario nyata dan kontekstual. Melalui pendekatan ini siswa akan lebih siap dan percaya diri ketika masuk dalam zona interaksi penggunaan Bahasa karena sudah memiliki ensiklopedia pengalaman langsung dan kepercayaan diri sebagai akibat dari pembiasaan interaksi. Pembelajaran Bahasa Inggris sering tidak berhasil bukan karena daya ingat dan pemahaman namun karena gagal dalam penggunaan karena malu, tidak ada pengalaman, kurang percaya diri, dan takut salah.

Komponen kompetensi yang menjadi ukuran keberhasilan kecakapan berbahasa tidak hanya sebatas kepada berbicara (speaking), reading (membaca), menyimak (listening), dan menulis (writing). Guru harus mampu memanfaatkan sumber-sumber belajar yang sesuai dengan perkembangan dan kehidupan siswa kekinian. Paradigma terhadap Bahasa Inggris juga harus diperluas dari hanya sekedar diukur dari kemampuan gramatikal dan perbendaharaan kata tapi juga unsur-unsur semiotik lain di mana Bahasa Inggris juga digunakan.

Perubahan mindset terhadap hal ini penting agar guru sebagai fasilitator dan penggerak belajar bisa membuat siswa lebih otonom dan self-directed untuk mengeksplorasi sumber-sumber belajar yang lebih kontekstual dengan dirinya. Dengan memiliki mindset yang lebih update terhadap subject matter Bahasa Inggris guru akan lebih kreatif dalam memberikan instruksi klasikal dan pedagogi yang efektif dan efisien. Implikasi ini harus direvitalisasi juga ke dalam kebijakan dan platform program pengembangan profesi berkelanjutan bagi guru oleh pemangku kepentingan agar hasil dari program ini dapat menjawab tantangan zaman dan peradaban manusia, terutama dunia pengajaran Bahasa Inggris.

Edi Ramawijaya Putra. Lulusan Program Doktor Linguistik Terapan Unika Atma Jaya Jakarta, saat ini bekerja sebagai dosen Tetap di STABN Sriwijaya, Tangerang.

Edi Ramawijaya